Cerpen: Tarian Sampah Masa Depan

Writer: - Kamis, 30 Juli 2026
Ilustrasi. (Foto' Sumselupdate.com/Chat GPT)

SETIAP  Selasa pagi, Gani selalu menunggu suara kapal tongkang sebelum matahari benar-benar tinggi di atas ufuk. Dari bibir pantai, bunyi debum mesin diesel kapal terdengar lamat-lamat, lalu semakin lama semakin jelas membelah ombak. Anak-anak pesisir yang lain mungkin akan berlari menyambut kapal yang membawa rombongan penumpang atau hasil tangkapan ikan kembung.

Gani justru berlari menyambut kapal lambat yang mengangkut gunungan limbah padat. Usianya baru dua belas tahun. Tubuhnya kurus dengan kulit lengan yang mulai dipenuhi bercak kemerahan akibat dermatitis kontak.

Read More

Ia tinggal di sebuah desa nelayan kecil di Pulau Lingga, tidak jauh dari kawasan penampungan dan pemisahan limbah elektronik lintas batas yang dibangun beberapa tahun lalu. Sejak dermaga khusus itu berdiri kokoh, kapal-kapal tongkang datang hampir setiap minggu, membawa peti-peti kemas besar berisi baterai litium bekas, gulungan kabel nilon, papan sirkuit komputer, dan pecahan perangkat gawai yang telah selesai digunakan di pusat kota.

Dari kejauhan, tumpukan limbah itu tampak seperti bukit-bukit hitam yang gersang. Semakin hari bukit itu semakin tinggi, semakin banyak, menggeser garis pantai dan merusak ekosistem hutan bakau setempat.

Ayah Gani bekerja di bagian pemisahan sel baterai bekas. Setiap pagi lelaki itu mengenakan sepasang sarung tangan kain yang sudah robek di beberapa ujung jari, lalu mengangkat modul-modul baterai berat yang massanya hampir sama dengan bobot tubuh anaknya sendiri.

Upah hariannya dihitung ketat berdasarkan jumlah kg komponen yang berhasil dipisahkan dari cangkang besinya, bukan berdasarkan lamanya waktu bekerja.

“Gani,”, panggil ayahnya saat menjeda kerja.

“Iya, Yah,”

“Jangan sesekali bermain di dekat parit pembuangan belakang,”

“Aku tahu, Yah,”

Ayahnya memandang anak itu beberapa saat dengan mata yang kuyu. Kulit di lengan Gani masih menyisakan bekas luka bakar kimia yang mengering kaku dan belum sepenuhnya sembuh.

Di belakang area penampungan batuan limbah terdapat sebuah parit pembuangan yang sempit. Air di dalamnya tidak pernah lagi mengenal warna bening. Kadang cairannya berwarna kelabu pekat, kadang berubah hijau pekat, dan kerap memantulkan gradasi warna pelangi berminyak yang ganjil ketika terkena sengatan matahari siang.

Tak seorang pun warga desa berani mengambil atau menyentuh air dari sana. Namun ketika musim hujan tiba, air parit yang terkontaminasi asam sulfat itu meluap dengan mudah, merembes ke kebun-kebun kecil milik warga.

Beberapa rumpun pohon pisang mulai menguning kerdil, dan sayuran tidak lagi bisa tumbuh serimbun dulu. Sumur gali di belakang rumah mereka juga telah berubah rasa menjadi payau berkarat. Ibunya selalu merebus air minum jauh lebih lama dari biasanya, seolah-olah durasi waktu di atas tungku mampu mengusir zat-zat beracun tak terlihat yang mengendap di dasar cerek.

Siang itu kapal tongkang kembali merapat di dermaga kayu. Puluhan peti baja diturunkan satu demi satu menggunakan derek hidrolik yang bising. Di setiap dinding peti masih menempel stiker perusahaan dari kota dengan logo daun hijau bersih dan tulisan kapital berukuran besar: ENERGY FOR A BETTER FUTURE.

Gani mengeja tulisan asing itu dengan pelan di dalam hati. Ia belum benar-benar memahami apa arti transisi energi atau masa depan yang lebih baik. Yang ia tahu secara pasti, setiap kali kapal hijau itu datang merapat, bukit limbah di belakang rumah mereka akan bertambah tinggi beberapa meter. Dan setiap kali bukit itu bertambah tinggi, ayahnya pulang ke rumah dengan suara batuk parau yang semakin panjang akibat paparan debu kobalt yang merusak saluran pernapasannya.

Sore hari mereka sering bekerja bersama di selasar pos. Gani duduk di atas luloh bambu, memisahkan baut-baut baja kecil dari kompartemen baterai yang telah dibongkar ayahnya menggunakan palu. Kadang ia menemukan sel baterai yang masih utuh berbentuk silinder kaku.

Kadang ada pula yang sudah bocor hingga mengeluarkan cairan kental berbau karat logam yang menyengat hidung. Setiap kali melihat ada sel yang bocor, ayahnya dengan sigap merebutnya dari tangan Gani.

