Hipotesis seperti ini dapat kita analogikan pada persoalan lain yang hampir serupa, misalnya saja dalam Buku “Tahafut Al-Falasiyah” dimana Al-Ghazali membagi karya-karyanya ke dalam dua kategori: pertama, (al-madnun biha’ ala gayr ahliha) kandungan isi hanya untuk dirinya sendiri dan hanya dapat dibaca oleh orang-orang yang berkompeten. Kedua, (jumhur) kelompok karya yang diperuntukkan kepada mereka yang sesuai dengan tingkat intelektualitasnya. Kumparan pengategorisasian karya-karya itu dilihat banyak pembacanya sebagai bentuk sinisme Al-Ghazali akan kajian filsafat yang justru melegitimasi dirinya sebagai seorang filosof.
Keberhasilan Al-Ghazali menunjukkan celah-celah berpikir filsafat, tidak lain karena Ia memahami bahkan melampauinya. Disiplin filsafat yang dikritisinya, menjerumuskan nama besarnya sebagai salah satu filosof muslim yang mashyur. Pendapat serupa dibenarkan Sulaiman Dunya (2016) dengan menuliskan Al-Ghazali merupakan salah satu pengkritik keras filsafat sekaligus tokoh filosof besar yang masyhur. Beberapa penjelasan yang coba penulis uraikan cukup memberikan dasar bahwa betapapun berbedanya, Hegel mengetahui bahkan mewarisi corak berfikir Kant.
Rohani, Fenny. S. F, Mahdar. E, & Fahli. Z (2022) menuliskan sebagai filsuf idealisme baik Kant maupun Hegel sebenarnya sama-sama menyerang pemikiran filsafat individualisme dan empirisisme, bedanya Kant meyakini relativisme, menolak absolutisme, serta lebih menekankan arti penting idealisme transenden yang meyakini pemikiran secara aktif Menyusun dunia empiris, sementara Hegel lebih mementingkan idealisme absolut.
Lain pada itu Fitzerald. K. (2017) memaparkan, peranan elemen apriori dalam diri manusia ini memungkinkan pengetahuan yang menjadi objek penelitian filsafat idealisme transcendental Immanuel Kant, hingga kemudian ditafsirkan oleh para penerusnya sebagai terusan idealisme Jerman (Fichte, Schelling, dan Hegel). Apapun itu Hegel, bahkan para tokoh pemikir mazhab Frankfurt menghargai serta mendewakan Kant, sebagai pelopor yang berjasa menemukan keotonoman subjek dalam membentuk pengetahuan. Di sinilah terletak keotentikan kritis yang pertama: bahwa pengetahuan kita tidak ditentukan objek, melainkan subjek yang menghasilkan pengetahuan.
Secara epistemic basic di semua pemikiran Kant berpangkal pada persoalan keberadaan manusia sebagai (otonomous being), dalam menghadapi dunia diluar dirinya. Atau refleksi self-consciousness yang secara aktif dapat mendorong sekaligus menentukan bentuk-bentuk cara mengetahui (form of cognition). Dengan cukup esklusif Bowie (1990) berhasil menyederhanakan makna itu, dengan menuliskan subjektivitas diartikan Kant sebagai landasan bagi keberadaan dirinya sendiri, sembari membentuk objektivitas yang dapat dipertahankan tanpa mendasarkan pada asumsi objektivitas yang terdahulu.
Filsafat kritisisme yang diusung Kant, secara hirarki menjembatani Descartes dan kawan-kawan kubu rasionalisme atas kebuntuan akal “aku ragu-ragu” akan kebenaran disatu sisi, dan ketidak sempurnaan David Hume kubu empirisisme yang mendasarkan pengalaman sebagai sumber utama kebenaran disisi yang lain. Kant mensintesiskan keduanya, bahwa memang benar bahwa pengetahuan kita tentang dunia berasal dari indra, namun di dalam akal kita sudah ada faktor-faktor yang menentukan penafsiran kita atas dunia. Dualisme pendekatan itu didamaikan dengan penuh argumentatif oleh Kant sebagai berikut: pertama, ada kondisi batiniah dalam manusia mengenai proses-proses yang mengharuskan tunduk pada hukum kausalitas (yang tidak terbantahkan) ini merupakan bentuk pengetahuan.











