Penguatan Karakter Bangsa Melalui Dunia Pendidikan

Rabu, 25 Oktober 2017
Zulva Munayati, S.Pd, M.Pd.

Secara filosofis, pendidikan sejatinya adalah proses pemanusiaan manusia. Sebagai konskuensinya, seluruh proses pendidikan semestinya diarahkan untuk menghasilkan lulusan yang bukan saja cerdas, tetapi juga memiliki watak, kepribadian, atau karakter yang sesuai dengan martabat kemanusiaan. Untuk itu, seluruh proses pendidikan sudah seharusnya pula memperhatikan pendidikan karakter. Pendidikan seperti ini dinilai penting dalam rangka menyiapkan generasi bangsa yang berperadaban, sekaligus dalam rangka mewariskan budaya dan karakter positif yang telah dimiliki oleh masyarakat dan bangsanya.

Kesadaran akan pentingnya penguatan karakter bangsa melalui dunia pendidikan belakangan ini semakin mendapat momentum, terutama ketika persoalan korupsi, terorisme, radikalisme dan ancaman terhadap ideologi Pancasila kian menyeruak. Di sisi lain, kecenderungan bahwa selama ini pendidikan hanya mengedepankan penguasaan pengetahuan (kecerdasan) anak dan mengabaikan pembentukan karakter, juga dinilai telah berkontribusi pada semakin rapuhnya karakter dan budaya bangsa dewasa ini. Padahal, kehidupan masyarakat yang memiliki karakter dan budaya yang kuat akan semakin memperkuat eksistensi suatu negara.

Read More

Berkaca pada sejarah, Indonesia sebenarnya dikenal sebagai bangsa dan negara yang memiliki karakter kuat sebelum zaman kemerdekaan, yang karena karakter itu pula, bangsa ini sukses mencapai dan mempertahankan kemerdekaan. Karakter seperti ini sudah semestinya digali, dipraktikkan dan diwariskan kepada generasi sekarang agar Indonesia tetap kuat dan mampu bersaing di kancah global.

Komitmen Dunia Pendidikan

Dalam acara silaturahmi dengan Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan seluruh Indonesia di Gedung Kemdikbud, Jakarta, 1 Desember 2014 lalu, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) RI telah memaparkan visi-misi pendidikan pemerintah Presiden Jokowi yang dirangkum dalam ‘Nawacita Pemerintah Terkait Pendidikan’. Salah satunya adalah berkomitmen untuk melakukan revolusi karakter bangsa, yang akan ditempuh melalui pembangunan pendidikan kewarganegaraan, menghilangkan model penyeragaman dalam sistem pendidikan nasional, memperteguh kebhinnekaan, dan memperkuat restorasi sosial Indonesia.

Terkait dengan Kurikulum 2013, langkah kementerian terkait juga berkomitmen untuk menghilangkan penyeragaman dalam pendidikan, pengembangan pendidikan kewarganegaraan, dan pengembangan pendidikan karakter.

Dari segi perundang-undangan, sejauh ini telah lahir Peraturan Menteri Pendidikan  dan Kebudayaan (Permendikbud) Nomor 21 Tahun 2015 tentang Gerakan Pembudayaan Karakter di Sekolah. Kemudian Permendikbud Nomor 23 Tahun 2015 Tentang Penumbuhan Budi Pekerti (PBP).

Tidak hanya itu, seiring dengan keluarnya Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 87 Tahun 2017 tentang Penguatan Pendidikan Karakter yang telah ditandatangani pada 6 September 2017, belakangan Kemdikbud RI juga telah menggelorakan gerakan “Cerdas Berkarakter”,

Gerakan penguatan pendidikan karakter yang dijalankan Kemdikbud melingkupi empat dimensi pendidikan karakter. Pertama, olah hati  (etik) yakni individu yang memiliki kerohanian mendalam, beriman dan bertakwa. Kedua, olah pikir (literasi) yaitu individu yang memiliki keunggulan akademis sebagai hasil pembelajaran dan pembelajar sepanjang hayat. Ketiga, olah rasa (estetik) yakni individu yang memiliki integritas moral, rasa berkesenian dan berkebudayaan. Keempat, olahraga (kinestetik) yaitu individu yang sehat dan mampu berpartisipasi aktif sebagai warga negara.

Selanjutnya, dari delapan belas nilai pendidikan karakter yang ada, Kemdikbud menetapkan lima nilai utama prioritas penguatan pendidikan karakter. Yakni, nilai religius, integritas, nasionalis, mandiri, dan gotong royong. Kelima nilai utama karakter ini bukanlah nilai yang berdiri dan berkembang sendiri-sendiri, melainkan nilai yang berinteraksi satu sama lain, yang berkembang secara dinamis dan membentuk keutuhan pribadi.

