Argentina Singkirkan Swiss 3-1 Lewat Babak Tambahan, Melaju ke Semifinal Piala Dunia 2026!

Writer: - Minggu, 12 Juli 2026
Argentina Singkirkan Swiss 3-1 Lewat Babak Tambahan, Melaju ke Semifinal Piala Dunia 2026! (Sumselupdate.com/ Ist)

Missouri, Sumselupdate.com — Di tengah atmosfer mendebarkan Kansas City Stadium yang dipadati 69.045 pasang mata, Argentina berhasil menaklukkan perlawanan sengit Swiss dengan skor 3-1 melalui babak perpanjangan waktu.

Pertarungan perempat final Piala Dunia 2026 ini menjadi salah satu laga paling dramatis, menyajikan perpaduan taktik, ketahanan mental, dan momen-momen krusial yang mengubah jalannya pertandingan.

Read More

Lionel Messi, sang maestro abadi, sekali lagi membuktikan kelasnya dengan penampilan gemilang yang mengantarkannya meraih penghargaan Man of the Match, meski gol-gol penentu dicetak oleh rekan-rekannya. Kemenangan ini mengukuhkan langkah Albiceleste ke babak semifinal, menjaga asa mereka untuk mempertahankan gelar juara dunia.

Ringkasan Laga

Pertandingan perempat final antara Argentina dan Swiss bukanlah sekadar adu taktik, melainkan pertarungan mental yang menguras energi. Argentina, yang datang dengan rekor sempurna di fase grup, unggul cepat melalui gol Alexis Mac Allister di menit ke-10. Namun, Swiss, yang dikenal dengan pertahanan solid dan semangat juang tinggi, menolak menyerah. Mereka berhasil menyamakan kedudukan lewat Dan Ndoye di babak kedua, bahkan setelah Breel Embolo diusir wasit akibat akumulasi dua kartu kuning. Bermain dengan sepuluh orang, Swiss menunjukkan ketahanan luar biasa, memaksa Argentina bermain hingga babak tambahan. Di sinilah kualitas juara bertahan bicara. Gol Julián Álvarez di menit ke-112 dan Lautaro Martínez di masa injury time babak tambahan kedua akhirnya memastikan kemenangan 3-1 yang dramatis bagi Argentina, mengakhiri perjalanan heroik tim Palang Merah.

Jalannya Babak Pertama

Peluit awal ditiup oleh wasit João Pedro Silva Pinheiro di bawah cuaca cerah Kansas City, Argentina langsung tancap gas, menunjukkan niat mereka untuk mendominasi sejak menit pertama. Dengan formasi 4-3-3 yang fleksibel, Lionel Messi, Julián Álvarez, dan Alexis Mac Allister menjadi poros serangan yang merepotkan pertahanan Swiss yang digalang oleh Nico Elvedi dan Manuel Akanji.

Tidak butuh waktu lama bagi Argentina untuk memecah kebuntuan. Pada menit ke-10, sebuah skema serangan rapi dari sisi kiri pertahanan Swiss berhasil dieksekusi dengan sempurna. Umpan terukur dari Rodrigo De Paul menemukan celah di kotak penalti, dan Alexis Mac Allister dengan tenang melepaskan tembakan yang tak mampu dijangkau kiper Gregor Kobel. Gol ini memberikan keunggulan 1-0 bagi Argentina, memantik euforia di antara para pendukung Albiceleste.

Setelah gol tersebut, Argentina tidak mengendurkan serangan. Statistik menunjukkan dominasi mutlak mereka dengan penguasaan bola mencapai 59% dan total 22 tembakan sepanjang pertandingan, 7 di antaranya tepat sasaran. Messi menjadi motor serangan, sering turun menjemput bola dan mendistribusikannya ke lini serang. Beberapa peluang emas tercipta, termasuk tendangan dari luar kotak penalti dan upaya Julián Álvarez yang masih bisa ditepis Kobel. Argentina mencatatkan xG (Expected Goals) sebesar 2.00 di akhir laga, jauh melampaui Swiss yang hanya 0.53, mengindikasikan kualitas peluang yang mereka ciptakan.

Swiss, di sisi lain, kesulitan mengembangkan permainan di babak pertama. Mereka lebih banyak bertahan dan sesekali mencoba melakukan serangan balik cepat melalui Breel Embolo dan Dan Ndoye. Namun, solidnya lini belakang Argentina yang dikomandoi Cristian Romero dan Lisandro Martínez membuat upaya mereka sering kandas di sepertiga akhir lapangan. Satu-satunya momen penting bagi Swiss di babak pertama adalah kartu kuning yang diterima penyerang andalan mereka, Breel Embolo, pada menit ke-44 karena pelanggaran keras. Kartu kuning ini, yang awalnya terlihat sepele, ternyata akan menjadi awal dari drama besar di babak kedua. Babak pertama berakhir dengan keunggulan tipis 1-0 untuk Argentina.