“Jangan disentuh bagian yang basah itu, Gani,”

“Kenapa, Yah?”

“Bahaya untuk kulitmu,”

“Kalau memang berbahaya, kenapa Ayah setiap hari menyentuhnya tanpa sarung tangan yang bagus?”

Lelaki paruh baya itu hanya mengulas senyum hambar, sebuah tarikan bibir yang lelah.

“Karena kalau Ayah tidak menyentuh barang rusak ini, besok pagi mangkuk di meja makan kita kosong, Nang,”

Jawaban pendek itu membuat Gani memilih bungkam, kembali fokus memutar obengnya. Menjelang magrib mereka berjalan kaki pulang menyusuri garis pantai yang landai. Air laut tampak tenang di bawah langit senja. Namun sesekali, beberapa unit baterai kecil, lilitan kabel tembaga, atau pecahan casing plastik ikut terdampar bersama buih ombak di atas pasir hitam. Gani membungkuk, memunguti sebuah silinder logam kecil yang permukaannya masih mengilap bersih.

“Apakah benda kecil ini juga jatuh dari atas kapal tongkang, Yah?”

“Mungkin saja ada beberapa yang tercecer saat bongkar mua,”

“Kenapa orang-orang kota membuangnya? Padahal fisiknya masih terlihat bagus begini,”

Ayahnya memandang hamparan laut lepas dengan tatapan kosong.

“Di tempat yang maju, yang dibuang itu bukan cuma barang yang sudah rusak total, Gani,”

“Lalu apa yang mereka buang, Yah?”

“Segala sesuatu yang dianggap tidak lagi menghasilkan keuntungan atau sudah ada penggantinya yang lebih baru,” kalimat itu diucapkan ayahnya dengan nada datar, namun terus terngiang di dalam kepala Gani sepanjang sisa perjalanan pulang mereka.

Malam akhirnya datang melingkupi pulau. Aliran listrik di desa nelayan mereka kembali padam seperti malam-malam sebelumnya, menenggelamkan barisan rumah panggung warga dalam kegelapan yang sunyi.

Dari kejauhan, hanya kawasan pagar seng penampungan limbah korporasi yang masih memancarkan pendar cahaya terang dari lampu sorot kerja bertenaga generator mandiri.

Di sela-sela kegelapan malam, permukaan tanah kering di sekitar parit belakang lokasi pembuangan tampak meninggalkan kerak putih zat kimia yang mengeluarkan uap belerang hangat saat terkena sisa embun malam. Gani sering mengira uap dan kilau minyak di parit itu terlihat indah dari jendela kamarnya, sampai akhirnya ibunya dengan kasar menutup tirai kain kumal mereka.

“Itu bukan pemandangan yang baik untuk mata anak-anak, Gani,” kata ibunya tegas.

“Lalu itu pemandangan untuk siapa, Bu?”

Ibunya tidak menjawab pertanyaan itu. Ia hanya menarik pundak Gani agar menjauh dari jendela, menyuruhnya berbaring di atas tikar mendong yang tipis.

Beberapa hari kemudian di sekolah dasar darurat desa, guru kelas meminta seluruh murid untuk menggambar cita-cita mereka di selembar kertas gambar. Ada anak nelayan yang menggambar sosok dokter dengan jubah putih, ada yang menggambar guru di depan papan tulis, dan beberapa anak menggambar pesawat terbang karena ingin menjadi pilot.

Gani memilih menggambar sebuah kapal. Namun, itu bukan bentuk kapal kayu tradisional dengan jaring ikan milik kakeknya. Ia menggambar sebuah kapal tongkang besi berukuran raksasa dengan kotak-kotak peti kemas yang tersusun menumpuk memenuhi seluruh geladak utamanya.

“Gani,” tanya gurunya lembut saat memeriksa meja jengkinya,

“kenapa kamu memilih menggambar kapal pengangkut ini?”

“Karena setiap hari Selasa kapal besar itu selalu datang ke dermaga kita, Bu,”

“Lalu apa hubungan kapal ini dengan cita-citamu nanti?”

“Aku ingin menjadi kaptennya suatu hari nanti, Bu. Aku ingin memutar kemudi kapal itu agar saat merapat ke pulau kita, ia membawa sesuatu yang lain di dalam petinya, bukan lagi membawa sampah dari kota,” jawab Gani jujur.

Guru wanita itu menatap gambar guratan krayon Gani dalam waktu yang cukup lama tanpa mengeluarkan satu patah kata pun komentar. Ia hanya mengembalikan kertas itu ke atas meja dengan helaan napas yang berat sebelum beralih ke meja murid lain.

Ketika musim hujan barat tiba lebih awal dari siklusnya, air laut pasang menggenangi jalan-jalan tanah di sepanjang desa. Parit pembuangan di belakang kawasan industri limbah meluap hebat, mengalirkan sisa cairan asam hingga masuk ke pekarangan rumah panggung warga.

