Khartoum, Sumselupdate.com – Sedikitnya 2.042 orang tewas dan 785 lainnya luka-luka dalam 214 serangan terhadap fasilitas perawatan kesehatan di Sudan sejak konflik pecah hampir tiga tahun lalu.
Dalam pernyataan bersama, Organisasi Kesehatan Dunia dan UNICEF mengungkapkan bahwa pada kuartal pertama tahun ini saja tercatat 184 korban jiwa dan 295 korban luka.
Kedua badan Perserikatan Bangsa-Bangsa tersebut menyatakan keprihatinan atas meningkatnya skala dan frekuensi serangan terhadap fasilitas kesehatan di wilayah terdampak konflik.
Perwakilan WHO untuk Sudan, Shible Sahbani, menegaskan bahwa serangan-serangan tersebut semakin membatasi akses masyarakat terhadap layanan kesehatan, terutama di saat kebutuhan justru meningkat.
“Serangan-serangan ini semakin membatasi akses ke layanan kesehatan pada saat layanan tersebut paling dibutuhkan,” ujarnya.
Sementara itu, perwakilan UNICEF, Sheldon Yett, menyebut serangan terhadap rumah sakit sebagai pelanggaran serius terhadap hak anak.
Ia menilai tindakan tersebut telah merampas perlindungan serta layanan penting bagi anak-anak, terutama dalam kondisi yang sangat rentan.
WHO dan UNICEF juga menegaskan bahwa serangan terhadap fasilitas kesehatan, tenaga medis, dan pasien merupakan pelanggaran hukum humaniter internasional serta memperburuk krisis kemanusiaan yang sudah terjadi.
Keduanya menyerukan kepada semua pihak yang terlibat konflik untuk menghormati dan melindungi layanan kesehatan, menjamin keselamatan warga sipil dan pekerja kemanusiaan, serta memastikan akses berkelanjutan terhadap layanan esensial.
Diketahui, konflik antara Sudanese Armed Forces dan Rapid Support Forces sejak pertengahan April 2023 telah menewaskan puluhan ribu orang serta menyebabkan jutaan lainnya mengungsi, menurut sejumlah organisasi internasional.
(**)











