Kolombo, Sumselupdate.com — Sri Lanka mencatat tingkat pengangguran tertinggi di kalangan kaum muda berpendidikan tinggi dibandingkan sejumlah perekonomian Asia yang diteliti Dana Moneter Internasional (IMF), demikian dilaporkan media lokal Newswire pada Senin (21/9).
Berdasarkan grafik yang diterbitkan dalam majalah IMF Finance & Development edisi September 2026, sekitar 43 persen warga Sri Lanka berusia 15 hingga 24 tahun dengan pendidikan pasca-sekolah menengah masih menganggur. Data tersebut mengacu pada tahun 2025 atau data terbaru yang tersedia.
Angka Sri Lanka tersebut menjadi yang tertinggi di antara perekonomian Asia yang diperbandingkan dalam grafik IMF. India berada di posisi berikutnya dengan sekitar 42 persen, sementara Bangladesh mencatat sekitar 36 persen.
Data tersebut menunjukkan bahwa persoalan pengangguran pemuda di Asia tidak hanya berkaitan dengan tingkat pendidikan. Di sejumlah negara, tingkat pengangguran justru jauh lebih tinggi di kalangan pemuda berpendidikan tinggi dibandingkan populasi secara keseluruhan.
Kesenjangan tersebut terlihat lebih jelas di kawasan Asia Selatan dan mengindikasikan adanya ketidaksesuaian antara kualifikasi lulusan dengan kebutuhan keterampilan di pasar kerja.
Tantangan itu juga dapat semakin kompleks seiring pesatnya perkembangan teknologi. IMF menilai kecerdasan buatan (AI) berpotensi meningkatkan produktivitas dan mendorong pertumbuhan ekonomi, tetapi pada saat yang sama dapat memberikan tekanan tambahan terhadap pekerja muda apabila adopsi teknologi berlangsung lebih cepat daripada peningkatan keterampilan tenaga kerja.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa peningkatan akses terhadap pendidikan perlu diikuti dengan pengembangan keterampilan yang sesuai dengan kebutuhan pasar kerja agar lulusan muda memiliki peluang lebih besar untuk memasuki dunia kerja.
(**)







