Bangkit dari Keterpurukan, Menembus Batas Mimpi

Arni mempersiapkan kemplang Badak Oca pesanan para pelanggannya di rumah kontrakannya.

Laporan: Edwar Heryadi

Pandemi Covid-19 berdampak negatif terhadap perekonomian masyarakat dunia termasuk di Indonesia. Sulitnya berinteraksi dan kesulitan mendapatkan penghasilan yang normal karena berbagai kebijakan pembatasan sosial, membuat ekonomi terpuruk. Sektor Usaha Mikro Kecil Menengah yang menjadi andalan masyarakat ikut terdampak. Namun untuk kembali bangkit bukan suatu hal mustahil dilakukan.

Bacaan Lainnya

PAGI itu, Minggu (25/10/2020), seperti biasa Arni  (59) bersiap-siap untuk memulai aktivitasnya memanggang kemplang.

Pesanan dari pelanggannya yang biasa datang langsung ke rumah kontrakannya di Jalan KH M Asyik, Lorong Cek Ona, 3 Ulu Palembang, Provinsi Sumatera Selatan, sudah cukup banyak.

Bergegas tangannya membuka karung yang berisikan arang dan mengeluarkannya untuk dimasukan ke dalam panci yang sudah dimodifikasi untuk wadah pemanggangan kemplang.

Api dinyalakan dan kipas kecil pun dihidupkan. Kepulan asap mulai menyesaki rongga pernafasan. Saat bara api dari kumpulan arang mulai menyala, dengan cekatan tangan ibu tiga anak ini mulai memanggang kemplang mentah dengan alat bantu berupa penjempit sederhana yang terbuat dari besi dengan handle dilapisi kayu.

Sesekali tangan kanannya menepuk kemplang yang mulai mengembang di atas talenan kayu agar proses pemanggangan kemplang bisa sempurna.

Arni saat melakukan proses pemanggangan kemplang Badak Oca.

Sudah sebelas tahun lebih usaha yang dilabelinya Kemplang Badak Oca digelutinya. Usaha rumahan itu dilakoni Arni setelah suaminya Medi Saleh meninggalkan dirinya untuk selama-lamanya.

Arni harus berjuang sendiri menghidupi ketiga anak Wawan, Ita, dan Oca serta ibundanya Masayu Siti Hawa (80) yang baru meninggal dunia tiga bulan lalu.

Usaha kemplang panggangnya mulai banyak dikenal masyarakat. Selain rasa ikan gabus begitu kentara, ditambah testur kemplang yang sangat padat.

Arni juga memiliki prinsip tidak akan mencampur pengawet apapun di adonan kemplang Badak yang merupakan salah satu ciri khas panganan di Kota Palembang itu.

Seiring pesanan terus meningkat, usaha rumahan Arni berkembang. Pelanggannya yang datang, kebanyakan membeli kemplangnya untuk dijualnya kembali.

Arni patut bersyukur dengan kondisinya sekarang ini. Awal tahun 2020 lalu, dia mengalami keterpurukan. Selain usaha kemplangnya bangkrut, ibundanya pun meninggal dunia.

Dua musibah itu membuat Arni jatuh sakit. Keterpurukan yang dialami Arni juga dirasakan jutaan orang lainnya. Pemicunya tak lain, pandemi Covid-19 melanda Indonesia dan seluruh dunia.

Menurut Arni, saat Covid-19 baru melanda Indonesia, para pelanggannya takut datang ke rumahnya. Untuk bertahan hidup, dia mencoba menjual kemplang di pasar tradisional di dekat rumahnya.

Namun apa hendak di kata, kemplang yang dijualnya di pasar banyak tak laku. Ini lantaran suasana pasar sepi karena masyarakat takut keluar rumah.

Arni pun harus menjalani masa-masa sulit yang harus dilaluinya. Terlebih lagi, dia harus mencicil utang modalnya setiap hari dari koperasi keliling.

Untuk menyambung hidup, Arni terpaksa menjual barang-barang berharga yang dimilikinya dan mengambil upahan memanggang kemplang dari usaha yang dilakoni tetangganya.

Pandemi Covid-19 terus menghantui, dia dan keluarganya pun terpaksa pindah kontrakan dari Rp600 ribu per bulan, ke kontrakan yang lebih murah yakni Rp300 ribu per bulan.

Bahkan, untuk menghemat pengeluaran, dia dan keluarganya harus makan tanpa lauk agar dapur tetap mengepul.

Terima Bantuan Modal

Sampai suatu ketika tepatnya pada Juli 2020 lalu, tim Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) Jurusan Administrasi Bisnis Politeknik Negeri Sriwijaya (Polsri) mengunjungi lokasi usaha sekaligus rumah kontrakannya.

Dalam kunjungannya itu, tim PkM Jurusan Administrasi Bisnis Polsri yang terdiri dari Dr Markoni Badri, MBA, Mariskha. Z, SE, MM, Yulia Pebrianti, SEI, MSi, Dr Neneng Miskiyah, SE, MSi, Purwati, SE, MM, dan Dr L Suhairi Hazizma menyerahkan bantuan dalam rangka meningkatkan hasil produksi kemplang, berupa tepung tapioka, tepung beras, garam, daging ikan gabus.

Bantuan lain yang diserahkan berupa peralatan. seperti alat pemotong kemplang, menambah tempat penjemuran kemplang, wadah berupa tampah penjemuran kemplang, arang untuk pemanggangan, dan membantu dalam bidang promosi dengan membuat desain kemasan.