Keesokan paginya, belasan ekor ikan gabus dan bandeng tampak mengapung mati membusuk di dalam petak tambak milik warga dusun. Ayah Gani ikut turun tangan membantu tetangga mengangkat bangkai-bangkai ikan tersebut agar tidak menimbulkan penyakit baru.

Sepanjang memeras tenaga di bawah hujan gerimis, lelaki itu batuk berkali-kali secara konstan hingga terpaksa bertumpu pada tiang kayu untuk menarik napasnya yang terasa sesak dan pendek. Gani berdiri diam memandangi punggung ayahnya dari kejauhan.

“Yah,” panggil Gani saat mereka berteduh di bawah emperan seng.

“Hm? Ada apa, Nang?”

“Kalau nanti aku sudah tumbuh besar…”

“Iya? Kamu mau jadi apa?”

“Aku benar-benar tidak ingin bekerja memilah baterai di dalam pagar seng itu, Yah.

“Ayahnya menoleh, memperlihatkan gumpalan kulit matanya yang menghitam, lalu tersenyum tipis.

“Bagus, Gani. Jangan pernah sekali-kali masuk ke sana,”

“Lalu bagaimana dengan Ayah nanti?’

“Ayahmu ini mungkin sudah tidak akan kuat lagi berjalan sampai sedalam itu,” jawabnya pelan, lalu mereka berdua sama-sama tertawa kecil di antara suara rintik hujan.

Sebuah tawa  hambar yang terasa lebih mirip sebagai cara pertahanan agar air mata mereka tidak jatuh di depan satu sama lain.

Seminggu kemudian, bayangan kapal tongkang besi itu kembali muncul memecah garis cakrawala laut Jawa. Anak-anak desa yang bertubuh kurus kembali berlarian di sepanjang hamparan pasir pantai yang hitam.

Dari kejauhan, pergerakan kaki-kaki kecil mereka yang meloncat menghindari ombak tampak menyerupai sebuah gerakan tarian yang ritmis menyambut datangnya rob.

Namun Gani tahu dengan pasti, mereka bukan sedang menari untuk merayakan kedatangan laut atau keindahan pulau. Mereka sedang merayakan datangnya kiriman beban baru yang akan kembali memenuhi bukit limbah, menyediakan lapangan kerja kasar untuk beberapa hari ke depan, sekaligus membawa zat-zat kimia baru yang pelan-pelan akan merusak kualitas air,  kesuburan tanah, dan masa depan fisik anak-anak yang tumbuh besar di atas tanah ulayat tersebut.

Ia memandang lurus ke arah haluan kapal yang bergerak semakin dekat ke dermaga kayu. Di bagian lambung besinya yang mulai berkarat, masih terpasang dengan rapi lambang daun hijau yang berkilat-kilat memantulkan terik matahari siang. Di langit seberang lautan sana, udara kota-kota besar mungkin telah menjadi jauh lebih bersih, segar, bebas emisi, dan sepenuhnya tampak hijau bersahaja.

Namun setiap kali kapal tongkang itu merapat dan menurunkan jangkar besinya di Pulau Lingga, Gani menyadari sebuah kenyataan yang pahit; bahwa warna hijau yang dinikmati oleh orang-orang modern di seberang sana selalu dibayar mahal oleh sebuah pulau terpencil yang perlahan-lahan dipaksa kehilangan warna asli tanahnya, jernih air sumurnya, dan masa depan anak-anak yang tumbuh di atas permukaannya.

Dari kejauhan, tongkang-tongkang itu terus berdatangan dengan sangat tenang tanpa riak bersalah, bergerak menyerupai penari latar yang tak pernah lelah mengulang gerakan mekanis yang sama—mengangkut sisa sampah dari peradaban masa depan menuju ke sebuah tempat sunyi yang dipaksa lumpuh untuk menanggungnya sendirian.

Banjarnegara, Juli 2026

 

Biodata Penulis

Dwi Scativana Isnaeni adalah asal Banjarnegara, tulisannya telah
dimuat di berbagai media digital, zine, buku antologi. Menjuarai
beberapa lomba esai dan opini, serta menulis beberapa buku.
Salah satu buku yang telah terbit berjudul “Industrialisasi
Budaya: Budaya Massa, Pop Art, Pop Culture, dan Perubahan
Budaya Menuju Peradaban Algoritmik”. Buku Novel terbarunya
“Oyot Toya Wingit” memenangkan Bilfest Award 2026 serta
Novel “Suamiku Seorang Marbot” meraih Juara 1 LPM Buya
Hamka, dan dalam proses penerbitan. Email:
[email protected]

Bantu Kami untuk Berkembang

Mari kita tumbuh bersama! Donasi Anda membantu kami menghadirkan konten yang lebih baik dan berkelanjutan. Scan QRIS untuk berdonasi sekarang!


Related posts