Seni Mondial Tanpa Pamrih: Dalam Tinjauan Immanuel Kant

Senin, 19 Desember 2022
Immanuel Kant

Secara instrumental tidak ada perbedaan signifikan antara terbang kencer dan terbang Jawa atau terbangan Jawa, keduanya memiliki bentuk, bahan, produksi suara, bahkan fungsi iringan yang hampir sama. Dalam kontek kesenian Desa Petunjungan, hanya dibedakan dari besarnya ukuran dan penambahan bentuk-bentuk ornament dalam instrument terbang kencer. Seperti yang pernah penulis sampaikan diawal, bahwa antara terbang Jawa dan terbangan Jawa dan terbang kencer hanya berbeda peristilahan atau penyebutan saja. Bahkan secara harafiah kedua instrumen ini lazimnya dimaknai sebagai satu instrument yakni rebana. Terkait hal ini Galuh Prestisa (2013) menuliskan, pada dasarnya terbang kencer merupakan musik rebana yang mengalami pergeseran nama akibat akulturasi Jawa. Lebih lanjut Ia menerangkan, di wilayah Jakarta dan sekitarnya instrument ini memiliki penyebutan yang berbeda-beda seperti: ketempiring, marawis, haddrah, dan rebana kasidah, sementara di Jawa Tengah biasanya disebut: genjring, jidor, tambur kempling, ketempiring dan terbang.

Pendefinisian-pendefinisian diatas tidak sepenuhnya disalahkan, mengingat bagian esensial diantara kedua instrument memang memiliki banyak kemiripan bahkan kesamaan. Dalam kaca mata penulis, secara factual dapat di jelaskan sekurangnya 4 persamaan (hal identic) antara instrument terbang kencer dan terbang Jawa atau terbangan Jawa, minimalnya dalam kontek kesenian Desa Petunjungan: a. bentuk instrumen (keduanya berbentuk lingkaran, mengerucut, dimana disatu sisi tertutup dengan membran yang terbuat dari kulit binatang: kambing, kerbang dan sapi, dan biasanya memiliki diamenter lebih besar dari satu sisi lainnya), b. bahan pembuatnya (kedua badan instrumen terbuat dari kayu seperti: kayu sawo, kayu nangka, kayu kelapa, sementara untuk membrane sama-sama berasal dari kulit binatang; kambing, kerbau atau sapi), c. sejarah (baik terbang kencer maupun terbang Jawa atau terbangan Jawa, dipahami sebagai instrumen yang dijadikan media dalam proses islamisasi yang dilakukan oleh Wali Songo di Pulau Jawa),  d. fungsi (pada umumnya terbang kencer dan terbang Jawa atau terbangan Jawa, digunakan untuk mengiringi lagu sholawat). Atas dasar itu maka terbang kencer, terbang jawa atau terbangan Jawa di kalangan masyarakat pada umumnya sering dimaknai secara identic. Achmad. I. M (2018) menuliskan rebana, terbang kencer atau terbangan merupakan salah satu instrument musik Islami yang digunakan untuk mengiringi sholawat, dimana syair-syairnya diambil dari kitab berzanji. Dalam kaitan ini khususnya kesenian Desa Petunjungan, eksistensi terbang kencer dan terbang Jawa atau terbangan Jawa memang dijadikan sebagai sarana bersholawat dari masing-masing anggota. Oleh karenanya eksistensi terbang kencer dan terbang Jawa atau terbangan Jawa di Desa Petunjungan, lebih menekankan pada kepuasan ekspresi. Terlepas dari bagaimana masing-masing anggota memaknai esensi sholawat itu sendiri, pada gilirannya eksistensi terbang kencer maupun terbang Jawa di Desa Petunjungan, lebih berorientasi pada tujuan silaturahmi (interksi antar anggota).

Hal ini dapat dijelaskan: 1.  Terbang kencer dan terbang Jawa di Desa Petunjungan tidak pernah ditampilkan dihalayak ramai, 2. Menekankan kepuasan pribadi, dimana tiap anggota secara suka rela berpartisipasi secara mandiri, termasuk berkontribusi dalam hal finansial. Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa dalam tinjuan Immanuel Kant, terbang Jawa atau terbangan Jawa dan terbang kencer di Desa Petunjungan merupakan kesenian yang indah. Immanuel Kant dalam merumuskan sesuatu yang indah sekurangnya didasarkan pada: 1. Disinterestedness, (terbang Jawa atau terbangan Jawa dan terbang kencer di Desa Petunjungan tanpa pamrih, tidak ada kepentingan dan tujuan praktis dalam tanda kutip (“). 2. Universalitas, (eksistensi terbang Jawa dan terbang kencer dicintai, dipahami dan dimaknai universal, minimalnya dalam konteks pelaku seninya/ pemain), 3. Esensial (terbang Jawa atau terbangan Jawa dan terbang kencer, pernah hidup dan berkembang di Desa Petunjungan), dan 4. Bentuk dan bertujuan (terbang Jawa atau terbangan Jawa dan terbang kencer, secara objektif memberikan keindahan, kepuasan, ketenangan bagi masing-masing anggota komunitas). (**)

Bantu Kami untuk Berkembang

Mari kita tumbuh bersama! Donasi Anda membantu kami menghadirkan konten yang lebih baik dan berkelanjutan. Scan QRIS untuk berdonasi sekarang!


Related posts