Krisis Kesehatan Gaza Memburuk, Kekurangan Obat dan Ambulans Ancam Ratusan Ribu Pasien

Writer: - Minggu, 12 Juli 2026
Warga Palestina yang mengungsi terlihat di dekat tenda-tenda yang rusak akibat serangan udara Israel di Jalan Al-Jalaa di Gaza City pada 27 Juni 2026. (Xinhua/Rizek Abdeljawad)

Gaza, Sumselupdate.com – Pejabat kesehatan di Jalur Gaza memperingatkan krisis kesehatan yang semakin memburuk akibat kelangkaan obat-obatan, peralatan medis, serta berkurangnya layanan ambulans. Kondisi tersebut dinilai mengancam keselamatan ratusan ribu warga yang membutuhkan pelayanan kesehatan.

Direktur Organisasi Bantuan Medis (Medical Relief Organization) di Gaza, Mohammed Abu Afash, mengatakan hingga kini sistem kesehatan belum menerima konvoi bantuan medis yang sebelumnya dijanjikan sejak pemberlakuan gencatan senjata.

Read More

Akibatnya, rumah sakit dan fasilitas kesehatan mengalami kekurangan obat-obatan dan peralatan medis dalam jumlah yang sangat besar. Bahkan, defisit pasokan alat uji medis disebut telah melampaui 87 persen.

“Kelangkaan obat dan peralatan medis semakin memperburuk kemampuan fasilitas kesehatan dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat,” ujar Abu Afash, Sabtu (12/7/2026).

Ia mengungkapkan lebih dari 24.000 pasien yang menderita penyakit kronis kini tidak memperoleh pengobatan yang memadai.

Selain itu, lebih dari 300.000 penderita hipertensi menghadapi risiko komplikasi serius akibat terputusnya akses terhadap obat-obatan.

Abu Afash juga memperingatkan meningkatnya ancaman penyebaran penyakit menular di kamp-kamp pengungsian yang padat penduduk, terutama di tengah suhu musim panas yang terus meningkat.

Sementara itu, otoritas kesehatan Gaza menyatakan sekitar 70 persen armada ambulans tidak lagi dapat beroperasi.

Kondisi tersebut disebabkan oleh serangan yang merusak kendaraan ambulans, kerusakan mesin, serta minimnya pasokan suku cadang. Larangan masuknya ban dan komponen kendaraan ke Gaza juga disebut memperburuk situasi.

Jika kondisi ini terus berlanjut, sistem transportasi medis dikhawatirkan lumpuh sehingga memperlambat penanganan pasien darurat.

Memburuknya kondisi kesehatan di Gaza juga mendapat sorotan dari pejabat Fatah, Munther al-Hayek. Dalam wawancara radio, ia menyebut situasi yang terjadi sebagai “perang skala penuh yang dipimpin oleh Amerika Serikat melalui Israel.”

Sementara itu, gencatan senjata antara Israel dan Hamas dilaporkan masih berlaku sejak 10 Oktober 2025. Namun, krisis kemanusiaan, khususnya di sektor kesehatan, masih menjadi tantangan besar bagi warga Gaza.

(**)

Bantu Kami untuk Berkembang

Mari kita tumbuh bersama! Donasi Anda membantu kami menghadirkan konten yang lebih baik dan berkelanjutan. Scan QRIS untuk berdonasi sekarang!


Related posts