Cerpen : Pak Tua

Ilustrasi

Karya : Rusmin Toboali

Lelaki itu sudah sangat tua. Sangat sepuh. Usianya sekitaran di angka 80 sampai 90 tahunan. Bahkan ada warga kampung yang bercerita usia Pak Tua, lebih tua dari usia kampung kami.

Bacaan Lainnya

“Sebelum ada Kampung kita ini, Pak Tua sudah tinggal disini,” cerita seorang warga kampung kami.

“Benar sekali. Setahu tahu saya, semenjak saya tahu dunia ini, Pak Tua sudah tinggal disini,” sambung warga yang lain.

Dan tak mengherankan banyak orang yang datang ke rumahnya. Tamu yang berkunjung ke rumah mengalir deras. Dari berbagai penjuru. Terutama di musim pemilihan. Mulai dari Pemilihan Anggota Dewan hingga Pilkades. Padahal Pak Tua mengaku bahwa dirinya bukan dukun dan tukang ramal.

“Maaf. Saya bukan dukun. Apalagi tukang ramal,” jelas Pak Tua.

Warga tak begitu saja percaya dengan penjelasan Pak Tua. Mereka menganggap Pak Tua sebagai orang pintar yang mampu merubah kondisi kehidupan seseorang. Entah siapa yang memulainya, rumah Pak Tua sejak beberapa tahun terakhir selalu ramai dikunjungi warga.

Bukan hanya warga kampung kami, ada juga yang datang dari luar Kota. Mereka rela menghabiskan waktu berjam-berjam untuk mencapai kampung Kami, hanya untuk ketemu dengan Pak Tua. Sementara untuk menemui Pak Tua, waktu antrian pun sangat panjang. Bahkan hingga subuh. Terkadang pagi baru bisa ketemu Pak Tua.

Pagi itu, Pak Tua bersila di tempatnya yang biasa. Sebuah kotak persegi empat yang terbuat dari papan ikut mendampinginya. Dan sudah menjadi kelaziman, usai bertemu pak Tua, para tamu menyisipkan sesuatu ke dalam kotak kayu itu. Tamu sangat ramai. Halaman depan rumahnya penuh sesak dengan warga yang datang. Pak Tua mengintip dari lubang rumahnya yang tua yang terbuat dari kayu yang sudah banyak terkelupas. Maklum rumah tua.

Pak Tua menatap langit-langit rumahnya. Ada sebuah lubang yang mengangah. Sinar matahari menyinarinya dengan sinar keemasan. Lelaki tua menyeka keringat di dahinya. Pak Tua semakin heran bahkan terkadang bingung, bagaimana dirinya yang sudah tua ini, tiba-tiba dihormati orang?. Didatangi banyak orang.

Pak Tua juga sangat bingung, kenapa dirinya tiba-tiba dihormati orang? Apakah karena narasi yang keluar dari mulutnya bijaksana atau karena dirinya sudah tua?.

Belasan tamu datang. Pak Tua mengulurkan tangannya untuk diletakkan di dahi tamunya. Tamu yang datang duduk di depannya yang bersila diatas tikar. Pak Tua terdiam. Menatap tajam wajah mereka. Ada kesedihan yang terpancar di mata tuanya Pak Tua. Tamu-tamu yang bersila di depannya tak berani menatap wajah Pak Tua.

“Begitu kita menatap wajah Pak Tua, seketika kita langsung roboh,” cerita seorang warga.

“Itu pengalaman saya pribadi. Saya datang ke rumah Pak Tua untuk mengobati istri saya, tapi malah saya yang sakit. Semuanya cuma gara-gara saya menatap wajah pak Tua,” cerita seorang warga Kampung.

Sudah hampir setengah jam, para tamu yang duduk bersila di hadapan Pak Tua dengan wajah tertunduk tidak mendengar apa pun dari mulut tua Pak Tua. Tidak sepatah kata pun yang keluar dari mulut Pak Tua. Pak Tua hanya terdiam. Sementara keringat terus mengucur dari dahinya. Getaran di dadanya turun naik.

Para tamu terus menunggu dan menunggu. Sementara yang di luar terus menunggu giliran untuk. Tamu terus mengalir dengan sangat deras. Antrian semakin panjang.

“Kok lama sekali ya,” ujar seorang warga.

“Huss…Tutup mulutmu. Apakah engkau siap menerima resiko dari omonganmu,” ujar seorang tamu yang telah lama mengantri sejak subuh dengan nada suara tersekat.

“Apakah kamu tidak mau melihat matahari esok pagi lagi?,” bisik temannya.

Lelaki itu terdiam. Wajahnya seketika pucat pasi. Ada ketakutan yang mengalir dari sekujur tubuhnya. Keringat mengucur deras dari keningnya.

Tiba-tiba dari dalam rumah, terdengar suara gaduh. Orang-orang berteriak. Para tamu berhamburan keluar dengan wajah diliputi ketakutan dan ketegangan yang luarbiasa yang belum pernah mereka rasakan selama hidupnya.

“Pak Tua meninggal.” ujar seorang tamu dari dalam rumah dengan nada suara penuh ketakutan.

Suara sakral pun meluncur dari mulut para tamu. Lantunan ucapan sakral innalillahi wainnalillahi rojiun bergema dengan religius. Menggemuruhkan angkasa. Menembus langit biru. (*)

Toboali, 26 Februari 2022

Yuk bagikan berita ini...

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.