Cerpen: Golfer

Ilustrasi.

MENJELANG berakhirnya masa jabatan sebagai kepala desa, Matbengel kini punya hobi baru. Bermain golf. Padahal semasa muda, Matbengel dikenal sebagai striker sepakbola yang haus gol.

Dulu, pria setengah baya ini, pernah memperkuat kesebelasan sepakbola kabupaten. Keberhasilan dia menduduki kursi sebagai Kades Desa Ancoklilot empat tahun lebih yang lalu, tak lepas dari nama besarnya sebagai pesepakbola itu.

Read More

Hobi baru Matbengel ini, mengundang seribu tanya di hati masyarakat. Obrolan tentang Matbengel pun terus mengalir.

Di warung-warung, di kedai-kedai bahkan dalam berbagai kesempatan keramaian celoteh tentang hobby baru Matbengel terus bergema dan berdering.

“Aku heran dengan Pak Kades kita ini. Kok hobinya cepat berubah, ya,” ujar Ganyeng kepada beberapa warga masyarakat yang sedang menikmati kopi di warung Mang Din.

“Iya. Aku juga sebagai teman maen sepakbolanya juga kaget setengah mati. Bisa  secepat itu perubahan dalam dirinya. Kini Matbengel juga udah nggak nyambung lagi kalo cerita tentang sepakbola,” sambung Brewok.

“Jelas dong. Matbengel kan kini sudah jadi pemimpin. Sudah jadi orang besar. Punya jabatan, Kades. Olahraganya pun harus bergaya bak orang-orang hebat itu. Masa olahraga orang besar maen kasti atau gasing. Dimana kewibawaannya sebagai orang besar dan penting?,” timpal Junai sambil mengambil sebatang rokok dari kantong saku bajunya.

“Kan ndak mesti seorang pemimpin itu olahraganya golf. Banyak kok pemimpin negeri ini yang tidak menjadikan golf sebagai olahraganya. Pak Presiden saja olahraganya bolavoli.  Semuanya kan tergantung pada ini,” jelas Ganyeng memegang dadanya.

Gunjingan dan celotehan yang berkibar bak bendera merah putih dari berbagai masyarakat Desa Ancoklilot tidak membuat Matbengel menghentikan kebisaannya dan kecintaannya terhadap olahraga golf itu.

Curahan hati dari warga Desa Ancoklilot yang dimuat di rubrik surat pembaca harian lokal pun tidak menjadikan Matbengel menghentikan kecintaannya terhadap olahraga ini. Anjing menggonggong, khafilah jalan terus.

Setiap Sabtu dan Minggu, dengan sepeda motor dinas, Matbengel menuju ibukota kabupaten untuk bermain golf. Bahkan kadang-kadang Matbengel main golf hingga ke ibukota provinsi.

“Masyarakat  kan ndak paham. Apa yang desa ini peroleh dengan aku bermain golf itu?” papar Matbengel suatu ketika menerima kunjungan organisasi pemuda Desa Ancoklilot di Balai Desa.

“Memangnya apa keuntungan yang akan diperoleh masyarakat dan desa ini, Pak Kades? Tanya Arok ketua organisasi pemuda Desa Ancoklilot.

“Dengan bermain golf, aku bisa bertemu dengan para pejabat tinggi daerah dan provinsi. Mareka akan membantu pembangunan desa kita. Desa kita yang masuk kategori desa tertinggal ini akan dapat banyak bantuan dan pembangunan. Mareka itu kan orang-orang yang punya pengaruh besar di kabupaten dan provinsi. Punya jabatan dan kekuasaan. Bahkan banyak investor-investor yang aku kenal di lapangan golf itu berencana menanamkan modalnya di desa kita. Apa masyarakat ndak untung?” jelas Matbengel dengan orasi yang berapi-api bak politisi yang sedang kampanye di panggung terbuka.

“Bahkan, dalam waktu dekat di desa kita akan diadakan pertandingan golf tingkat provinsi. Tingkat Provinsi. Apa ndak hebat? Akan banyak orang-orang penting dan besar yang akan datang ke desa kita. Implikasinya kan membawa keuntungan bagi masyarakat,” urai Matbengel.

Sementara anak-anak muda Desa Ancoklilot terdiam bak patung mendengar paparan Matbengel.

Rencana Matbengel untuk menjadikan Desa Ancoklilot sebagai tempat pertandingan Turnamen Golf Tingkat Provinsi telah menyebar bak virus.

Berbagai komentar bernada sumbang berdengung kearahkan  Matbengel. Namun Matbengel tidak peduli.

Bahkan dalam setiap pertemuan dengan warga, dengan bangga Matbengel selalu mensosialisasikan tentang rencana Desa Ancoklilot menjadi tuan rumah Turnamen Golf tingkat provinsi.

Soal ada respon atau tidak dari masyarakat, bagi Matbengel semua itu bukan masalah. Kan yang punya kebijakan di Desa Ancoklilot adalah dirinya sebagai kades dan pemimpin rakyat.

“Saya sungguh-sungguh sangat heran dan tidak habis pikir. Apa maksud Matbengel menjadikan desa kita sebagai tempat Turnamen Golf ini. Apa maksud Matbengel mengajak kita sebagai panitia turnamen Golf,” tanya Lanyek.

“Pak Kades ingin desa kita dikenal orang. Didatangi orang-orang hebat dan punya kekuasaan itu. Siapa tahu dari pegolf yang hadir, ada berminat menanamkan modalnya di kampung kita,” jawab Arok.

