Cerpen: Perihal-Perihal Pertemuan dan Pertentangan

Writer: - Minggu, 1 Februari 2026
(Foto: Nano Banana)

Majapahit, 1331 Masehi

Entah bagaimana mulanya, hari itu wajah sang ratu mendadak lain. Pemikirannya pun lain. Tiba-tiba ia berujar untuk mengumpulkan seluruh bawahannya ke dalam satu tempat yang sama. Ini bukan sekadar bawahan. Bukan para prajurit dan atau emban mandi. Ini perihal semua penguasa yang menduduki daerah kekuasaan Majapahit. Huh, alangkah banyaknya.

Read More

Sedang wajah penguasa ketiga Majapahit itu masih lah lain. Entah apa yang tengah ia pikirkan? Mungkinkah sebuah desas-desus telah sampai di telinganya? Hingga membikin sang ratu pontang-panting mencari biang masalah.

*

Hari-H yang dijanjikan,

Pertemuan ini seharusnya singkat dan rahasia. Dengan sang ratu yang memimpin pertemuan secara tegas–sebagaimana telah diajarkan oleh ibunya dan bagaimana ia melihat Gajah Mada berlaku–

Siang itu, tanpa banyak bunyi, ia pandangi satu-satu wajah penguasa yang datang. Betul-betul satu per satu. Hingga kernyitan muncul di keningnya. Membikin detak tak beraturan di jantung para penguasa daerah.

Benar saja, kali ini suaranya terdengar, “Di mana Sadeng dan Keta? Apa undanganku tak sampai kepada keduanya?”

Hening. Hanya ada hening yang berlaku. Sedang di dalam kepala masing-masing, mereka bersepakat bahwa Sadeng dan Keta telah memulai khianat.

Sang ratu geram. Pikirannya kini betul-betul terjadi. Bagaimana pun bila mengingat sejarah Majapahit yang kelam, maka jalan ini suatu hari pasti akan berlaku.

“Apa ini karena Nambi?” seru sang ratu di dalam kepalanya yang bising. Sedang Gajah Mada yang dari tadi duduk-duduk mengamati, hanya diam-diam saja.

Ratu mengerlingkan mata ke arah Gajah Mada. Gajah Mada tanggap. Lekas ia menghampiri kudanya, dan menungganginya dengan bar-bar.

Sedang dari jauh, Ra Kembar yang hendak berniat menjadi pejabat pengganti, berinisiatif sendiri. Dalam diam, ia kerahkan pasukannya menuju Sadeng. Mendahului Gajah Mada yang hanya ingin bernegosiasi.

“Aku lah yang akan menjadi Mahapati. Ha-ha-ha!” Dalam riuh suara kaki-kaki kuda yang dipaksa berlari, Ra Kembar mengkhayalkan kedudukannya.

Ia–Ra Kembar–menginginkan pertemuan dalam pertempuran yang bodoh. Sedang Gajah Mada menganggap remeh ketidakhadiran Sadeng dan Keta. Membikin bising di kepala sang ratu kian menjadi-jadi.

*

Pada pertempuran dan pertemuan, Sadeng 1331

Katanya, ini perkara Nambi yang harus mati, usai susah payah mendukung berdirinya kerajaan Majapahit. Seakan-akan, kerajaan lupa akan jasanya. Hingga pemberontakan ialah jalan yang sungguh-sungguh benar.

Hari itu, Ra Kembar tiba di Sadeng dengan heboh. Sedang di seberangnya, berdiri Gajah Mada yang menatapnya dengan ternganga.

Keduanya–Ra Kembar dan Gajah Mada–dipertemukan kepada kepala pemberontak. Ketiganya sama-sama bersikukuh dengan pilihan masing-masing. Serupa Nambi yang kukuh hendak menjumpai ajal yang terus-terusan memanggil-manggil namanya dalam kebencian yang kian membeludak.

Ketiganya beradu. Nyala pertempuran dari api pertemuan  menjadi-jadi. Ketiganya akan kekal dalam kematian yang teramat bodoh.

Sedang di sana, di pemukimannya yang nyaman, sang ratu resah. Ia tak menyangka Ra Kembar akan bersikap semaunya. Membikin kesal berkepanjangan, lalu sesal akan berdatangan. Sebagaimana Nambi yang tidak seharusnya mati dalam kesia-siaan.

Bila pertempuran diteruskan, maka akan menjadi contoh bagi penguasa lainnya untuk memberontak. “Ini saatnya, kutunjukkan taringku!”

“Siapkan dua ratus pasukan berkuda di belakangku. Aku lah panglima perangnya.

*

Pertempuran, pertemuan, dan perempuan, Sadeng 1331

Kata siapa, seorang ratu hanyalah pelengkap rajanya? Menjadi pajangan untuk meresmikan ini dan itu saja?

Tengoklah pada sang ratu ini, dengan napas yang terus memburu, ia menuju ke medan pertempuran. Akan ia pertemukan ketegasan di sana–yang kembali menjaga Majapahit dari situasi tak menguntungkan, pertempuran ini misalnya–

“Hentikaaan!” lantang betul suaranya. Membikin kuda-kuda meringkik ketakutan, daun-daun berhenti berayun-ayun dari rantingnya, sedang Ra Kembar-Gajah Mada-dan si yang ingin memberontak mendadak pucat.

(**)

Bantu Kami untuk Berkembang

Mari kita tumbuh bersama! Donasi Anda membantu kami menghadirkan konten yang lebih baik dan berkelanjutan. Scan QRIS untuk berdonasi sekarang!


Related posts