Seni Mondial Tanpa Pamrih: Dalam Tinjauan Immanuel Kant

Senin, 19 Desember 2022
Immanuel Kant

Kedua, kondisi lahiriah ruang dan waktu yang masih absurd sebelum kita melihatnya melalui pancaindra yang mendorong pengalaman. Ruang dan waktu ini merupakan cara pandang, bukan atribut dari dunia fisik sehingga berposisi sebagai materi pengetahuan. Immanuel Kant mendudukan kemampuan dan batas akal sebagai upaya melampaui cara pandang rasionalisme dan empirisime.

Lebih jauh Kant menerangkan bahwa pengetahuan alam dan moralitas bersifat apriori yakni hukum yang melekat atau sudah ada sebelum pengalaman indrawi, sementara pengalaman atas objek bersifat aposteriori yang bagi Kant harus bisa difinalkan sebagai kebanaran tetap dan umum. Dengan nada optimistis Kant mengejawantahkan preposisi yang bersifat sintesis apriori, yakni preposisi yang nilainya benar tanpa perlu adanya pembuktian, sebagai tandingan sintesis aposteriori dokriner yang dianut paham empirisisme.

Revolusi Kant mendamaikan rasionalisme dan empirisime ditempuh dengan cara metodelogis melalui argument transcendental. Dengan cukup esklusif Kant mengajukan tesis yang bernada sintesis apriori. Argumen yang menurut kacamata penulis, tidak tersangkalkan adalah:

“Ada realitas yang eksis di dalam waktu dan tempat di luar diriku, yang tidak mungkin dapat dijelaskan secara apriori maupun aposteriori, karena bersifat independent dan di luar pengalaman manusia”.

Kant lalu melancarkan kritiknya atas rasionalitas dan empirisisme, dengan membagi dunia menjadi dua destinasi: nomena yang hadir secara independent (das ding an sich) sesuatu yang tidak dapat diakses dan diketahui oleh manusia karena tidak dapat dipersepikan oleh otak. Sementara fenomena (persepsi) merupakan sesuatu hal yang dapat diketahui, sehingga kita tidak memiliki pengetahuan tentang sesuatu hal itu sebagai apa adanya melainkan sesuai (kacamata) kita. Dalam banyak kesempatan Kant menunjukkan reduksi, corak pemikir-pemikir sebelumnya melalui kritik yang tertuang pada karya-karyanya.

Sebagaimana nama filsafatnya, 3 karya besar Immanuel Kant yang melegitimasi sikap kritisnya tertuang dalam: kritik der reinen Vernunft, kritik der praktischen Vernunft, dan kritik der Urteilskraft. Upaya Kant menyudahi ketegangan penganut rasionalis dan empirisisme, dengan cara menjelaskan bahwa pengenalan manusia didorong atas dasar sintesis, yakni persetubuhan unsur-unsur apriori dengan unsur-unsur aposteriori. Pada gilirannya Kant hendak menggambarkan bahwa sekurangnya ada 3 pengenalan manusia di antaranya: pengenalan murni, pengenalan tidak murni, dan pengenalan yang tidak pasti.

Bantu Kami untuk Berkembang

Mari kita tumbuh bersama! Donasi Anda membantu kami menghadirkan konten yang lebih baik dan berkelanjutan. Scan QRIS untuk berdonasi sekarang!


Related posts