Perang AS-Iran Memanas! Amerika Serang 80 Target, Iran Balas Guncang Bahrain dan Kuwait

Writer: - Kamis, 9 Juli 2026
Rudal Iran (Tasnimnews)

Washington/Teheran, Sumselupdate.com – Ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali meningkat setelah kedua negara saling melancarkan serangan yang diklaim menyasar puluhan target militer di kawasan Timur Tengah.

Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) menyatakan pihaknya telah menyelesaikan gelombang baru operasi militer dengan menyerang lebih dari 80 target di Iran pada Selasa (7/7) malam waktu setempat.

Read More

Serangan tersebut disebut sebagai respons atas insiden penyerangan terhadap tiga kapal komersial yang melintasi Selat Hormuz. Sebelumnya, CENTCOM menyebut kapal-kapal tersebut menjadi sasaran serangan ketika melintas di jalur pelayaran strategis tersebut.

Di sisi lain, Iran mengklaim telah membalas serangan AS melalui operasi yang dilakukan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC). Menurut laporan media pemerintah Iran, Press TV, IRGC menyerang 85 lokasi militer AS yang berada di Bahrain dan Kuwait.

Press TV juga melaporkan terjadi sejumlah ledakan baru di Pulau Qeshm dan Pulau Kharg, yang merupakan wilayah strategis Iran di kawasan Teluk Persia.

Sementara itu, komando militer gabungan tertinggi Iran menegaskan angkatan bersenjata negara itu akan memberikan “respons yang menghancurkan” terhadap serangan AS. Iran juga menyatakan tidak akan menerima campur tangan Washington dalam pengelolaan Selat Hormuz.

Pada Rabu (8/7), Press TV melaporkan ledakan besar mengguncang Pangkalan Udara Ali Al Salem di Kuwait. Laporan tersebut juga menyebut sejumlah ledakan terdengar di Bahrain, sementara Kementerian Dalam Negeri Bahrain mengonfirmasi sirene peringatan telah dibunyikan.

Ketua Parlemen Iran sekaligus negosiator utama negara itu, Mohammad Bagher Ghalibaf, menilai tindakan AS merupakan pelanggaran serius terhadap nota kesepahaman (MoU). Ia menyebut isu Selat Hormuz, ancaman serangan lanjutan, pemberlakuan kembali sanksi terhadap minyak Iran, serangan ke wilayah selatan Iran, serta berlanjutnya agresi Israel terhadap Lebanon sebagai bentuk pelanggaran yang dilakukan Washington.

“Era perundungan dan pemerasan sudah berakhir. Hal itu tidak akan membawa hasil apa pun,” tulis Ghalibaf melalui akun media sosial X.

Di sisi lain, Departemen Keuangan AS melalui Kantor Pengawasan Aset Asing (OFAC) pada Selasa mengumumkan pencabutan lisensi yang sebelumnya mengizinkan penjualan minyak asal Iran hingga 21 Agustus. Kebijakan tersebut diambil setelah insiden penyerangan terhadap tiga kapal tanker minyak di Selat Hormuz.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada konfirmasi independen mengenai jumlah target yang diserang maupun besaran kerusakan yang ditimbulkan dari masing-masing klaim kedua belah pihak.

(**)

Bantu Kami untuk Berkembang

Mari kita tumbuh bersama! Donasi Anda membantu kami menghadirkan konten yang lebih baik dan berkelanjutan. Scan QRIS untuk berdonasi sekarang!


Related posts