Resmi Ditahan, Kuasa Hukum JA: Semoga Keadilan Masih Berpihak Kepada Klien Saya

Wabup OKU Johan Anuar yang mengenakan baju tahanan digiring penyidik KPK.

Palembang, Sumselupdate.com – Penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) melakukan penahanan terhadap Wakil Bupati OKU, Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel), Drs Johan Anuar atas dugaan korupsi pengadaan tanah kuburan.

Kuasa Hukum Johan Anuar, Titis Rachmawati mengatakan, pihaknya akan mengikuti proses hukum dan akan mengikuti persidangan sesuai ketentuan. “Semoga keadilan masih berpihak pada klien saya,” katanya, Kamis (10/12/2020).

Bacaan Lainnya

Saat ini, kata Titis, Johan Anuar dalam keadaan sehat setelah sebelumnya sempat sakit saat dan tidak bisa menghadiri jadwal pemeriksaan oleh KPK pada 4 Desember 2020.

“Alhamdulillah klien saya sudah sehat,” ujarnya singkat.

Seperti diketahui, Johan Anuar saat ini maju kembali dalam Pilkada di Kabupaten OKU mendampingi Kuryana Azis.

Di mana berdasarkan data sementara dari situs KPU pasangan petahana ini unggul sementara dengan perolehan 66,1 persen melawan kotak kosong.

Sementara itu, Plt Juru Bicara KPK, Ali Fikri, mengatakan, tersangka JA dilakukan penahanan oleh Penuntut Umum KPK selama 20 hari, terhitung sejak tanggal 10-29 Desember 2020 di Rutan Polres Jakarta Pusat.

“Hari ini dilaksanakan Tahap II (penyerahan tersangka dan barang bukti) tersangka Wakil Bupati Kabupaten OKU Sumsel periode 2015-2020 dari Tim Penyidik KPK kepada Tim JPU KPK,” tuturnya Ali Fikri, Kamis (10/12).

Kasus yang membelit Johan Anuar lantaran diduga melakukan korupsi yang menyebabkan negara mengalami kerugian Rp5,7 miliar akibat pengadaan tanah pemakaman.

Saat kasus ini bergulir 2013 lalu, Johan menjabat sebagai Wakil Ketua DPRD OKU.

Dirinya diduga sejak tahun 2012 telah menyiapkan lahan yang akan ditawarkan ke Pemkab OKU untuk kebutuhan pemakaman.

“JA diduga telah mentransfer uang sebesar Rp1 miliar kepada Nazirman sebagai cicilan transaksi jual beli tanah untuk merekayasa peralihan hak atas tanah tersebut dengan tujuan harga NJOP-nya yang digunakan adalah harga tertinggi saat dibeli Pemerintah Kabupaten,” ujar dia.

JA sebagai pimpinan DPRD OKU juga menugaskan kepala dinas Sosial, ketenagakerjaan dan transmigrasi OKU  saat itu, Wibisono untuk menandatangani proposal kebutuhan tanah TPU untuk diusulkan ke APBD tahun 2013.

Melalui orang kepercayaannya bernama Hidirman, dirinya mengatur pembelian tanah tersebut menggunakan nama tersebut.

Dirinya aktif melakukan survei tanah mana yang akan dijual untuk pemakaman.

“Di tahun 2013, JA mengusulkan anggaran TPU dalam APBD Kabupaten OKU 2013 yang memang tidak dianggarkan sebelumnya,” tutupnya.

Wabup OKU Johan Anuar yang mengenakan baju tahanan digiring penyidik KPK.

Penahanan Untuk Kedua Kalinya

Penahanan Wabup OKU Johan Anuar ini untuk kedua kalinya. Pada 14 Januari 2020 lalu, Johan Anuar ditahan penyidik Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Ditreskrimsus) Polda Sumsel.

Namun setelah empat bulan menjalani proses penahanan, tepatnya pada Selasa (12/5/2020), Johan Anuar dinyatakan bebas.

“Pak JA ini keluar demi hukum statusnya karena waktu penahanan dari kepolisian sudah habis,” ujar Kuasa Hukum JA, Titis Rachmawati.

Setelah 120 hari ditahan, Titis menilai penyidik belum dapat melengkapi berkas. Bahkan berkas dugaan korupsi yang telah dilakukan Johan disebut masih tahap P19 alias berkas belum lengkap.

Namun kasus ini terus bergulir. Pada Sabtu (25/7/2020), Berkas perkara Johan Anuar terkait kasus mark-up lahan kuburan di Kabupaten OKU, Sumsel diambil alih oleh KPK.

Saat itu, Juru Bicara (Jubir) KPK, Ali Fikri, mengatakan Pengambilan alih perkara tersebut dari Polda Sumsel dilakukan oleh unit Koordinasi dan Supervisi Penindakan atau Korsupdak KPK.

Menurut Ali Fikri, diambil alihnya berkas kasus ini, mengingat, pertimbangan dari kepolisian penanganan perkara itu sulit dilakukan secara baik, sehingga penyelesaiannya diharap lebih cepat jika dilakukan oleh KPK. (ron)

Yuk bagikan berita ini...

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.