Cerpen : Ada Lara dalam Segelas Madu Macan

Ilustrasi

Karya : Rusmin Toboali

Cahaya matahari membangkrutkan diri.  Mulai terbenam dalam mimpi panjangnya. Sinar lembayung di ufuk timur mulai memudar seiring datangnya seberkas cahaya rembulan yang mulai menyapa alam. Menerangi jaga raya dengan ikhlas.

Read More

Sementara di sebuah rumah kontrakan di ujung Kampung, seorang lelaki baru saja terbangun dari mimpi panjangnya. Suara azan magrib bergema sangat religius dari corong pengeras suara masjid.  Derap langkah kaki para jemaah yang bergegas menuju masjid, terdengar jelas.

Lelaki itu menyeruput kopi sisa semalam yang masih tersisa dalam gelas. Kopi itu terasa sangat hampa bak jiwanya yang hampa dimakan pergulatan usia yang makin menua. Sebatang rokok klas murah disulutnya. Asapnya mulai membubung penuhi ruangan rumahnya yang sempit. Sesekali terdengar batuk kecil. Menggetarkan tubuhnya yang mulai ringkih.

Lelaki itu memandang sekitarnya. Sepi. Senyap. Sunyi. Tak ada suara. Hanya suara Imam masjid yang terdengar sangat khusuk membacakan ayat-ayat suci dari mesjid yang tak jauh dari rumahnya. Lelaki itu terdiam. Jiwanya mulai teriris-iris. Tercabik-cabik. Seakan-akan tercerai berai dari raganya.

Lelaki itu sungguh tak menyangka. Sama sekali tak menyangka. Sesendok madu macan telah menjungkalkannya dalam kehidupan yang tak terperikan. Jauh dari kehidupan hakiki sebagai manusia. Jauh dari keluarga. Bahkan teramat jauh dari kereligiusan sebagai manusia.

Sesendok madu macan istilah sebuah minuman khas di arena hiburan di daerahnya. Minuman klas murahan itu yang berisikan campuran madu yang bisa membuat penikmatnya menjadi garang bak macan sehingga membuat malam yang bening menjelma menjadi malam yang sarat kesesatan nurani.

Minuman madu macan diteteskan lewat sendok ke dalam gelas penikmatnya oleh seseorang wanita pekerja di ruang hiburan itu.

Dan gara-gara ketagihan menimati minuman madu macan yang amat khas itu, telah mendamparkannya dalam kehidupan kota yang amat ganas bahkan tak berperikemanusian. Lelaki itu terdampar dalam rimbunnya beton-beton penghias kota. Dan ternyata, lelaki itu kalah ganas dalam rimba tak bertuan Metropolitan. Dia terpincang-pincang dalam kehidupan rimba yang  tak bernurani ini.

“Kita harus pindah ke kota biar kita bisa menikmati kehangatan jiwa kita,” bujuk seorang wanita yang selama ini menjadi pelampiasan shalawatnya dikala nurani dewasanya menggoda.

“Apa bekal kita di Kota?,” tanya lelaki itu.

Lho Mas kan masih punya tabungan dan tanah. Itu bekal kita di kota,” lanjut wanita itu dengan manja.

“Bukankah di sini tak ada yang tahu dengan hubungan kita? Tak ada yang perlu dikhawatirkan toh,” jawab lelaki itu.

“Lagi pula aku tak punya kolega di Kota,” sambung lelaki itu.

“Aku cemburu Mas. Soalnya Mas masih saja pulang ke rumah. Aku ingin Mas bersama aku selamanya,” rengek wanita itu dengan suara yang amat manja. Maklum suara penyanyi.

Dan malam itu keduanya kembali menikmati indahnya malam yang amat bening sebagai malam yang berselimutkan kesesatan jiwa. Kedua anak manusia itu menghabiskan malam yang indah dengan berselimutkan nafsu syahwati.

Lelaki itu akhirnya tak mampu menghalangi hasrat wanita penyanyi itu untuk hijrah ke kota. Dengan segumpal harapan untuk menaklukan dunia Kota yang ganas, mareka mulai mengarungi kerasnya aliran air kehidupan di Kota. Kenikmatan kehidupan Kota masih terasa dalam sebulan pertama. Masih sangat terasa nikmat. Apalagi beberapa kali wanita itu masih sempat manggung di beberapa pertunjukan musik klas kawinan  di pinggiran Kota yang masih bersahabat dengan hijaunya sawah.

“Semoga ini awal yang baik, Mas buat kita berdua. Dan impianku untuk menjadi penyanyi terkenal menjadi kenyataan,” ujar wanita itu dengan nada suara penuh optimisme.

Kota memang bukan tempat yang nyaman buat ambisi tak bertuan. Keinginan sang wanita untuk menjadi penyanyi dalam belantika musik Ibukota tak segampang membalik telapak tangan. Sejuta rintangan terus menghadang. Sejuta aral datang menerjang, hingga keduanya terpuruk dalam kehidupan yang tak berperikemanusian. Terlunta-lunta di keramaian Kota Metropolitan yang ganas.

Dan lelaki itu harus menerima kenyataan ketika wanita itu pergi tanpa malu usai dirinya tanpa pecahan rupiah lagi hidup di Kota. lelaki itu kini hidup sebatang kara di ganasnya Kota. Tanpa kawan. Tanpa sahabat. Dan tanpa kasih sayang.

Ini Kota Bung. Bukan Kampung,” nasehat seorang kawan lamanya.

Lelaki itu hanya menelan air ludah yang terasa sangat pahit mendengar nasehat temannya itu sembari menatap rembulan malam yang malam itu tak bercahaya.

Kini setiap hari hanya muncul rasa bersalah dan penyesalan dalam jiwanya. Rasa penyesalan itu terus mengkristal dalam nuraninya. Dan kini hanya air mata yang menetes dari dua bola matanya yang menjadi teman abadinya. Air mata yang hanya menghiasi ubin rumah kontrakannya yang mulai menghitam, sehitam jiwanya yang mati.

Lelaki itu tersentak ketika sebuah ketukan datang dari arah pintu depan rumahnya. Tergopoh-gopoh dia menuju pintu. Siapa tahu ada tetangga yang berbaik hati kepadanya untuk menghantarkannya sepiring nasi. Dan betapa kagetnya lelaki itu saat pintu terbuka. Seorang wanita cantik yang amat di kenalnya muncul di hadapannya.

” Mama,” serunya dengan nada amat kaget dan pelan.

” Mari pulang, Ma Pak. Anak-anak menunggumu,” sapa wanita cantik itu yang ternyata istrinya.

” Aku malu dengan anak-anak. Aku malu.  Aku seorang bapak yang berdosa kepada mereka,” desis lelaki itu.

” Aku yakin mereka paham dan memaafkan Bapaknya yang tersesat,” ujar istrinya.

Lelaki dan istrinya tiba di Kampung, saat azan subuh berkumandang dengan syahdunya mereligiuskan alam raya. Sapaan akrab dari beberapa warga yang hendak menuju masjid yang ditemuinya sepanjang jalan menuju rumah, membuatnya sadar bahwa jalannya mulai terang seterang mentari yang telah terbangun dari mimpi panjang untuk segera menyinari penghuni alam dengan ikhlas. Seikhlas istri dan anak-anaknya untuk menerima dirinya kembali dalam ruang kehidupan usai dirinya tersesat lewat sesendok madu macan yang kini tak mengaum lagi bahkan telah lama dilupakannya.

Toboali, 9 Oktober 2021

Yuk bagikan berita ini...

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.