Pemkab OKU Mengaku Kesulitan Tangani Anjing Liar

Kamis, 26 Januari 2017
Ilustrasi

Baturaja, Sumselupdate.com – Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten OKU mengaku kesulitan menyikapi keberadaan anjing liar. Karena muncul aksi protes dari pecinta hewan yang tak memperbolehkan membunuh anjing dengan cara diracun.

Seketaris Dinas Pertanian dan Peternakan OKU Joni Saihu menjelaskan pihaknya sekarang ini tidak bisa lagi membunuh anjing dengan cara diracun. “Karena adanya protes dari pencinta hewan,” kata Joni saat dibincangi sumselupdate.com, Kamis (26/1/2017).

Sehingga menurutnya hal ini yang membuat kebingungan. Sebab di satu sisi, anjing liar tidak boleh dibunuh. Sedangkan di sisi lain, membahayakan karena berkemungkinan mengundang penyakit.

“Untuk menyikapi hal itu kami hanya memberikan vaksin saja terhadap anjing. Untuk mengantisipasi kemungkinan penyakit dari anjing gila,” paparnya.

Advertisements

Vaksin terhadap anjing disuntikan secara gratis dan pihaknya akan berkordinasi dengan kecamatan untuk diteruskan ke desa untuk mengajak masyarakat memvaksin anjing peliharaan. “Jadi sistem nya, mereka pemilik anjing dikumpulkan dan tim kita akan turun ke lapangan untuk melakukan vaksin,” ujarnya.

Kabid Peternakan dan Kesehatan Hewan Dinas Pertanian OKU Ir Susi Meyliati menjelaskan, ada beberapa faktor yang menjadi kendala untuk memberikan vaksin rabies bagi seluruh popolasi hewan mamalia tersebut.

Faktor pertama rendahnya kesadaran masyarakat terhadap manfaat dari memberikan vaksin rabies kepada anjing peliharaannya, khususnya bagi petani yang tinggal di pedesaan. “Mereka cenderung menolak untuk divaksin, karena takut anjingnya tidak sangar lagi,” sesal Susi.

Selain itu lanjut dia, keterbatasan anggaran juga menjadi faktor penghambat bagi Dinas Pertanian untuk secara maksimal memberikan vaksin rabies bagi seluruh populasi anjing di OKU.

“2016 lalu kita cuma bisa memberikan vaksin rabies bagi 1.500 ekor anjing, sementara 2017 bertambah menjadi 1.700 ekor. Jadi sedikit sekali yang bisa kita vaksin, padahal harusnya dengan populasi anjing mencapai 10.000 ekor minimal setahun kita harus memvaksin 2.500-3.000 ekor anjing,” tegasnya.

Ironisnya lagi lanjut dr Susi, selama tiga tahun ini, yakni sejak 2015-2017 pihaknya tidak bisa melakukan eliminasi atau membunuh anjing rabies di OKU. Pasalnya, banyak sekali LSM pemerhati hewan yang menolak mentah-mentah program itu, karena dianggap tidak berbelas kasih kepada hewani. (wid)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.