Gaza, Sumselupdate.com – Untuk pertama kalinya dalam tiga tahun, anak-anak di Jalur Gaza kembali mengikuti pembelajaran tatap muka. Namun, kegiatan belajar mengajar berlangsung dalam kondisi serba terbatas, mulai dari gedung sekolah yang rusak hingga ruang kelas darurat dan tenda.
Sejumlah sekolah mulai kembali dibuka pada Sabtu (19/9/2026). Salah satunya merupakan fasilitas pendidikan yang dikelola Badan Bantuan dan Pekerjaan PBB untuk Pengungsi Palestina di Timur Dekat (UNRWA) di kamp Al-Nuseirat, Gaza tengah.
Dua sekolah pemerintah juga kembali beroperasi di wilayah barat dan timur Gaza City. Sementara itu, para pelajar lainnya mengikuti kegiatan belajar di sejumlah lokasi pendidikan sementara yang tersebar di berbagai wilayah Jalur Gaza.
Seorang pelajar Gaza, Mohammed Al-Farra, menggambarkan sulitnya kondisi yang dihadapi para siswa untuk kembali bersekolah.
“Keadaan saat ini sulit. Perlengkapan sekolah harganya mahal. Rumah-rumah kami telah dibom, dan kami kini tinggal di tenda. Sekolah itu sendiri terdiri dari tenda-tenda, bukan ruang kelas, karena sekolah-sekolah tersebut kini menjadi tempat penampungan bagi para pengungsi,” ujarnya.
Menurut Kementerian Pendidikan dan Pendidikan Tinggi Palestina, sekitar 541.000 pelajar di Gaza mendapatkan manfaat dari berbagai program pendidikan. Dari jumlah tersebut, sekitar 100.000 pelajar terdaftar di sekolah-sekolah UNRWA.
Pemerintah Palestina menyediakan dua jalur pembelajaran bagi para pelajar. Mereka yang dapat menjangkau sekolah atau lokasi pembelajaran yang telah ditentukan dapat mengikuti kelas tatap muka, sedangkan pelajar yang tidak dapat mengakses lokasi tersebut diberikan pilihan pembelajaran daring.
Targetkan 700 Lokasi Pendidikan
Kementerian Pendidikan dan Pendidikan Tinggi Palestina berencana memperluas pembelajaran tatap muka secara bertahap melalui sekitar 700 lokasi pendidikan di seluruh Jalur Gaza.
Selain itu, sekitar 25 sekolah sementara juga diharapkan segera tersedia untuk menambah akses pendidikan bagi anak-anak di wilayah tersebut.
Guru yang berbasis di Gaza, Mohammed Tannira, mengatakan kembalinya pembelajaran tatap muka menjadi momentum penting bagi masyarakat Palestina, meskipun proses pendidikan masih menghadapi berbagai kendala.
“Tahun baru ini menandai kembalinya pembelajaran tatap muka. Terlepas dari segala kondisi sulit yang dihadapi dalam proses pendidikan, rakyat Palestina selalu menghargai pendidikan dan ingin terus belajar,” katanya.
Ia menambahkan, proses pendidikan tetap dilanjutkan meskipun masyarakat Gaza menghadapi dampak perang dan berbagai keterbatasan.
Sementara itu, data yang dikutip dari Kantor Media Pemerintah di Gaza, yang dikelola Hamas, menyebut lebih dari 620.000 pelajar tidak dapat mengikuti kegiatan belajar mengajar secara rutin. Kantor tersebut juga menyatakan lebih dari 20.000 pelajar tewas sejak perang Israel-Hamas dimulai pada Oktober 2023.
Angka tersebut merupakan data yang disampaikan oleh otoritas yang dikelola Hamas dan belum dapat diverifikasi secara independen.
Sekolah Lapangan Dibangun
Pejabat Kementerian Pendidikan di Gaza, Mohammed Al-Asouli, mengatakan terdapat sekitar 620.000 hingga 650.000 pelajar yang seharusnya mengikuti kegiatan belajar di ruang kelas.
Namun, kerusakan terhadap fasilitas pendidikan membuat banyak sekolah tidak dapat digunakan secara normal. Kondisi tersebut mendorong kementerian bersama sejumlah mitra membangun sekolah-sekolah lapangan.
“Ada sekitar 620.000 hingga 650.000 pelajar di Jalur Gaza yang seharusnya saat ini sedang duduk di ruang kelas. Namun, akibat perang yang menghancurkan banyak fasilitas, kami terpaksa mendirikan sekolah-sekolah lapangan agar para pelajar dapat kembali belajar,” ujarnya.
Gangguan terhadap sistem pendidikan juga terlihat dari berkurangnya waktu belajar. Jumlah hari sekolah turun dari sekitar 200 hari pada tahun ajaran 2022-2023 menjadi hanya 60 hari pada tahun ajaran 2025-2026.
Sementara itu, jumlah sesi pembelajaran setiap pekan berkurang dari 30 sesi menjadi 12 sesi.
Sistem pendidikan Gaza juga masih menghadapi keterbatasan sekolah yang dapat digunakan, ruang kelas, perabotan serta berbagai kebutuhan dasar pendidikan.
Meski demikian, Kementerian Pendidikan dan Pendidikan Tinggi Palestina menyatakan jumlah pelajar yang mendaftar pada tahun ajaran baru lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya.
Kondisi itu menunjukkan upaya keluarga di Gaza untuk mempertahankan akses pendidikan bagi anak-anak mereka di tengah kerusakan infrastruktur dan situasi kemanusiaan yang masih sulit.
(**)







