Susno Duadji Sampaikan Derita Petani di Dempo Selatan Lewat Tulisan, Ini Isinya..

Minggu, 25 Agustus 2019

Pagaralam, Sumselupdate.com – Masuk Musim kemarau panjang tahun ini membuat petani di empat dalam wilayah di Kota Pagaralam, Provinsi Sumatera Selatan yakni Kecamatan Dempo Utara,  Dempo Tengah, Dempo Selatan, dan sebagian Kecamatan Pagaralam Selatan juga Pagaralam Utara menderita.

Namun paling terpukul dan menderita dengan kondisi ini adalah petani pengolah sawah yang terancam gagal panen akibat pengairan sawah mereka terhenti akibat kekeringan.

Read More

Akibat debit air irigasi yang menurun drastis bahkan kering sama sekali akibat kemarau ini, sawah-sawah petani menjadi mengering mengakibatkan tanaman padi menjadi mati.

Terparah areal persawahan yang tak bisa diolah hingga gagal panen adalah di kawasan Dempo Utara dan Dempo Selatan.

Seperti curhatan Komjend Pol (Pur) Susno Djuadji yang di masa pensiunnya sekarang banyak menghabiskan waktu menjadi petani di kampung halamannya di Dusun Tebat Gunung, Kecamatan Dempo Selatan.

Melalui akun facebook-nya ‘Susno Djuadji’ menuliskan penderitaan petani di Kecamatan Dempo Selatan yang tak lagi mengolah dan memanen padinya akibat sawah yang mengering, dia juga menceritakan kesusahan warga setempat mendapat air bersih karena sumur-sumur warga ikut mengering. (ric)

Berikut tulisan Komjend Pol (Pur) Susno Djuadji di akun facebooknya.

KEMARAU TAK MENARIK PERHATIAN
————————————————
Dempo Selatan, Ahad 25 Agstus 2019, Kemarau ohhhh,,,, kemarau,, sudah cukup lama ,, sudah sekian bulan,,,, oh hujan belum juga kau mau turun, hujan kenapa kau belum juga membuat petani senyum atau kau mamang senang dengan derita petani, atau sengaja kau gak mau turun agar petinggi negeri , agar para elit, agar para politisi, agar pewarta dan media ada sedikit perhatian pada petani,,,
Tak taulah aku,,,

Kira-kira demikian lah jerit petani kepada cuaca dan alam saat ini,
Kemarau berkepanjangan di mana-mana, kondisi lahat kebun dan sawah sudah ada yg pecah-pecah, tanaman sudah mulai layu , pertanda kematian tumbuh-tumbuhan segera terjadi,,,

Sumber-sumber air mulai kering, sumur rakyat mulai tidak berair, hujan masih juga belum turun,,,

Sementara media dan elit di pusat lebih senang membincangkan koalisi, jatah kursi menteri, dari pada lahan pertanian yang mulai mengering, kalau pun ada bukan soal lahan pertanian, tapi soal kabut asap, agar orang berduit nyaman naik kapal terbang yang hanya impian bagi petani,,, mahal,,, oh mahal,

Petani adalah mayoritas penduduk negeri ini, gagal panin sawah dan kebun maka hancurlah ekonomi petani, itu artinya derita bagi sebagian besar penduduk negeri,,, belum lagi ditambah penderitaan akibat murah nya harga komiditas pertanian , seperi harga ; karet, sawit, lada, kopi, dll.

Kembali ke musim kemarau panjang, petani sangat khawatir tanaman di sawah maupun di ladang akan mati karena kekurangan air, bagi petani yang masih punya modal terpaksa melakukan usaha memperdalam sumur atau membuat sumur baru, hanya sekedar mencari sedikit air untuk menyiram tanamaman dan minuman hewan ternak,,,
Mau buat sumur bor dengan pompa listrik rasanya mustahil karena biayanya lumayan mahal,,,

Demikianlah sekelumit derita petani dikala kemarau panjang terjadi,,,
Kenapa ya ,,, perhatian dan biaya lebih tercurah kepada kabut asap daripada membuat sumur dan pompa untuk membantu petani,,,

Kalau saja dua-dua nya diperhatikan dan dianggarkan ; mengatasi kabut asap dan pompanisasi lahan pertanian rakyat, maka rasanya akan lebih harmonis,,,, naik kapal terbang akan nyaman, petani akan tersenyum , produktivitas pertanian akan stabil,,, ekonomi rakyat menjadi bagus,,,

Semoga

Susno duadji

Bantu Kami untuk Berkembang

Mari kita tumbuh bersama! Donasi Anda membantu kami menghadirkan konten yang lebih baik dan berkelanjutan. Scan QRIS untuk berdonasi sekarang!


Related posts