Arni saat belanja bahan utama kemplang Badak Oca dari bantuan Tim PkM Jurusan Administrasi Bisnis Polsri.

Salah seorang tim PkM Jurusan Administrasi Bisnis Polsri, Mariskha, Z, SE, MM menjelaskan, sumber dana yang  didapatkan dari dana Pengabdian PNBP Polsri.

Menurut Mariskha, PkM ini merupakan salah satu dari Tridarma Perguruan Tinggi yang harus dilakukan dosen selain melaksanakan pendidikan dan pengajaran.

Nah, kenapa usaha kemplang Badak yang dikelola Arni terpilih mendapatkan bantuan, menurut Mariskha, sebelum pandemi Covid-19 melanda, timnya sudah melakukan survei terhadap UMKM atau masyarakat yang dianggap produktif dan dapat dijadikan mitra dalam kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini.

Terpilihnya usaha kemplang Badak yang dikelola secara turun termurun oleh Arni lantaran timnya melihat ada keterbatasan dalam bidang keuangan, proses produksi, dan promosi dari usaha rumahan ini.

“Kita survei sekitar bulan Agustus 2019. Setelah survei kita buat proposal dalam bentuk tulisan dan ternyata lolos seleksi. Pada bulan Juli 2020 setelah kembali kami datangi ternyata, Ibu Arni sangat terdampak dari pandemi Covid-19. Sehingga sangat layak kita bantu. Selain kita bantu bahan baku dan peralatan, juga kita beri pendampingan dan pelatihan kepada ibu Arni cara membuat suatu catatan keuangan yang dapat digunakan dalam perhitungan modal dan hasil yang didapatkan,” jelas Mariskha.

Bantuan ini bagi Arni, ibarat titik balik dari kehidupannya, dan seolah menembus batas mimpinya untuk bisa kembali bangkit dari keterpurukan akibat pandemi virus Corona.

“Pernah saat kami benar-benar terpuruk dan tak ada lagi barang yang akan dijual, suatu malam anak bungsu saya Oca menanyakan, Mak mana dosen Polsri yang datang waktu itu. Saya jawab, sudahlah nak, lupakan saja. Sebab selama ini sudah banyak orang mau memberikan bantuan tapi tidak pernah jadi,” tuturnya.

Kini, setelah tiga bulan menerima bantuan tersebut, Arni sudah mampu bangkit kembali. Dalam seminggu dia dan dibantu tetangganya, mampu memproduksi lebih kurang 5.000-8.000 keping kemplang per minggu.

Ribuan kemplang yang dilabelinya ‘Kemplang Badak Oca’ sudah banyak digemari masyarakat. Kebanyakan pelanggannya memborong kemplang hasil olahannya yang harganya berkisar Rp10 ribu-Rp25 ribu per bungkus tergantung jumlah isinya, untuk dijual kembali.

Tim PkM Jurusan Administrasi Bisnis Polsri saat mengunjungi rumah Arni sekaligus menyerahkan bantuan.

Produktivitas UMKM Turun Drastis

Pandemi Covid-19 sangat terasa dampaknya bagi perekonomian masyarakat terutama di sektor Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM).

Pemerintah Kota (Pemkot) Palembang, Provinsi Sumatera Selatan memastikan produktivitas UMKM menurun drastis, sehingga berbagai upaya bantuan modal usaha diberikan agar bangkit kembali.

Kepala Bidang Pemberdayaan Usaha Mikro Dinas Koperasi dan UKM Kota Palembang, Juana Ria mengatakan, setelah dilakukan pendataan pada 2019 lalu, Kota Palembang memiliki 37.902 pelaku UMKM dari berbagai jenis baik kuliner, kerajinan, fashion, dan jasa.

“Pandemi ini memang sangat berdampak terutama bagi usaha mikro dan kecil. Seperti tidak adanya event di Palembang, berkurangnya acara-acara, sehingga produk yang dihasilkan dan harusnya bisa menjadi rupiah itu sangat minim,” katanya.

Untuk membantu UMKM bangkit kembali di era baru ini, ada bantuan dari presiden yang disalurkan melalui perbankan. Di Palembang sekitar 12.202 UMKM, masing-masing mendapatkan jatah bantuan sebesar Rp2,4 juta.

Selain bantuan dari Presiden RI, ada juga pinjaman tanpa bunga dan agunan ini diberikan Pemerintah Kota Palembang bekerja sama dengan PT Bank Perkreditan Rakyat (BPR) Palembang. “Tahun ini ditarget 4.000 UMKM, tahun lalu terealisasi 4.020,” katanya.

Setiap pedagang atau UMKM mendapatkan pinjaman Rp3 juta dengan tanpa agunan dan bunga. Sebab bunga disubsidi oleh Pemkot Palembang. Ini akan sangat membantu pelaku usaha kecil yang akan mengembangkan usahanya.

“Sehingga, setiap orang bisa menciptakan lapangan pekerjaan bagi orang lain dengan usaha tersebut,” ujarnya.

Bagi masyarakat yang memiliki usaha, bisa mengajukan pinjaman dengan cara mendaftarkan diri ke kelurahan, yang mana data tersebut akan diperiksa dari kelurahan, kecamatan, dan Dinas Koperasi dan UMKM, dan nantinya BPR akan melakukan survei.

“Bank yang menentukan. Sebagian besar diterima, kalau mereka tidak memiliki BI checking, tidak masalah,” katanya.‎ (**)

Yuk bagikan berita ini...

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.