Jalannya Babak Kedua

Memasuki babak kedua, Swiss tampil dengan semangat yang berbeda. Pelatih Murat Yakin tampaknya memberikan instruksi untuk bermain lebih agresif dan berani menekan. Perubahan taktik ini membuahkan hasil yang mengejutkan. Pada menit ke-67, di tengah dominasi Argentina, Swiss berhasil menyamakan kedudukan. Sebuah serangan balik cepat yang dibangun dari tengah lapangan, memanfaatkan kelengahan lini tengah Argentina, diakhiri dengan apik oleh Dan Ndoye. Tembakan kerasnya dari dalam kotak penalti meluncur deras melewati Emiliano Martínez, mengubah skor menjadi 1-1. Gol ini sontak membungkam sebagian besar stadion dan menyuntikkan kepercayaan diri luar biasa bagi Swiss.

Namun, momen kebangkitan Swiss tak bertahan lama. Lima menit setelah gol penyama kedudukan, petaka menimpa Swiss. Breel Embolo, yang telah menerima kartu kuning di babak pertama, kembali melakukan pelanggaran ceroboh di menit ke-72. Wasit João Pedro Silva Pinheiro tanpa ragu mengeluarkan kartu kuning kedua, yang secara otomatis diikuti oleh kartu merah. Swiss harus bermain dengan 10 pemain di sisa waktu normal, sebuah pukulan telak yang mengubah dinamika pertandingan.

Meski bermain dengan kekurangan satu pemain, Swiss menunjukkan karakter luar biasa. Mereka menarik diri ke belakang, membentuk blok pertahanan yang kokoh, dan berjuang mati-matian untuk menahan gempuran Argentina. Lionel Messi dan kawan-kawan semakin gencar melancarkan serangan, memanfaatkan keunggulan jumlah pemain. Pelatih Lionel Scaloni melakukan beberapa pergantian pemain untuk menambah daya gedor: Nicolás González masuk menggantikan Nicolás Tagliafico, Gonzalo Montiel menggantikan Nahuel Molina, dan Lautaro Martínez masuk menggantikan Rodrigo De Paul di menit-menit akhir waktu normal (85′). Swiss juga melakukan tiga pergantian sekaligus di menit ke-86, memasukkan Djibril Sow, Zeki Amdouni, dan Fabian Rieder untuk memperkuat lini tengah dan pertahanan.

Argentina terus mencoba segala cara, melancarkan 12 tembakan di dalam kotak penalti dan 10 dari luar kotak penalti. Namun, rapatnya pertahanan Swiss dan penampilan heroik kiper Gregor Kobel membuat skor 1-1 bertahan hingga peluit panjang babak kedua berbunyi. Pertandingan harus dilanjutkan ke babak perpanjangan waktu.

Babak Tambahan

Babak perpanjangan waktu dimulai dengan intensitas tinggi. Argentina, dengan keunggulan jumlah pemain dan penguasaan bola yang dominan, terus menekan pertahanan Swiss yang mulai kelelahan. Scaloni melakukan pergantian strategis, memasukkan Thiago Almada menggantikan Enzo Fernández di menit ke-91 dan Nicolás Otamendi menggantikan Cristian Romero di menit ke-106 untuk menjaga kesegaran lini belakang. Sementara itu, Swiss juga mencoba melakukan perubahan, memasukkan Ardon Jashari dan Rubén Vargas untuk mencari energi baru.

Tekanan Argentina akhirnya membuahkan hasil di menit ke-112. Setelah serangkaian serangan dan kombinasi apik di area pertahanan Swiss, sebuah celah akhirnya terbuka. Julián Álvarez, yang menunjukkan ketajamannya sepanjang turnamen, berhasil memanfaatkan peluang tersebut dengan dingin. Tembakannya mengoyak jala gawang Kobel, membawa Argentina kembali unggul 2-1. Gol ini disambut dengan sorakan histeris dari para pendukung Argentina, yang merasakan kelegaan luar biasa setelah perjuangan panjang.

Mental Swiss yang sudah terkuras akhirnya runtuh. Di menit ke-114, José López dari Argentina menerima kartu kuning, menunjukkan betapa sengitnya pertarungan ini hingga menit-menit akhir. Keunggulan satu gol terasa belum aman bagi Argentina, dan mereka terus mencari gol penutup.

