AS dan Iran Kembali Saling Serang Meski Sudah Teken MoU, Negara-negara Teluk Kutuk Eskalasi

Writer: - Selasa, 14 Juli 2026
Para personel Pertahanan Sipil Bahrain memadamkan kobaran api yang disebabkan oleh puing-puing drone Iran yang berhasil dicegat di Kota Hamad, Bahrain, pada 11 Juni 2026. (Xinhua/Kementerian Dalam Negeri Bahrain)

Kairo, Sumselupdate.com – Ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali memanas meski kedua negara telah menandatangani nota kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) pada Juni 2026.

Kedua negara kembali saling melancarkan serangan pada Minggu (12/7/2026) terkait situasi keamanan pelayaran di Selat Hormuz.

Read More

Perkembangan terbaru ini memicu kekhawatiran dunia internasional terhadap potensi eskalasi konflik yang lebih luas di kawasan Timur Tengah.

Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) menyatakan pasukannya telah menyelesaikan serangan putaran ketiga terhadap Iran dalam sepekan terakhir. Serangan tersebut disebut sebagai bentuk respons atas serangan pasukan Iran terhadap kapal komersial yang melintas di Selat Hormuz.

Pernyataan itu disampaikan CENTCOM melalui akun resminya di platform X pada Minggu pagi waktu setempat.

Iran kemudian membalas dengan melancarkan serangan ke sejumlah pangkalan dan fasilitas militer AS di kawasan Teluk. Media Iran melaporkan sasaran serangan meliputi fasilitas militer AS di Kuwait, Bahrain, dan Qatar.

Aksi saling serang tersebut langsung menuai kecaman dari sejumlah negara di kawasan.

Mesir menjadi salah satu negara pertama yang mengecam serangan Iran. Dalam pernyataannya, Kementerian Luar Negeri Mesir menyebut serangan tersebut sebagai pelanggaran terang-terangan terhadap kedaulatan negara-negara yang menjadi sasaran.

Menurut pemerintah Mesir, eskalasi militer itu berpotensi mengancam keamanan dan stabilitas kawasan Teluk sekaligus menghambat berbagai upaya diplomatik yang selama ini dilakukan untuk meredakan ketegangan regional.

Mesir juga menegaskan tidak ada alasan yang dapat membenarkan serangan tersebut dan menyerukan penghentian segera seluruh tindakan yang dapat memperburuk situasi. Pemerintah Mesir meminta semua pihak mematuhi hukum internasional guna mencegah ketidakstabilan yang lebih luas.

Irak turut menyampaikan keprihatinan atas meningkatnya ketegangan yang berdampak pada keamanan maritim di kawasan.

Kementerian Luar Negeri Irak menilai situasi tersebut berpotensi mengganggu stabilitas regional sekaligus memengaruhi perdagangan internasional yang sangat bergantung pada jalur pelayaran Selat Hormuz.

Pemerintah Irak kembali menyerukan penyelesaian melalui dialog dan jalur diplomatik serta mendukung seluruh upaya untuk menurunkan eskalasi demi menjaga kepentingan bersama negara-negara di kawasan.

Sementara itu, Uni Emirat Arab (UEA) juga mengutuk serangan rudal dan drone Iran.

Kementerian Luar Negeri UEA menegaskan solidaritas terhadap negara-negara yang menjadi sasaran serangan serta mendukung langkah-langkah menjaga keamanan dan stabilitas kawasan Teluk.

Kementerian Pertahanan UEA mengungkapkan sistem pertahanan negaranya berhasil mencegat rudal dan drone yang mengarah ke wilayah UEA. Otoritas Manajemen Krisis dan Bencana Darurat Nasional UEA memastikan kondisi keamanan tetap terkendali dan menyebut ancaman rudal yang terdeteksi sebelumnya berada di luar wilayah negaranya.

Di sisi lain, Oman juga mengambil langkah diplomatik dengan memanggil Duta Besar Iran untuk menyampaikan nota protes resmi.

Protes tersebut berkaitan dengan serangan drone yang menargetkan sejumlah lokasi di wilayah Musandam dan Al Wusta.

Dalam pernyataan resminya, Kementerian Luar Negeri Oman menyatakan keprihatinan mendalam atas tindakan yang dinilai tidak bertanggung jawab tersebut.

Oman menegaskan pentingnya penghormatan terhadap kedaulatan negara, prinsip bertetangga yang baik, tidak mencampuri urusan dalam negeri negara lain, serta mematuhi norma-norma hubungan internasional.

Qatar juga mengeluarkan kecaman keras terhadap serangan Iran yang menyasar wilayahnya dan sejumlah negara tetangga.

Melalui Kementerian Luar Negeri, Qatar menyebut tindakan tersebut sebagai pelanggaran serius terhadap kedaulatan, integritas wilayah, dan hukum internasional.

Rangkaian serangan terbaru ini menandai kembali meningkatnya ketegangan antara AS dan Iran, sekaligus menimbulkan kekhawatiran akan terganggunya stabilitas keamanan di kawasan Teluk dan jalur perdagangan internasional yang melintasi Selat Hormuz.

(**)

Bantu Kami untuk Berkembang

Mari kita tumbuh bersama! Donasi Anda membantu kami menghadirkan konten yang lebih baik dan berkelanjutan. Scan QRIS untuk berdonasi sekarang!


Related posts