Yang perlu disadari, dalam implementasi penguatan pendidikan karakter dibutuhkan integrasi para pihak dan integrasi kegiatan. Yang pertama mengacu pada integrasi tri pusat pendidikan yakni sekolah (guru), masyarakat (komunitas), dan keluarga (orang tua) yang harus bersinergi melalui Manajemen Berbasis Sekolah. Sementara yang kedua mengacu pada integrasi intrakulikuler (kegiatan mempelajari mata pelajaran umum untuk memenuhi kurikulum), kokulikuler (kegiatan untuk memperdalam kompetensi dasar dalam kurikulum), dan ekstrakulikuler (kegiatan untuk mengasah bakat dan minat siswa serta keagamaan).

Peran Guru

Lahirnya kebijakan penguatan pendidikan karakter tentunya membawa peluang dan tantangan tersendiri bagi guru sebagai ujung tombak pendidikan. Artinya, meski bukan satu-satunya faktor penentu keberhasilan, namun peran dan profesionalitas guru dinilai cukup dominan dalam mensukseskan kebijakan terkait pendidikan karakter ini.

Terkait dengan peran guru yang dikehendaki dewasa ini, guru sejatinya harus mampu menyiapkan anak didik untuk memiliki kecakapan abad ke-21 yakni berpikir kritis dan analitis, kreatif dan inovatif, komunikatif, serta kolaboratif. Untuk itu, guru pun harus mampu berperan sebagai pengajar, penjaga gawang (penyaring pengaruh negatif), fasilitator, katalisator (mengoptimalkan potensi anak didik), dan penghubung anak didik dengan sumber belajar yang beragam.

Berkenaan dengan profesionalitasnya, guru juga harus mampu melakukan berbagai bentuk inovasi pembelajaran khususnya yang bertemali dengan pengintegrasian pendidikan karakter dalam proses pembelajaran. Integrasi pendidikan karakter di dalam proses pembelajaran tersebut dilaksanakan mulai dari tahap perencanaan, pelaksanaan, hingga evaluasi pembelajaran pada semua mata pelajaran.

Dalam mengelola pembelajaran, guru juga harus memastikan bahwa pendidikan karakter yang berlangsung sejalan dengan rancangan pendidikan karakter (moral) yang oleh Thomas Lickona (1991) disebut moral knowing, moral feeling, dan moral action. Di sini, guru harus mampu membawa peserta didik ke pengenalan secara kognitif, penghayatan nilai secara afektif, dan akhirnya ke pengamalan nilai secara nyata.

Demikian telah jelas bahwa pendidikan karakter sekarang ini mutlak diperlukan bukan hanya di sekolah saja, tetapi juga di rumah dan di lingkungan sosial, demi kelangsungan hidup bangsa ini. Semua pihak, terlebih dunia pendidikan, semestinya menunjukkan kepeduliannya kepada pendidikan karakter untuk mempersiapkan kualitas sumber daya manusia yang berkarakter baik (good character), sekaligus sebagai upaya membekali kunci keberhasilan individu.

Dunia pendidikan pun sudah seharusnya terus menjadi leader dalam penguatan pendidikan karakter. Ini mengingat bahwa pendidikan merupakan instrument penting dalam upaya mengubah nasib dan masa depan bangsa. Terlebih, kita pun telah diingatkan dengan hasil penelitian betapa 80 persen keberhasilan seseorang di masyarakat itu ditentukan oleh emotional quotient yang notabene wujud dari karakter baik seseorang. Begitu pula, tidak ada masa depan yang lebih baik yang bisa diwujudkan tanpa kejujuran, kedisiplinan, kegigihan, tanggung jawab, toleransi, percaya diri, dan optimism sebagai bentuk varian nilai-nilai karakter.

Kita pun patut bersyukur atas lahirnya kebijakan penguatan pendidikan karakter di negeri ini. Meski masih membutuhkan waktu untuk membuktikan sejauhmana kebijakan tersebut berlangsung efektif, namun dalam konteks dunia pendidikan, hal ini setidaknya dapat dimaknai sebagai langkah preventif agar tidak sampai terjadi marabahaya sosial di negeri ini. Untuk itu, kita pun mengapresiasi dan mengamini pendapat Theodore Roosevelt yang menyebut, “To educate a person in mind and not in morals is to educate a menace to society,” — Mendidik seseorang dalam aspek kecerdasan otak dan bukan aspek moral adalah ancaman marabahaya kepada masyarakat. Sekali lagi, semoga pandangan Roosevelt ini bisa menggugah kalangan dunia pendidikan agar terus berjibaku dan memandang penting pendidikan karakter dalam proses pendidikan.

*) Penulis adalah Guru SMK Negeri Sumatera Selatan

Bantu Kami untuk Berkembang

Mari kita tumbuh bersama! Donasi Anda membantu kami menghadirkan konten yang lebih baik dan berkelanjutan. Scan QRIS untuk berdonasi sekarang!


Related posts