Bagi Immanuel Kant syarat dasar dari pengetahuan haruslah bersumber pada penggabungan dua kanal: pengalaman indrawi dan penyadaran akal, sehingga pengetahuan ideal semestinya bersifat umum, pasti, sekaligus memunculkan pengetahuan-pengetahuan baru. Antroposentris dewasa ini sebagaimana dialektika Hegel yang diterangkan sebelumnya, halal saja mendekonstruksi tajuk fenomena dalam kerangka berfikir Kant, apalagi mengingat memang bernafaskan subjektifitas. Pengetahuan manusia dalam tradisi modernisme sangat membuka bipolaritas antara rasionalitas dan empirisime sebagai suatu refleksi, di mana kedua kutub dapat saja dihadapkan pada persoalan-persoalan situasional, kontekstual, asal tanpa kepentingan. Pada hakikatnya polarisasi di antara keduanya, dapat dijadikan sintesis yang semestinya dapat mengantarkan pada tujuan, yakni pengetahuan yang ideal demi kemaslahatan seluruh umat manusia.
- Immanuel Kant Dan Pandangan Estetikanya
Apabila kita teliti lebih lanjut, hampir disemua ruang kajian Immanuel Kant berpangkal dengan dasar bangunan inteletualitas yang sama, pembongkaran kesenjangan antara rasionalisme dan empirisime. Atas prejudice itu penulis berkeyakinan, bahwa teori intertekstualitas yang pernah dikumandangkan Julia Kristeva memang tidak dapat terpatahkan disatu sisi, dan tidak terbantahkan pada sisi yang lain. Hal ini pada hakikatnya memiliki substansi yang sama dengan pendasaran das ding an sich, karena objek di luar dirinya pada gilirannya menjadi fenomena dalam pandangannya. Nomena nyaris mustahil oleh karena objek-objek di luar dirinya, hampir sepenuhnya berlabuh pada fenomena-fenomena yang dihakimi subjek secara vulgar, sesuai dengan pengalaman si penafsir.
Analisa Kant atas filsafat, pembongkaran syarat-syarat pengetahuan, teori deontological etic, penajaman moral, sampai pada penggalian estetika secara eksplisit terserabut pada akar yang sama, yakni pada wilayah subjektifitas dan objektivitas. Dalam dunia filsafat Immanuel Kant digolongkan sebagai salah seorang idealisme, yang hidup diantara ketegangan tradisi rasionalisme dan empirisime. Oleh karenanya tidak mengherankan dalam kajian khusus perkembangan sejarah estetika, Kant masuk kedalam tataran beberapa tokoh estikawan periode abad pencerahan. Abad pencerahan muncul di Eropa, sekitar tahun 1600 segera setelah berakhirnya zaman Renaissance. Sesuai dengan makna harfiahnya, abad pencerahan ditandai dengan tren manusia Eropa zaman itu yang mulai mempertanyakan kebenaran melalui akal budi atau logika.
Pola pergeseran zaman lebih dilihat dari bentuk pemujaan dan pendewaan akal, dari zaman yang sebelumnya yang menyandarkan indokrinasi dan mitisisme sebagai barometer kebenaran. Pencerahan disebut juga era rasionalisme, sehingga telaah mengenai teori estetika tidak dapat menyembunyikan pengaruh cara berpikir rasionalistik secara jernih. Para pemikir abad ini, terutama Descarte merefleksikan Kembali kebenaran alam semesta melalui logika murni. Sehingga mengalami reifikasi dalam memeriksa ranah-ranah yang bersentuhan dengan perasaan seperti halnya kesenian, karena tidak dapat ditelanjangkan dengan fulgar secara tegas dan jelas. Bagi banyak filsuf pencerahan kesenian dipandang sebagai suatu gejala yang clear and confused, yaitu suatu bentuk riil dan terindra namun tidak dapat diterangkan secara ketat dan terperinci.
Menyadur pendapat Sumardjo yang cukup nyentrik, bahwa beberapa ciri pemikir pencerahan menginterpretasikan seni sebagai berikut: Pertama, keindahan dapat digolongkan sebagai pengalaman sensorik dan intelektual dalam daya kemampuan manusia yang natural. Lain pada itu keindahan dapat juga dimasukan dalam kerangka empiris dan transenden, objek diluar dirinya yang dipahami secara particular. Kedua, para filosof yang pada gilirannya dapat dinamai sebagai estikawan, mulai tertarik dengan relasi dunia objektif (karya budaya manusia) dan kodrat alami manusia. Ketiga, selera mengejawantahkan kritik melalui keotonoman manusia sebagai subjek, dalam memberikan penghakiman atas keindahan objek (benda seni).
Keempat, mulai memudarnya penilaian seni atas dasar spekulatif sebagaimana warisan dan ciri dari zaman-zaman sebelumnya. Transformasi paradigma atas dasar spekulatif dalam menginterpretasikan seni, mendorong kemunculan berbagai konsep dan teori seni. Kelima, implisit tersebarnya ajaran mengenai kemampuan dasar manusia yang bersifat kodrati (faculty). Secara esensial ajaran faculty ini memahami gradasi tingkatan-tingkatan manusia, di antaranya kemampuan sensorik (pengindraan) yang menjadi domain sublime dalam melihat seni. Bila dilihat dari pangkal pembentuknya, estetika pada abad pencerahan ini didominasi oleh dua kutub tradisi besar, kaum empiris Inggris dan kaum konstinental Jerman. Dua corak tradisi itulah yang kemudian dikombinasikan oleh Immanuel Kant, dalam merumuskan penilaian terkait dengan nilai-nilai estetikanya.











