Paris, Sumselupdate.com – Aktivitas pelayaran di Selat Hormuz mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan setelah tercapainya kesepakatan penghentian operasi militer antara Amerika Serikat dan Iran.
Harian Prancis Le Monde, mengutip data perusahaan analisis maritim Kpler, melaporkan sedikitnya 36 kapal pengangkut komoditas melintasi Selat Hormuz pada Senin (22/6/2026). Jumlah tersebut menjadi yang tertinggi sejak pecahnya konflik di Iran.
Meski demikian, angka tersebut masih jauh di bawah kondisi normal. Pada masa damai, rata-rata sekitar 120 kapal melintasi Selat Hormuz setiap hari.
Peningkatan lalu lintas kapal ini dinilai sebagai sinyal positif bagi perdagangan global, mengingat Selat Hormuz merupakan salah satu jalur pelayaran energi paling strategis di dunia.
Sebelum konflik berlangsung, lebih dari 20 persen pasokan minyak dunia dan gas alam cair (LNG) diangkut melalui jalur perairan tersebut. Selain itu, Selat Hormuz juga menjadi rute penting bagi pengiriman gandum dan berbagai barang konsumsi menuju negara-negara kawasan Teluk.
Sementara itu, upaya diplomasi antara Amerika Serikat dan Iran terus berlangsung. Tim negosiator kedua negara, dengan mediasi Qatar dan Pakistan, telah memulai perundingan tatap muka di kawasan resor pegunungan Buergenstock, Swiss tengah, pada Minggu (21/6/2026).
Pertemuan tersebut menjadi dialog langsung pertama antara kedua negara sejak penandatanganan nota kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) di Islamabad, Pakistan, pekan lalu.
Dalam MoU tersebut, Amerika Serikat dan Iran menyepakati penghentian segera dan permanen seluruh operasi militer di berbagai front konflik, termasuk di Lebanon.
Kedua negara juga berkomitmen melanjutkan perundingan guna mencapai kesepakatan damai permanen dalam jangka waktu maksimal 60 hari.
Para analis menilai stabilitas di Selat Hormuz menjadi faktor krusial bagi perekonomian global. Gangguan terhadap jalur pelayaran tersebut berpotensi memicu lonjakan harga energi, mengganggu rantai pasok internasional, serta meningkatkan biaya perdagangan dunia.
Karena itu, perkembangan positif dalam proses perdamaian antara Amerika Serikat dan Iran menjadi perhatian pelaku pasar dan negara-negara yang bergantung pada pasokan energi dari kawasan Timur Tengah.
(**)











