Seni Mondial Tanpa Pamrih: Dalam Tinjauan Immanuel Kant

Senin, 19 Desember 2022
Immanuel Kant

Secara ringkas dapat dikatakan bahwa kaum empiris Inggris membentangkan taste sebagai kerangka besar, dalam merumuskan, menilai serta merefleksikan batas-batas estetikanya. Kendati di antara beberapa kaum empiris Inggris sendiri secara spesifikasi di dalam perumusannya, saling bertumpang tindih, silang pendapat, maupun saling menguatkan satu sama lain, namun tetap berpangkal pada pendasaran yang sama selera. Shaftesbury misalnya menyandarkan tiga tingkatan keindahan dalam hidup seperti: keindahan tingkat badani (materi), tingkat rohani (spiritual), dan tingkat illahiah.

Oleh karena itu Shaftesbury  meletakan standarisasi  dalam menilai keindahan atas dasar kebaikan seperti aspek keteraturan, bahkan melibatkan pernan moral didalamnya. Shaftesbury sendiri menilai pengapresiasian seni atau faculty of taste sekurangnya memiliki dua fungsi diantaranya: a. nilai esensial yang bersifat imanen (hakim atas moral), dan b. nilai praktis bersifat transenden (tentang keindahan yang sublime, karena dipahami setelah perenungan-perenungan atau kontemplasi). Atas dasar itu Shaftesbury secara radikal menolak interest dalam seni, karena menganggap dapat merobohkan nilai-nilai keindahannya yang murni. Sejalan dengan itu Hutcheson juga mengecam interest (kepentingan pribadi) dalam seni, hanya saja dengan pendasaran-pendasaran yang sama sekali lain. Berbeda dengan Shaftesbury yang menempatkan keindahan bersifat transenden,  Hutcheson justru menganggap selera seni ataupun keindahan seni bersifat tunggal, yakni murni keindahan yang bersifat imanen.

Dengan pengamatan yang lebih tajam dari sebelumnya, Hutcheson menganggap bahwa secara kodrati manusia memiliki kekuatan internal maupun kekuatan eksternal. Kemampuan dasar internal terletak di sanubari manusia yang paling substansial, dimana dimensi ini mengejawantahkan antroposentris manusia seperti moralitas, kepekaan dan intuisi. Kerja kemampuan dasar internal atas keindahan diletakkan Hutcheson secara stimulus dan berlaku sebab akibat, dalam arti kata subjek tidak melulu menjadi hakim atas benda seni, melainkan objek juga mengikhlaskan dirinya secara terbuka untuk diperiksa.

Sementara kemampuan dasar ekternal manusia menurutnya, diwakili oleh panca indra sebagai sensorik atas objek-objek diluar dirinya. Kegiatan pengindraan terkait dengan segala sesuatu termasuk seni dan keindahan inilah, yang akan memberikan persepsi. Atas objek-objek keindahan diluar dirinya, maka sense of beauty memberinya perasaan tenang, harmonis, tentram, damai, dan bahagia. Bagi Hutcheson percecapan manusia atas objek-objek keindahan di luar dirinya bersifat stimulus antara kodrat internal dan ekternal, sebelum melibatkan peran rasio atau intelektual. Pada dasarnya baik  Hutcheson maupun Shaftesbury sama-sama mengutuk interest dalam seni, dan mendorong sikap disinterestedness dalam menanggapi seni. Sementara itu respon David Hume atas seni dan keindahan ditulis secara terperinci pada karyanya “The Standard of Taste”.

Pada dasarnya Hume menyepakati dua tokoh empiris sebelumnya terkait peranan perasaan atas seni, hanya saja Ia menolak pemikiran apriori sebagai pangkal standarisasinya. Barometer keindahan pada manusia hanya bisa diuji melalui penelitian empiris, yakni atas dasar pengalaman nyata subjek atas objek keindahan diluar dirinya, dan dikemas dalam bungkusnya yang particular.

Di sini Hume mencoba merasionalkan dunia seni, keindahan dan perasaan dengan cara pandang positivistic, meskipun pada akhirnya Ia mengalami kebuntuan atas pijakannya itu. Hume sampai kepada pemahaman, bahwa ada struktur mental dalam diri manusia yang sifatnya sangat khusus terkait persoalan-persoalan keindahan. Hume tidak berkeberatan dengan pendapat Hutcheson, bahwasanya memang terjadi hubungan kausalitas antara subjek-objek dalam menyikapi entitas keindahan. Pada akhirnya Hume berkesimpulan bahwa, ada pertalian karakteristik tertentu dalam diri subjek yang konstitusional dengan karakteristik objek yang melegitimasi selera.

Bantu Kami untuk Berkembang

Mari kita tumbuh bersama! Donasi Anda membantu kami menghadirkan konten yang lebih baik dan berkelanjutan. Scan QRIS untuk berdonasi sekarang!


Related posts