Bentuk dan kebertujuan, Khan lebih menekankan tujuan dari objek keindahannya, bukan pada subjek (si penafsir). Objek keindahan harus bersifat konsisten dengan kebertujuannya, yakni tanpa ada manipulasi dan intervensi dari subjek yang mengamati. Sehingga tercapai kesepahaman dan tujuan keindahan atas objek, dibenarkan secara universal oleh siapapun subjek yang melihatnya. Dalam kaitan ini pendasaran Khan cukup memadai, sehingga mengenyangkan baik pada wilayah pengetahuan maupun estetika. Secara pribadi penulis mengakui, bahwa Immanuel Kant tidak hanya berhasil menyingkirkan debu epistemic antara kaum rasionalis dan empirisisme, tetapi juga penyejuk kaum empiris dan konstinental dalam mengurai persoalan seni dan keindahan. Dari Keempat teori keindahan yang dirumuskan Khan, akan dijadikan dasar pijakan penulis dalam melihat dan menganalisa kesenian Terbang Jawa dan Terbang Kencer di daerah Brebes, Jawa Tengah.
- Terbang Jawa atau Terbangan Jawa
Dengan mendengar akar katanya saja, kita langsung dapat memastikan bahwa kesenian terbang Jawa atau terbangan Jawa merupakan salah satu jenis kesenian yang hidup dan berkembang di daerah Jawa. Kata Jawa disini jelas merujuk suatu pulau yang cukup luas di Indonesia, sehingga sangat dimungkinkan kesenian terbang Jawa atau terbangan Jawa dapat dijumpai diseluruh wilayah Jawa. Oleh karena itu terbang Jawa atau terbangan Jawa dalam kontek penulisan ini, dapat dimaknai sebagai legitimasi identitas budaya tertentu. Bukan pada preposisi Javasentrisme, pasalnya penulis menyadari betul bahwa “terbang atau terbangan” merujuk instrumen atau kesenian tradisional hampir ada di seluruh wilayah nusantara. Dian Rizki & Nofroza, Y (2019) menuliskan, terbangan merupakan jenis kesenian tradisional daerah yang tumbuh subur di Kabupaten Ogan Ilir (OI), Provinsi Sumatra Selatan. Sementara itu Wulan. W. (2016) mengatakan, Madihin merupakan perpaduan seni tradisi lisan dengan iringi rebana (terbang) yang ada di Kalimantan Selatan.
Di sisi lain peristilahan terbangan, terbang, genjring, kencer, rebana, gambus, kasidah atau hadroh hanya berbeda penyebutan maupun nama pada tiap daerah, namun selalu identik dengan sholawatan (puji-pujian). Hal ini sama dengan kesenian kuda lumping, yang memiliki perbedaan penyebutan maupun nama di setiap daerah, seperti: jaran lumping, jaran kepang, jathilan, maupun ebeg.
Terbang Jawa atau terbang Jawa merupakan salah satu jenis kesenian tradisional yang pernah hidup dan berkembang di Desa Petunjungan, Kecamatan Bulakamba, Kabupaten Brebes. Di Desa Petunjungan khususnya, bisa jadi kesenian terbang Jawa terbangan atau Jawa menjadi cikal bakal dari eksistensi kesenian atau grup-grup hadroh dewasa ini. Hal ini tentu menjadi premis pribadi penulis, bisa saja benar atau sebaliknya mengingat sifat kesenian terbang Jawa atau terbangan Jawa sendiri sangat terbuka dan universal.
Salah satu penguat umum yang penulis ajukan, bahwa baik terbang Jawa atau terbangan Jawa (dahulu) dan grup hadroh zaman setelahnya, sama-sama membawakan lagu sholawat seperti: Ya Nabi Salam Alaika, Sholawat Badar, Asshola dll. Prejudice dari motif yang penulis usung ini, rupanya mendapat penguat berupa fakta kebenaran, yang diperoleh melalui hasil wawancara dengan dua informan utama sebagai berikut:
“Lagu-lagu yang sering dinyanyikan dalam terbang Jawa atau terbangan Jawa, adalah lagu-lagu sholawatan. Ada banyak lagu yang dinyanyikan, akan tetapi tidak sepenuhnya saya hafal dan ingat. Ada kurang lebih 3 lagu yang familiar bagi saya, dan itu memang dibawakan pada saat anggota grup terbang Jawa atau terbangan Jawa berkumpul adalah, Sholawat Badar, Asshol dan ya Nabi salam alaika” (Bapak Cahyono, dalam wawancara beberapa waktu yang lalu)
“Dalam hal lagu yang dibawakan antara grup terbang Jawa atau terbangan Jawa (dahulu) dan hadroh (sekarang) dapat dikatakan sama, yang membedakan versinya yang sekarang ada beberapa penambahan lagu Islami yang baru” (Bapak Slamet, dalam wawancara beberapa waktu yang lalu).
Bila ditarik mundur ke belakang, dengan bertolak pada penggunaan instrumen “terbang Jawa” serta lagu-lagu Sholawat yang identik dengan nafas Islami, maka eksistensi kesenian terbang Jawa atau terbangan Jawa di Desa Petunjungan khususnya, bertalian dengan peran Wali Songo dalam proses Islamisasi di Pulau Jawa. Bowo Laksono (2017) menuliskan, terbang atau terbangan adalah instrument pengiring syair berbahasa Arab yang pada hakikatnya di jadikan media Islamisasi oleh para Wali di Pulau Jawa. Menguatkan pendapat sebelumnya Tri Pujiyanto (2012) menuliskan, musik rebana juga sering disebut sebagai musik terbangan yang dalam bahasa Jawa bermakna sama. Lebih jelas Ia melanjutkan, kesenian ini selain sebagai sarana media dakwah para Wali di Jawa, juga dimanfaatkan sebagai media hiburan masyarakat. Terkait dengan eksistensi terbang atau terbangan di Kabupaten Brebes pada umumnya, Petunjungan pada khususnya, pendasaran historis sebagaimana yang diterangkan diawal sangat linier dan kredibel. Fakta-fakta historis pada gilirannya menerangkan dua hal: 1. Eksistensi terbang atau terbangan tumbuh dan berkembang di Desa Petunjungan, Kecamatan Bulakamba, Kabupaten Brebes, 2. Islam menjadi salah satu agama mayoritas yang dianut oleh warga masyarakat Desa Petunjungan, Kecamatan Bulakamba, Kabupaten Brebes.











