Duh, Banyak Pekerja yang Belum Bisa ‘Work From Home’

Rabu, 25 Maret 2020
Ilustrasi penanganan virus Corona

Jakarta, Sumselupdate.com – Salah satu curahan hati pekerja yang belum mendapat kebijakan kerja di rumah oleh perusahaan, menjadi puncak gunung es dari kegelisahan banyak pekerja lainnya yang belum mendapatkan kebijakan Work From Home (WFH).

Ini terjadi di tengah ancaman penyebaran corona yang makin masif di Indonesia, khususnya Jakarta dan sekitarnya. Per 24 Maret ada 107 kasus dalam sehari, dengan total 686 kasus, dan 55 kematian.

Bacaan Lainnya

Bagi serikat pekerja, ini menjadi catatan khusus, terutama di sektor manufaktur. Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) mengklaim industri manufaktur maupun transportasi online yang jumlah pekerjanya lebih dari 40 juta orang di seluruh Indonesia belum meliburkan pekerja atau memberlakukan work from home (WFH). Ini juga masih terjadi pada sektor lainnya.

Padahal beberapa kepala daerah dan presiden sudah menyampaikan imbauan agar masyarakat tetap berada di dalam rumah. Tetapi fakta di lapangan, himbauan ini tidak dijalankan oleh para pengusaha karena masih mewajibkan para buruh untuk bekerja.

“Imbauan untuk work from home hanya menjadi macan kertas dan tidak berdampak. Terbukti, masih banyak perusahaan yang tetap beroperasi,” kata Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) Said Iqbal dalam pernyataan resminya, Selasa (24/3/2020) seperti dilansir dari cnbc indonesia.

Ia mengatakan padahal saat ini merupakan waktu yang tepat bagi perusahaan untuk meliburkan para pekerjanya. “Para buruh sangat rentan terpapar corona. Kalau banyak buruh yang terinfeksi, maka perekonomian Indonesia akan semakin terpuruk,” katanya.

Anggota Komisi IX DPR RI Obon Tabroni juga mendesak agar ada kebijakan untuk meliburkan pekerja dengan tetap membayar upah penuh untuk menghentikan penyebaran Covid-19.

Menurutnya, perusahaan yang semestinya diliburkan adalah yang bukan perusahaan strategis. Ini sejalan dengan imbauan pemerintah, agar masyarakat untuk sementara waktu ini tidak berkumpul di satu tempat.

“Imbauan untuk berkumpul tidak akan efektif kalau tidak disertai dengan kebijakan yang lebih konkret. Misalnya dengan meliburkan pekerja dengan tetap membayar upah atau melakukan lockdown,” kata Obon.

Menurutnya, sepanjang pabrik masih beroperasi, kerumunan orang akan sulit dihindari. Karena setiap hari para buruh masih harus berdesakan di angkutan umum, bus jemputan, dan bekerja di lokasi yang sama.

Menurut pria yang juga menjabat sebagai Wakil Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) ini, setiap hari masyarakat yang positif Covid-19 terus bertambah. Sehingga meliburkan pekerja menjadi pilihan yang patut dipertimbangkan.

“Jangan sampai terlambat. Jangan menunggu korban lebih banyak lagi, baru kemudian memutuskan untuk meliburkan perusahaan,” tegasnya. (adm3/cnbci)

Bantu Kami untuk Berkembang

Mari kita tumbuh bersama! Donasi Anda membantu kami menghadirkan konten yang lebih baik dan berkelanjutan. Scan QRIS untuk berdonasi sekarang!


Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.