Timur Tengah Memanas, Iran Klaim Serang Pangkalan AS di Negara Teluk, Selat Hormuz Kembali Ditutup

Writer: - Senin, 13 Juli 2026
Ledakan di pelabuhan Dayyer, Bushehr [Ist/AryJeay]

Jakarta, Sumselupdate.com – Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali meningkat setelah Iran dan Amerika Serikat (AS) saling mengklaim melancarkan serangan terhadap berbagai target militer pada Minggu (12/7/2026).

Menurut sejumlah laporan media internasional, Iran menyatakan telah meluncurkan serangan rudal dan pesawat nirawak (drone) ke sejumlah fasilitas yang disebut berkaitan dengan kepentingan militer Amerika Serikat di kawasan Teluk.

Read More

Selain itu, Teheran juga mengklaim kembali menutup jalur pelayaran di Selat Hormuz, salah satu jalur distribusi minyak dan gas alam cair (LNG) paling vital di dunia.

Apabila penutupan tersebut benar-benar diberlakukan, dampaknya diperkirakan akan memengaruhi distribusi energi global karena sekitar seperlima pasokan minyak dunia selama ini melintasi perairan tersebut.

Eskalasi terbaru juga disebut memperluas wilayah konflik. Qatar, yang sebelumnya dikenal sebagai salah satu mediator dalam berbagai upaya diplomasi antara Iran dan negara-negara Barat, dilaporkan turut terdampak.

Sementara itu, Uni Emirat Arab (UEA), Bahrain, Yordania, dan Oman dilaporkan mengaktifkan sistem pertahanan udara menyusul adanya ancaman serangan rudal dan drone.

Di sisi lain, Komando Sentral Amerika Serikat (CENTCOM) mengklaim telah menggempur ratusan target militer Iran dalam beberapa hari terakhir sebagai bagian dari operasi untuk melemahkan kemampuan militer Teheran.

Menurut pernyataan CENTCOM, operasi tersebut juga bertujuan menjaga kebebasan pelayaran internasional di Selat Hormuz.

“Iran tidak mengendalikan selat tersebut. Arus lalu lintas pelayaran tetap berjalan,” demikian pernyataan CENTCOM.

Iran memiliki versi berbeda. Otoritas yang dibentuk pemerintah Iran menyebut aktivitas pelayaran komersial di Selat Hormuz untuk sementara dihentikan akibat meningkatnya aktivitas militer Amerika Serikat di kawasan tersebut.

Media pemerintah Iran juga melaporkan sejumlah ledakan terjadi di beberapa kota pelabuhan serta seorang perwira militer dilaporkan tewas akibat serangan udara yang diklaim dilakukan Amerika Serikat bersama Israel.

Sebagai respons, Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) mengklaim telah menyerang sejumlah fasilitas militer di kawasan Teluk, termasuk pusat komando taktis, hanggar drone, radar, hingga fasilitas logistik yang berada di Yordania, Kuwait, Oman, dan Qatar.

Pemerintah Qatar menyatakan sedikitnya tiga orang mengalami luka-luka akibat serpihan proyektil yang jatuh di wilayahnya. Doha juga menegaskan akan meminta pertanggungjawaban atas insiden tersebut.

Ketegangan tersebut terjadi tidak lama setelah Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi dan Menteri Luar Negeri Oman Badr Albusaidi menggelar pembicaraan di Muscat mengenai pengelolaan Selat Hormuz.

Di tengah situasi yang terus memanas, tokoh senior Iran Mohammad Baqer Qalibaf menyampaikan pernyataan keras melalui akun resminya di platform X.

“Era kesepakatan sepihak telah berakhir. Kami sudah memperingatkan Anda: tepati janji Anda atau bayar harganya. Realitas kini sedang membuktikannya,” tulis Qalibaf.

Hingga berita ini ditulis, sebagian besar informasi mengenai serangan dan kerusakan fasilitas masih berasal dari klaim masing-masing pihak. Belum ada verifikasi independen yang dapat memastikan seluruh rincian serangan tersebut sehingga perkembangan situasi masih terus dipantau.

(**)

Bantu Kami untuk Berkembang

Mari kita tumbuh bersama! Donasi Anda membantu kami menghadirkan konten yang lebih baik dan berkelanjutan. Scan QRIS untuk berdonasi sekarang!


Related posts