Antara Pengetahuan dan Perilaku
Yang menarik, penelitian ini tak menemukan korelasi signifikan antara tingkat pendidikan dan kebiasaan merokok di kalangan anggota Mensa. Hampir semua responden minimal lulusan sarjana. Namun, baik lulusan doktor maupun sarjana sama-sama bisa terjebak dalam kebiasaan merokok.
Hasil ini berbeda dengan temuan klasik CARDIA Study di Amerika pada 1990 yang menunjukkan semakin tinggi pendidikan, semakin rendah prevalensi merokok. Di Indonesia, tampaknya pengetahuan tentang bahaya rokok sudah tersebar merata di semua jenjang pendidikan. Hampir semua responden—99 persen—mengaku tahu risiko rokok terhadap kanker paru, jantung, hingga kematian dini. Tetapi, seperti Arga, banyak yang tetap merokok.
“Ini menegaskan gap antara pengetahuan dan perilaku,” ujar dr. Syahniar Mukmina dari Harapan Kita National Women and Children Health Center, salah satu penulis riset.
Angka yang Menurun, tapi Perlahan
Secara nasional, prevalensi merokok memang menunjukkan tanda-tanda penurunan tipis. Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan angka perokok harian turun dari 33,8 persen pada 2018 menjadi 32,2 persen pada 2023. Namun, pemerintah belum puas. Target Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) adalah menurunkan prevalensi perokok anak usia 10–18 tahun dari 9,1 persen pada 2018 menjadi 8,7 persen pada 2024. Faktanya, Survei GATS 2021 justru mencatat kenaikan perokok pemula di kelompok usia 10–14 tahun.
Di sisi lain, konsumsi rokok elektrik atau vape juga naik. Studi Mensa Indonesia mencatat sekitar lima persen responden menggunakan vape, meski umumnya bersifat coba-coba. Fenomena serupa terlihat di kota besar. Data Asosiasi Personal Vaporizer Indonesia (APVI) menyebut jumlah pengguna vape di Tanah Air mencapai 2,2 juta orang pada 2022, meningkat dibanding lima tahun sebelumnya.
Cerdas, Sehat, atau Terseret?
Mengapa orang cerdas masih merokok? Riset ini memberi petunjuk: faktor keluarga dan tingkat pendapatan. Mereka yang berpenghasilan lebih tinggi cenderung lebih sedikit merokok. Namun, kaitan itu belum signifikan karena sampel kecil.
Bagi Arga, rokok adalah cara melawan stres. “Tekanan kerja di startup teknologi gila-gilaan,” katanya. Ia sadar bahwa rokok bukan solusi. Tapi seperti banyak perokok lain, ia menjadikan alasan stres sebagai pembenar.
Fenomena ini menggambarkan paradoks Indonesia. Di satu sisi, kelompok dengan literasi tinggi relatif lebih kebal terhadap jebakan rokok. Namun, di sisi lain, masih ada jutaan anak muda dengan akses informasi terbatas yang rentan menjadi korban industri tembakau. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperingatkan bahwa Indonesia termasuk empat besar konsumen rokok dunia, setelah Tiongkok, India, dan Rusia.
Jalan ke Depan
Hasil riset ini, menurut para peneliti, memberi pelajaran penting. Kampanye anti-rokok tak perlu diarahkan ke kelompok cerdas dengan prevalensi rendah, melainkan ke populasi luas dengan literasi rendah. Mereka lebih butuh edukasi dan regulasi ketat.
Pemerintah sebenarnya sudah menaikkan tarif cukai rokok rata-rata 10 persen pada 2024. Namun, harga rokok di Indonesia tetap tergolong murah. Satu bungkus kretek bisa didapatkan dengan harga di bawah Rp20 ribu. Di Malaysia, harga serupa sudah menembus Rp50 ribu.
“Kalau harganya tetap murah, anak-anak akan terus bisa membeli,” kata dr. Kartini, aktivis fiktif dari LSM Kesehatan Rakyat yang bicara di sebuah seminar kesehatan publik. Ia menekankan perlunya kebijakan lebih tegas, termasuk pelarangan iklan rokok di ruang publik.
Bagi Arga, pertanyaan sesungguhnya sederhana: apakah ia akan berhenti? Ia terdiam sejenak. “Mungkin suatu hari nanti,” ujarnya lirih. Saat itu, ia menyalakan rokok lagi.(**)