“Dan sebagai warga yang baik, kita wajib membantu Pak Kades mensukseskan turnamen ini. Kan kita juga yang malu kalau turnamen ini gagal atau batal. Dimana martabat kampung kita kalau turnamen ini sampai ndak sukses ataupun gagal,” timpal Abun.

“Benar. Cuma apa mungkin kita-kita yang diangkat sebagai panitia itu paham dengan aturan permainan golf itu? Apa kita tahu aturan olahraga itu? Beda dengan sepakbola. Dan Aku sudah bilang dengan Pak Sekdes. Aku mundur dari kepanitiaan. Aku ndak paham dengan aturan permainan olahraga golf itu. Jangan gara-gara aku yang ndak paham ini, kampung kita malu. Dan turnamen kacau,” ujar Lanyek.

Beberapa malam menjelang Turnamen Golf Tingkat Provinsi akan dilaksanakan, Matbengel duduk di teras depan rumahnya sambil menikmati kopi bikinan istrinya.

Hatinya sedang gundah gulana. Ribuan pertanyaan termemori dalam otak besarnya. Matbengel bertanya-tanya.

Kenapa masyarakat Desa Ancoklilot sudah jarang bertandang ke rumahnya? Kenapa masyarakat tidak berantusias menghadapi rencana Turnamen Golf Tingkat Provinsi.

Padahal dirinya dan para staff kantor desa sudah menjelaskan kepada para warga dalam setiap kesempatan dan pertemuan. Sejuta pertanyaan terus bergulir dan bergulir dalam otak Matbengel.

Tak Tahan menahan gundah sendiri, esok paginya, Matbengel berbincang- bincang dengan sekdes di kantor Kepala Desa Acoklilot.

Di ruangan kerjanya yang apik dan bergaya arsitektur terkini, Matbengel menanyai kesiapan Turnamen Golf Tingkat Provinsi itu.

“Bagaimana Pak Sekdes persiapan turnamen Golf itu? Mohon laksanakan dengan baik. Jangan sampai memalukan desa kita ini sebagai tuan rumah,” tegas Matbengel.

“Itulah persoalannya Pak Kades. Sebagai panitia lokal, kami ini bingung dan bingung bagaimana mengurusnya? Kegiatan inikan beda dengan turnamen sepakbola atau main gasing. Aturan mainnya pun kami tak paham. Dan banyak masyarakat yang menolak menjadi panitia. Saya jadi bingung,” jawab Pak Sekdes sembari mengurut jidatnya.

“Apa alasan mareka menolak sebagai panitia? Apa honornya kurang besar,” tanya Matbengel sembari menyeruput kopi.

“Bukan itu alasannya Pak Kades. Mareka  menolak menjadi panitia karena mareka ndak paham  dengan aturan permainan ini. Jadi mareka takut mepermalukan kampung kita karena ketidakpahaman mareka. Beda dengan sepakbola ataupun gasing yang merupakan olahraga tradisional dan telah mendarah daging bagi masyarakat,” jelas Pak Sekdes.

Suasana ruangan Matbengel sepi. Sunyi. Tak ada lagi suara. Terdiam. Hanya desah nafas Matbengel yang turun naik. Bingung.

Matahari sudah mulai menuju ke peraduannya. Matbengel sedang asyik berbincang dengan istrinya di ruang depan rumah dinas kades.

“Gimana Pak persiapan turnamen golfnya? Kok sepi-sepi bae? Biasanya kan kalo ada turnamen sepakbola atau kasti, udah ramai desa kita ini dengan beragam atribut turnamen,” tanya sang istri sambil menyodorkan segelas kopi hangat di atas meja.

“Itulah Bu yang membuat aku bingung. Pertandingan tak lama lagi. Masyarakat enggan jadi panitia. Alasanya mareka ndak paham dengan aturan permainan golf ini. Mareka nggak mau Desa kita ini malu karena ketidakpahaman mareka terhadap golf,” keluh Matbengel dengan wajah penuh kebingungan.

“Apa ndak sebaiknya dibatalkan saja Pak? Mumpung waktunya masih ada. Serahkan saja kepada desa lain yang masyarakatnya banyak yang menggemari olahraga golf ini dan memahaminya,” saran istri Matbengel. Matbengel terdiam. Matanya menerawang. Pikirannya melayang jauh.

Hari itu, sejumlah masyarakat dari berbagai elemen dan organisasi yang resmi berkumpul di Balai Desa Ancoklilot. Mereka datang ke balai desa memenuhi undangan Pak Kades.

“Saudara saudara sekalian. Hari ini, saya sebagai kades akan menyampaikan kepada warga bahwa Turnamen Golf Tingkat Provinsi yang rencananya akan digelar di desa kita batal dilaksanakan. Saya sudah sampaikan kepada Pak Camat, bahwa turnamen golf itu tidak cocok dilaksanakan di desa kita. Alasannya karena dari zaman dahulu hingga sekarang ini, desa kita ini dikenal sebagai pelahir pesepakbola unggul dan mumpuni. Bukan pelahir golfer,” jelas Matbengel dengan nada tegas.

Masyarakat yang hadir pun terdiam seribu bahasa mendengar paparan Matbengel. Seiring dengan itu, tubuh Matbengel pun roboh dari kursi yang didudukinya. (**)

Karya: Rusmin Toboali

Rusmin Toboali

 

Yuk bagikan berita ini...

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.