Momen itu tiba di menit-menit akhir babak perpanjangan waktu kedua. Pada menit ke-120+1, Lautaro Martínez berhasil mencetak gol ketiga bagi Argentina, memastikan kemenangan dan mengunci tiket semifinal. Gol ini menjadi penutup sempurna bagi drama panjang di Kansas City, menegaskan dominasi Argentina di momen-momen krusial.

Statistik & Analisis

Analisis statistik pertandingan secara jelas menunjukkan dominasi Argentina, terutama setelah kartu merah Embolo. Argentina menguasai 59% penguasaan bola berbanding 41% milik Swiss. Dalam hal peluang, Argentina jauh lebih superior dengan total 22 tembakan (7 tepat sasaran) dibandingkan 11 tembakan (5 tepat sasaran) dari Swiss. Angka xG (Expected Goals) Argentina sebesar 2.00 berbanding 0.53 Swiss juga menggarisbawahi kualitas peluang yang diciptakan Albiceleste.

Meskipun unggul dalam statistik ofensif, Swiss menunjukkan efisiensi yang patut diacungi jempol dengan 5 tembakan tepat sasaran dari 11 total tembakan. Ini menunjukkan bahwa meskipun jarang menyerang, upaya mereka cukup mengancam. Namun, kartu merah Breel Embolo di menit ke-72 menjadi titik balik krusial. Bermain dengan 10 orang membuat Swiss harus mengubah fokus sepenuhnya ke pertahanan, yang pada akhirnya tidak mampu menahan gempuran Argentina di babak tambahan.

Tiga kartu kuning untuk Argentina (Thiago Almada, Lautaro Martínez, José López) dan satu kartu merah untuk Swiss (Breel Embolo) mencerminkan intensitas fisik pertandingan. Argentina juga unggul dalam jumlah operan (692 berbanding 474) dan akurasi operan (89% berbanding 84%), menunjukkan kontrol mereka terhadap tempo permainan. Duel-duel fisik juga dimenangkan Argentina (58 berbanding 43), menandakan keunggulan mereka dalam perebutan bola.

Man of the Match

Meskipun tidak mencetak gol atau memberikan assist langsung dalam pertandingan ini, Lionel Messi dinobatkan sebagai Man of the Match dengan rating tertinggi 8.8. Keputusan ini tidak mengherankan bagi para pengamat sepak bola. Messi adalah jantung permainan Argentina. Ia menjadi konduktor orkestra serangan Albiceleste, dengan visi, distribusi bola, dan kemampuan dribelnya yang luar biasa.

Data statistik memang tidak selalu mencerminkan seluruh pengaruh seorang pemain. Messi secara konsisten menjadi ancaman, menarik dua hingga tiga pemain Swiss setiap kali menguasai bola, membuka ruang bagi rekan-rekannya. Ia menciptakan “Big Chances” (peluang besar) dan terlibat dalam sebagian besar serangan berbahaya Argentina. Kemampuannya untuk menjaga bola di bawah tekanan, meloloskan diri dari kawalan ketat, dan memberikan umpan-umpan kunci di sepertiga akhir lapangan adalah alasan utama mengapa Argentina mampu menciptakan begitu banyak peluang. Di momen-momen krusial, terutama saat Swiss bertahan dengan 10 pemain, kreativitas dan ketenangan Messi sangat dibutuhkan untuk membongkar pertahanan lawan. Perannya sebagai pemimpin dan inspirator di lapangan tak tergantikan, membuatnya layak mendapatkan penghargaan individu ini.

Melangkah ke Semifinal, Mengukuhkan Rekor Tak Terkalahkan

Kemenangan dramatis ini membawa Argentina melaju ke babak semifinal Piala Dunia 2026. Hasil ini bukan hanya mengamankan posisi mereka di empat besar, tetapi juga memperpanjang rekor tak terkalahkan mereka menjadi 12 pertandingan berturut-turut, termasuk 8 kemenangan di Piala Dunia ini. Ini adalah sinyal kuat bagi lawan-lawan mereka bahwa Argentina adalah tim yang sulit ditaklukkan, bahkan di bawah tekanan paling ekstrem sekalipun.

Bagi Swiss, kekalahan ini menandai berakhirnya perjalanan heroik mereka di Piala Dunia 2026. Meskipun tersingkir di perempat final, penampilan mereka di turnamen ini patut diacungi jempol, terutama semangat juang yang ditunjukkan saat bermain dengan 10 pemain melawan tim sekelas Argentina. Mereka telah membuktikan bahwa mereka adalah kekuatan yang harus diperhitungkan di kancah sepak bola internasional.(**)

Bantu Kami untuk Berkembang

Mari kita tumbuh bersama! Donasi Anda membantu kami menghadirkan konten yang lebih baik dan berkelanjutan. Scan QRIS untuk berdonasi sekarang!


Related posts