Iran Siap Buka Kembali Selat Hormuz dalam 2 Hari, Ini Syarat yang Diajukan kepada Amerika Serikat

Writer: - Rabu, 4 November 2026
Foto yang diabadikan pada 20 Juni 2026 ini memperlihatkan Selat Hormuz di dekat Khasab, sebuah kota kecil di Oman bagian utara. (Xinhua/Wen Xinnian)

Teheran, Sumselupdate.com – Iran menyatakan kesediaannya membuka kembali Selat Hormuz dalam waktu dua hari jika Amerika Serikat (AS) memenuhi sejumlah tuntutan yang diajukan Teheran.

Pernyataan tersebut disampaikan Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, dalam konferensi pers mingguan di Teheran, Senin (2/11).

Read More

Baghaei mengatakan, Iran telah mempersingkat waktu pelaksanaan proposal yang sebelumnya dirancang selama tujuh hari menjadi hanya dua hari. Langkah tersebut, menurutnya, merupakan bentuk iktikad baik Teheran untuk membuka jalan menuju penyelesaian konflik.

Ia menjelaskan, dasar pembicaraan tidak langsung antara Iran dan AS melalui para mediator masih mengacu pada rencana tujuh hari yang diajukan Iran pada September lalu.

“Kami telah mengumumkan bahwa jika tuntutan Iran dipenuhi, akan ada kemungkinan untuk memulihkan keamanan di Selat Hormuz dan memulai proses negosiasi dalam waktu singkat,” kata Baghaei.

Namun, peluang pembukaan kembali jalur pelayaran strategis tersebut sangat bergantung pada keputusan Washington dalam merespons tuntutan Teheran.

Baghaei menegaskan, Iran telah menyampaikan persyaratannya secara jelas, wajar, dan logis. Salah satu hal yang menjadi perhatian utama adalah penghentian blokade maritim yang diberlakukan AS terhadap Iran.

Menurutnya, selama Washington belum mengakhiri blokade tersebut dan memenuhi tuntutan yang disebut Iran sebagai tuntutan sah, kesepakatan belum dapat dicapai.

Ia juga menegaskan bahwa tanpa pemenuhan persyaratan tersebut, Selat Hormuz tidak akan dibuka kembali maupun dipulihkan ke kondisi aman.

Sebelumnya, Iran telah menyampaikan proposal tujuh hari yang berisi sejumlah persyaratan untuk mengakhiri perang sekaligus membuka kembali Selat Hormuz kepada AS melalui para mediator.

Proposal tersebut disampaikan di sela-sela Sidang Majelis Umum PBB ke-81 di New York pada 22 September. Setelah pengajuan itu, Teheran dan Washington dilaporkan terus bertukar pesan untuk membahas usulan tersebut.

Ketegangan antara kedua negara meningkat setelah Israel dan AS melancarkan serangan gabungan terhadap Teheran dan sejumlah kota lain di Iran pada 28 Februari.

Iran kemudian membalas melalui serangkaian serangan rudal dan pesawat nirawak yang menargetkan wilayah Israel serta sejumlah pangkalan dan aset militer AS di kawasan Timur Tengah.

Di tengah eskalasi tersebut, Iran memperketat kendalinya atas Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis dunia yang menjadi salah satu rute utama pengiriman minyak dan gas global.

Jika pembukaan kembali Selat Hormuz benar-benar terwujud, perkembangan tersebut berpotensi memengaruhi kelancaran distribusi energi dan aktivitas perdagangan internasional.

(**)

Bantu Kami untuk Berkembang

Mari kita tumbuh bersama! Donasi Anda membantu kami menghadirkan konten yang lebih baik dan berkelanjutan. Scan QRIS untuk berdonasi sekarang!


Related posts