Iran Tolak Bertemu Pejabat AS, Ajukan Syarat Berat untuk Lanjutkan Perundingan

Writer: - Senin, 2 November 2026
Foto yang diabadikan pada 20 Juni 2026 ini menunjukkan Selat Hormuz di dekat Khasab, sebuah kota kecil di Oman utara. (Xinhua/Wen Xinnian)

Doha, Sumselupdate.com – Iran belum memiliki rencana untuk menggelar pertemuan dengan pejabat Amerika Serikat (AS). Teheran masih melanjutkan konsultasi dengan mediator Qatar dan Pakistan terkait sejumlah persyaratan yang harus dipenuhi Washington sebelum perundingan dilanjutkan.

Pernyataan tersebut disampaikan Menteri Luar Negeri Iran Seyed Abbas Araghchi dalam wawancara dengan media Qatar, Al Jazeera, sebagaimana dilaporkan pada Sabtu (31/10/2026).

Read More

Araghchi menepis laporan mengenai kemungkinan pertemuan antara Iran dan AS. Menurutnya, informasi tersebut masih sebatas spekulasi media dan Teheran belum melihat adanya kebutuhan untuk bertemu langsung dengan pejabat Washington.

Ia menegaskan, Iran baru akan memutuskan apakah perundingan dilakukan secara langsung atau tidak langsung setelah pemerintah AS menerima persyaratan yang diajukan Teheran.

Araghchi juga mengungkapkan, delegasi Iran telah berangkat ke Qatar untuk melanjutkan pembicaraan. Sementara itu, ajudannya berada di negara tersebut guna meneruskan konsultasi dengan para mediator.

Salah satu tuntutan Iran berkaitan dengan pengaturan jalur pelayaran di Selat Hormuz. Teheran meminta pengakuan terhadap rute pelayaran baru yang telah dirumuskan bersama Oman sekaligus penutupan rute-rute lainnya.

Selain itu, Iran mengajukan sejumlah persyaratan lain, di antaranya pencabutan sanksi yang diberlakukan setelah Nota Kesepahaman (MoU) Islamabad, pengurangan kehadiran pasukan militer AS di kawasan, serta pemulihan pengecualian sanksi terhadap ekspor minyak Iran.

Teheran juga menuntut pembebasan seluruh aset keuangan Iran yang dibekukan di luar negeri, termasuk dana yang ditahan di Qatar.

Persyaratan lainnya adalah penghentian permusuhan di seluruh front konflik, termasuk di Lebanon.

Terkait program nuklir, Araghchi mengatakan para mediator telah menyampaikan sejumlah usulan yang kini tengah dipelajari pemerintah Iran sebagai bagian dari tahap kedua proses konsultasi.

Menlu Iran itu juga mengungkapkan bahwa surat dari Wakil Presiden AS JD Vance telah dibahas dalam pertemuan tingkat tinggi di Teheran.

Ia menilai upaya Washington membuka peluang dialog dan membangun saling pengertian yang lebih luas sebagai langkah positif.

Sebelumnya, pada 28 Februari, Israel dan AS melancarkan serangan gabungan terhadap Teheran dan sejumlah kota lainnya di Iran. Teheran kemudian membalas dengan serangkaian serangan rudal dan pesawat nirawak yang menyasar Israel serta pangkalan dan aset militer AS di kawasan tersebut.

Iran juga memperketat kendalinya terhadap Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang menjadi salah satu rute utama perdagangan energi dunia.

Gencatan senjata antara pihak-pihak yang bertikai tercapai pada 8 April. Selanjutnya, pada 18 Juni, Iran dan AS menandatangani MoU mengenai penghentian perang di kawasan tersebut di seluruh front.

Berdasarkan kesepakatan itu, kedua negara dijadwalkan menggelar perundingan dalam waktu 60 hari, dengan tenggat 17 Agustus, untuk membahas kesepakatan final terkait program nuklir Iran dan pencabutan sanksi.

Namun, hingga tenggat tersebut, kedua negara belum berhasil mencapai kemajuan yang memadai untuk mewujudkan kesepakatan final.

(**)

Bantu Kami untuk Berkembang

Mari kita tumbuh bersama! Donasi Anda membantu kami menghadirkan konten yang lebih baik dan berkelanjutan. Scan QRIS untuk berdonasi sekarang!


Related posts