Cerpen: Lelaki yang Kembali

Karya: Rusmin Toboali

“Dasar manusia bodoh,” teriak seorang lelaki dengan nada suara makian saat menyaksikan  acara televisi yang sedang menayangkan sebuah adegan tentang aksi bom bunuh diri di sebuah cafe di pusat Kota.

Bacaan Lainnya

“Lelaki laknat. Lelaki sesat. Bisanya cuma mengkhianati bangsa dan menyusahkan orang banyak,” sambungnya dengan narasi tinggi dan wajah penuh kegeraman.

“Sampai kapan kamu akan bertobat, wahai lelaki laknat,” tanyanya dalam hati. Sementara suara penyiar televisi terus menarasikan fakta peristiwa yang terjadi per detiknya. Di televisi adegan baku tembak masih terjadi hingga mayat-mayat bergelimpangan. Darah memerah basahi jalanan. Jerit tangisan menghiasi alam. Ada duka yang mendalam.

Cahaya rembulan malam itu mulai menyusuri jaga raya. Lelaki itu  memacu kendaraan roda duanya menembus kegelapan malam. Sebuah hutan kecil yang jauh dari pemukiman menjadi tujuannya.

Dia ingin menemui seseorang. Dan saat baru memasuki hutan, beberapa lelaki muda bertubuh besar bertopeng, menyergapnya.

“Hei Tuan, siapa dan apa tujuan memasuki daerah ini!” hardik seorang dari lelaki bertopeng itu.

“Saya Mat Gebuk. Saya ingin bertemu dengan pimpinanmu,” jawab lelaki itu dengan nada garang.

Mendengar nama Mat Gebuk, para penyergapnya langsung meminta maaf.

” Maaf Pak. Kami tidak tahu dengan Bapak. Silahkan lanjutkan perjalanan,” ujar seorang dari lelaki itu sambil membungkukkan badan.

Dengan ditemani salah seorang dari para lelaki penyergapnya, Mat Gebuk tiba disebuah tempat yang sangat indah dan luas.

Di kiri kanan tempat itu berdiri beberapa pohon-pohon yang rimbun dan tinggi. Panoramanya indah. Apalagi di sebelah rumah yang hendak ditujunya terselip sebuah danau buatan yang sangat luas.

“Selamat datang sahabat. Selamat datang sahabat lama ku. Apa kabar kamu sekarang,” sambut seorang lelaki bertubuh gempal dengan wajah sumringah saat melihat kedatangan Mat Gebuk.

“Kita tidak perlu berbasa-basi. Apa kamu belum bertobat?,” tanya Mat Gebuk sambil menaiki tangga rumah.

“Saudara ku kan tahu, apa tujuan kita selama ini. Kami masih berjuang untuk kehidupan yang lebih baik,” lanjut sang tuan rumah.

“Apa dengan cara membunuh? Apa dengan cara mengkhianati bangsamu? Apa dengan cara menyusahkan masyarakat? Apakah itu dibenarkan?,” tanya Mat Gebuk dengan nada keras. Dan sebelum sang tuan rumah menjawab dengan cepat Mat Gebuk kembali bernarasi.

“Saya ingatkan kepadamu untuk menghentikan aksi purba ini. Sekali lagi saya katakan. Kalau tidak, kamu tahu resikonya,” sambung Mat Gebuk.

Lelaki sang pemilik rumah hanya terdiam. Hanya desis yang keluar dari mulutnya. Sebuah desahan yang amat dalam. Sebuah desahan yang menyiratkan perlawanan jiwa.

“Saya sahabatmu. Sahabat lamamu. Kita sama-sama berjuang untuk menegakkan kebenaran,” jawab sang tuan rumah.

“Benar. Tapi itu bukan cara yang tepat untuk memperjuangkan hak-hak kita. Negara ini punya aturan. Dan kita sebagai warganya wajib mematuhi aturan itu dengan cara-cara yang benar. Bukan dengan cara-cara purba dengan menyusahkan orang ramai,” jawabnya.

Mat Gebuk adalah seorang lelaki yang dikenal sebagai lelaki pemberani dan amat dicari aparat hukum karena aksinya yang selalu menantang aparat dan hukum.

Di mata anak buahnya, lelaki lulusan sekolah tinggi ini adalah pemimpin yang bijaksana dan jarang menyusahkan anak buah pergerakannya.

Tak pernah sama sekali dia berada di belakang layar dalam sebuah aksi. Selalu di depan. Tak heran dia menjadi disegani kaum-kaum perlawanan lainnya.

Di kalangan kaum-kaum perlawanan, dia menjadi tokoh penting dan amat sentral. Narasinya selalu jadi panutan. Keputusannya amat bijaksana.

Masih ingat dalam ingatan khalayak ramai, saat dalam sebuah aksi perlawanan di kawasan keramaian, Mat Gebuk mampu lolos dari penyergapan aparat hukum khusus yang telah mengincarnya.

Dalam sebuah baku tembak yang hebat dan persis di film, dia diselamatkan seorang anak kecil. Dan semenjak dia tahu dari media bahwa anak kecil yang menyelamatkan jiwanya tak tertolong karena diterpa peluru yang harusnya menghantam dadanya, dia mulai meninggalkan kegiatan perlawanannya.

“Kalian bilang saya pengecut, silahkan. Saya bersumpah tak akan ikut dan memimpin perlawanan laknat ini. Saya tidak mau menyusahkan masyarakat. Saya sudah berdosa atas semua yang kita lakukan selama ini. Menyusahkan masyarakat. Tak ada manfaatnya,” narasinya kepada kawan-kawannya.

Kini dia menjalani hidup sebagai warga biasa. Tak ada istimewa yang terlihat dari seorang mantan pemimpin kaum perlawanan yang disegani. Hanya kearifan yang terlihat dari gaya bicaranya.

Dia aktif sebagai petani. Mengolah lahan bekas pertambangan yang dihibahkan seorang penguasaha untuk bekal masa depannya. Mat Gebuk aktif mengedukasi para petani. Sebagai petani dia merasa sangat bahagia dan tenang.

“Saya sangat bahagia saat ini. Sangat bahagia. Semua itu hidayah dari Allah yang Maha Penyayang yang menyadarkan saya untuk kembali ke jalan yang lurus, jalan yang diridhoinya,” ujarnya saat ditanya seorang wartawati dalam sebuah acara talkshow.

“Saya cuma mengimbau kepada semua kawan, sahabat dan rekan yang masih belum kembali ke jalan yang benar untuk segera hidup di negeri ini dengan benar sesuai dengan aturan yang berlaku. Tak ada manfaatnya. Malah banyak mudharatnya,” imbaunya.

Malam makin merenta. Mat Gebuk pun melangkah pasti meninggalkan gedung televisi. Hatinya bahagia. Jiwanya bergelora.

Tatapannya pasti menyongsong masa depan yang bahagia sebagai warga bangsa. Cahaya rembuan menghantarkannya hingga ke rumahnya.

Ya, rumahnya yang dipenuhi aroma ketentraman jiwa sebagai seorang manusia yang menuju jalan ash-shiroothul mustaqiimu. Jalan yang lurus. (**)

Yuk bagikan berita ini...

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.