Opini: Cerdas, tapi Tetap Merokok

Writer: - Selasa, 23 September 2025
Ilustrasi (Freepik)

Di sebuah kafe di bilangan Jakarta Selatan, Sabtu siang itu, Arga menyalakan sebatang rokok. Di sekelilingnya, asap tipis mengepul, berbaur dengan aroma kopi. Usianya baru 31 tahun, seorang insinyur teknologi lulusan kampus ternama. Ia juga anggota Mensa Indonesia, komunitas eksklusif bagi mereka dengan IQ tinggi. “Saya tahu ini tidak sehat,” ujarnya, sembari mengembuskan asap. “Tapi rasanya susah berhenti.”

Arga bukan pengecualian. Sebuah studi terbaru yang diterbitkan di Tobacco Induced Diseases edisi Juli 2025 meneliti kebiasaan merokok di kalangan anggota Mensa Indonesia. Hasilnya mengejutkan sekaligus melegakan: hanya 10,8 persen responden yang masih merokok. Angka ini jauh di bawah prevalensi nasional, yang menurut Survei Kesehatan Nasional 2023 masih berkisar 34,5 persen—salah satu yang tertinggi di dunia.

Read More

Penelitian itu melibatkan 102 anggota Mensa Indonesia, organisasi yang sejak 1991 menghimpun individu dengan IQ di atas 130. Dari jumlah itu, 11 orang tercatat sebagai perokok aktif dan 10 lainnya mantan perokok. Dengan kata lain, sekitar seperlima dari anggota Mensa pernah bersinggungan dengan tembakau. Bandingkan dengan data Global Adult Tobacco Survey (GATS) 2021 yang mencatat 64,7 persen laki-laki Indonesia masih merokok, sementara pada populasi perempuan hanya 2,3 persen.

“Ini kabar baik, sekaligus ironi,” kata Teuku Muhammad Haykal Putra, peneliti utama dari Jakarta Heart Center. Baik, karena angka prevalensi merokok di kalangan cerdas jauh lebih rendah dari rata-rata nasional. Ironi, karena tetap ada orang dengan tingkat intelektual tinggi yang tak bisa lepas dari candu nikotin.

Cermin Nasional

Indonesia masih menjadi “surga rokok” di Asia. Harga rokok yang relatif murah, regulasi iklan yang longgar, serta budaya sosial membuat konsumsi rokok sulit ditekan. Studi yang sama menyebutkan bahwa hampir semua responden Mensa mengetahui bahaya rokok. Namun, kesadaran itu tak otomatis membuat mereka berhenti. Sebagian perokok mengaku dipengaruhi lingkungan keluarga: punya ayah, kakak, atau paman yang juga perokok.

Arga mengaku mengenal rokok sejak remaja. Ayahnya perokok berat, demikian pula dua pamannya. “Dari kecil, bau rokok sudah biasa di rumah,” ujarnya. Meski masuk kelompok elit dengan kecerdasan tinggi, kebiasaan itu menempel seperti warisan keluarga.

Fenomena ini sejalan dengan riset sebelumnya. Sebuah studi di Swedia pada 2010 menunjukkan, meski IQ berhubungan negatif dengan kebiasaan merokok, faktor lingkungan sosial tetap punya pengaruh kuat. “Cerdas bukan berarti kebal dari tekanan sosial atau kebiasaan rumah tangga,” kata Haykal.

Bantu Kami untuk Berkembang

Mari kita tumbuh bersama! Donasi Anda membantu kami menghadirkan konten yang lebih baik dan berkelanjutan. Scan QRIS untuk berdonasi sekarang!


Related posts