Krisis Pangan Gaza Memburuk, 10 Toko Roti Tutup dan Pasokan Bantuan Jauh dari Kebutuhan

Writer: - Minggu, 25 Oktober 2026
Seorang pengungsi wanita Palestina memanggang roti di atas tungku kayu di sebuah kamp pengungsi di area Universitas Islam di Gaza City barat daya pada 15 Oktober 2026, menjelang Hari Pangan Sedunia yang setiap tahunnya diperingati pada tanggal 16 Oktober. (Xinhua/Rizek Abdeljawad)

Gaza, Sumselupdate.com – Krisis pangan di Jalur Gaza, Palestina, semakin memburuk akibat terbatasnya bantuan kemanusiaan dan barang-barang komersial yang masuk ke wilayah tersebut. Kelangkaan tepung dan kebutuhan pokok bahkan memaksa 10 dari 17 toko roti komersial di Gaza menghentikan operasionalnya.

Para pejabat Palestina dan pakar ekonomi memperingatkan kondisi tersebut dapat memperburuk kerawanan pangan, terutama di tengah terbatasnya pasokan makanan dan kebutuhan dasar masyarakat.

Read More

Nahed Shuhaiber, Kepala Asosiasi Perusahaan Transportasi Swasta di Gaza, mengatakan kepada radio resmi Voice of Palestine bahwa wilayah tersebut tengah menghadapi kelangkaan parah kebutuhan pokok dan pasokan pangan.

Menurut Shuhaiber, otoritas Israel mengendalikan secara ketat jenis barang yang diizinkan masuk melalui pintu-pintu perlintasan. Pembatasan tersebut berdampak pada ketersediaan sejumlah komoditas penting, termasuk sayuran dan tepung.

Sementara itu, Abdel Nasser al-Ajrami, Ketua Asosiasi Toko Roti di Gaza, mengatakan pasokan tepung dan makanan tidak diizinkan masuk ke wilayah tersebut selama beberapa hari. Kondisi ini memaksa 10 dari 17 toko roti komersial di Gaza tutup.

Al-Ajrami menambahkan, sebanyak 21 toko roti yang didukung Program Pangan Dunia Perserikatan Bangsa-Bangsa (WFP) memproduksi sekitar 150 ton roti setiap hari. Namun, jumlah tersebut hanya mampu memenuhi sekitar seperempat kebutuhan roti di Jalur Gaza.

Keterbatasan pangan juga menyulitkan warga yang membutuhkan pola makan khusus untuk menjaga kondisi kesehatan mereka.

Omar Abdel-Hadi (75) dan Hanin Ahmed (43), seorang penderita diabetes, mengatakan kepada Xinhua bahwa mereka kesulitan memenuhi kebutuhan makanan sesuai kondisi kesehatan masing-masing. Keduanya mengaku kerap hanya mengandalkan satu kali makan dalam sehari.

Otoritas pembangunan sosial yang dikelola Hamas di Gaza mengecam pembatasan masuknya barang dan bantuan tersebut. Mereka menyerukan komunitas internasional untuk menekan Israel agar membuka pintu-pintu perlintasan sehingga pasokan kebutuhan pokok dapat masuk.

Sejumlah faksi Palestina lainnya, termasuk Front Populer untuk Pembebasan Palestina dan Front Demokratik untuk Pembebasan Palestina, turut mengecam blokade tersebut. Mereka menyatakan jumlah truk bantuan yang masuk setiap hari masih jauh di bawah angka 600 truk yang disebut telah disepakati.

Pakar ekonomi Ahmed Abu Qamar mengatakan, perlintasan Kerem Shalom atau Karem Abu Salem, yang menghubungkan Israel dengan Jalur Gaza di kawasan perbatasan Mesir, sempat ditutup selama enam hari pada pekan sebelumnya sebelum kembali dibuka secara terbatas.

Menurut Abu Qamar, Jalur Gaza membutuhkan lebih dari 800 truk barang setiap hari. Namun, jumlah truk yang masuk diperkirakan hanya sekitar 200 unit per hari.

Ia memperingatkan bahwa keterbatasan pasokan tersebut berisiko memicu kembali lonjakan kelaparan akut di Jalur Gaza.

(**)

Bantu Kami untuk Berkembang

Mari kita tumbuh bersama! Donasi Anda membantu kami menghadirkan konten yang lebih baik dan berkelanjutan. Scan QRIS untuk berdonasi sekarang!


Related posts