Konflik Yaman Paksa 256.000 Orang Mengungsi, Puluhan Fasilitas Kesehatan Krisis Pasokan

Writer: - Minggu, 25 Oktober 2026
Foto hasil tangkapan layar yang diberikan oleh Pusat Media Houthi ini menunjukkan perahu-perahu nelayan yang rusak akibat serangan udara di pelabuhan al-Kadahah di Distrik Dhubab, Provinsi Taiz, Yaman, pada 20 Oktober 2026. (Pusat Media Houthi/Xinhua)

PBB, Sumselupdate.com – Konflik yang kembali berkobar di Yaman sejak awal Agustus memaksa lebih dari 256.000 orang meninggalkan rumah mereka. Di tengah gelombang pengungsian, kelangkaan bahan bakar, oksigen, obat-obatan, dan perlengkapan medis turut mengancam layanan kesehatan di Provinsi Taiz.

Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA) menyampaikan bahwa lebih dari 256.000 orang telah mengungsi sejak babak baru konflik pecah pada awal Agustus.

Read More

Sementara itu, Komisariat Tinggi PBB untuk Pengungsi (UNHCR) menyebut tempat tinggal sebagai kebutuhan paling mendesak bagi keluarga yang baru mengungsi. Kebutuhan tersebut disusul bantuan makanan dan uang tunai.

Di lima provinsi di Yaman, lebih dari 2.000 keluarga pengungsi dilaporkan belum memiliki tempat tinggal.

Krisis kemanusiaan juga berdampak serius terhadap sektor kesehatan. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperingatkan bahwa kelangkaan bahan bakar, oksigen, obat-obatan, dan perlengkapan medis di Provinsi Taiz mengancam keberlangsungan layanan kesehatan yang menyelamatkan nyawa.

Di Kota Taiz saja, sebanyak 42 fasilitas kesehatan melaporkan mengalami kelangkaan pasokan akut. Kondisi ini mengancam pelaksanaan operasi darurat, layanan dialisis bagi pasien gangguan ginjal, perawatan intensif, serta pelayanan kesehatan ibu dan bayi baru lahir.

WHO mengatakan pasokan obat-obatan darurat telah tiba di Rumah Sakit Al-Thawra, salah satu rumah sakit utama di Kota Taiz. Sementara itu, pasokan medis tambahan masih berada di Aden dan menunggu pengiriman ke wilayah terdampak konflik setelah akses memungkinkan.

Di tengah pembatasan akses yang ketat, berbagai mitra kemanusiaan terus berupaya mempertahankan layanan esensial bagi masyarakat terdampak.

OCHA mencatat, sejak Agustus, para mitra kemanusiaan telah menjangkau lebih dari 188.000 pengungsi, atau sekitar tiga dari lima rumah tangga pengungsi, melalui bantuan makanan, perlengkapan kebersihan, dan uang tunai darurat.

OCHA menegaskan bahwa akses kemanusiaan yang aman, berkelanjutan, dan tanpa hambatan sangat diperlukan agar pasokan kebutuhan pokok serta bantuan penyelamat jiwa dapat menjangkau masyarakat yang membutuhkan.

(**)

Bantu Kami untuk Berkembang

Mari kita tumbuh bersama! Donasi Anda membantu kami menghadirkan konten yang lebih baik dan berkelanjutan. Scan QRIS untuk berdonasi sekarang!


Related posts