Iran Ancam Bombardir Semua Pangkalan AS di Timur Tengah Jika Diserang

Writer: - Selasa, 22 September 2026
Foto yang diabadikan pada 20 Juni 2026 ini memperlihatkan Selat Hormuz di dekat Khasab, sebuah kota kecil di Oman utara. (Xinhua/Wen Xinnian)

Teheran, Sumselupdate.com – Markas Besar Pusat Khatam al-Anbiya, komando militer utama Iran, memperingatkan Amerika Serikat (AS) dan sejumlah negara di Timur Tengah bahwa mereka akan menghadapi serangan jika melakukan tindakan yang dinilai mengancam Iran.

Dalam pernyataan yang disiarkan media Iran pada Minggu (20/9), markas besar tersebut mengatakan pihaknya memiliki informasi intelijen mengenai keputusan Washington untuk kembali mengambil tindakan terhadap Teheran dengan dukungan sejumlah negara di kawasan.

Read More

Pihak Iran menyebut keputusan tersebut diambil dalam sebuah pertemuan yang baru-baru ini berlangsung di Eropa.

Markas Besar Pusat Khatam al-Anbiya memperingatkan bahwa apabila AS melakukan tindakan terhadap Iran, seluruh pangkalan dan kepentingan AS di kawasan Timur Tengah akan dibombardir yang disebutnya berkelanjutan dan efektif.

Iran juga memperingatkan negara-negara kawasan yang dianggap menerapkan kebijakan standar ganda dan bersekutu dengan apa yang disebut Teheran sebagai agresi AS.

Menurut pernyataan tersebut, negara-negara itu tidak dapat lagi mengharapkan angkatan bersenjata Iran untuk menahan diri apabila konflik kembali meningkat.

Peringatan Teheran muncul setelah laporan mengenai pertemuan para pejabat dan komandan militer AS, Israel, serta sejumlah negara Arab di Jerman. Pertemuan tersebut dilaporkan membahas perang dengan Iran dan situasi keamanan di kawasan.

Mengutip dua pejabat Israel, media AS Axios melaporkan pada Selasa (15/9) bahwa Kepala Komando Pusat AS (CENTCOM) Brad Cooper memimpin pertemuan tersebut.

Dalam laporan itu disebutkan Cooper meyakinkan para peserta bahwa militer AS tidak akan meninggalkan kawasan meskipun terjadi serangan Iran terhadap pangkalan-pangkalan AS. Ia juga dilaporkan memberikan penjelasan mengenai rencana peningkatan lalu lintas kapal di Selat Hormuz.

Pada Minggu (20/9), Ketua Parlemen Iran Mohammad Baqer Qalibaf mengatakan Teheran tidak akan kembali ke tahap negosiasi sebelumnya terkait penghentian perang di kawasan maupun pembukaan kembali Selat Hormuz.

Menurut Qalibaf, pembicaraan hanya dapat dilanjutkan apabila Washington memenuhi persyaratan yang diajukan Teheran, termasuk mengakui hak-hak yang disebut Iran sebagai hak sah bangsa Iran serta memenuhi kewajibannya.

Qalibaf mengatakan persyaratan tersebut telah disampaikan kepada Washington melalui para mediator.

Sebelumnya, pada 18 Juni, AS dan Iran menandatangani nota kesepahaman (MoU) mengenai penghentian perang di kawasan di berbagai front, termasuk Lebanon. Berdasarkan MoU tersebut, kedua pihak dijadwalkan menggelar perundingan dalam waktu 60 hari, dengan batas waktu 17 Agustus, untuk mencapai kesepakatan final.

Namun, perkembangan proses perundingan tersebut masih belum jelas di tengah meningkatnya ketegangan antara kedua negara.

Setelah serangan AS-Israel, Iran membatasi pelayaran melalui Selat Hormuz. Sementara itu, pasukan AS memberlakukan blokade laut terhadap kapal-kapal yang menuju atau meninggalkan pelabuhan Iran.

Situasi tersebut meningkatkan ketegangan di sekitar Selat Hormuz, jalur strategis yang menjadi salah satu rute utama perdagangan dan pengiriman energi dunia.

(**)

Bantu Kami untuk Berkembang

Mari kita tumbuh bersama! Donasi Anda membantu kami menghadirkan konten yang lebih baik dan berkelanjutan. Scan QRIS untuk berdonasi sekarang!


Related posts