Misterius! Puluhan Babi Mati Massal di OKU Selatan, Ada Apa ?

Ilustrasi matinya Babi secara massal di OKU Selatan yang menghebohkan warga.

Laporan: Alpian Patria Jaya

Muaradua, Sumselupdate.com – Fenomena mati massalnya puluhan babi alas atau hutan di Kabupaten OKU Selatan, Provinsi Sumatera Selatan sontak menjadi perbincangan hangat dan menghebohkan masyarakat setempat.

Bacaan Lainnya

Kekhawatiran masyarakat adanya virus berbahaya muncul lantaran hingga berita ini dibuat belum diketahui apa penyebab mati massalnya babi hutan tersebut. Kamis (20/5/2021).

Dari keterangan berbagai sumber yang dihimpun Sumselupdate.com ada  beberapa lokasi ditemukannya puluhan babi yang mati.

Di antaranya di Desa Damarpura, Tanjung Beringin, Tekana, Bandar Agung, dan Jagaraga, Kecamatan Buana Pemaca serta Desa Sipin, Tanjung Sari, dan Desa Sinar Napalan, Kecamatan Buay Pemaca.

Salah satu masyarakat bernama Wayan Tulus yang juga menjabat Kepala Desa Tanjung Sari membenarkan perihal peristiwa misterius terhadap fenomena matinya babi secara massal tersebut.

“Semula sebenarnya saya hanya mendengar desas-desus kabar banyak babi mati secara massal di desa desa tetangga, dan kejadian ini sebenarnya sudah beberapa minggu lalu dan kami juga sempat kaget. Pas saya ke kebun di mana lokasi kebun saya berada di wilayah Kecamatan Buana Pemaca, anak buah saya yang sedang mutil (memetik –red) kopi banyak yang pakai masker karena bau yang begitu menyengat dan mengatakan bahwa di kebun saya, banyak babi yang mati,” ungkap wayan.

“Untuk sementara ini kami hanya bisa mengimbau kepada masyarakat yang lain untuk menghindari mandi di kali serta berburu babi karena kebanyakan babi yang mati secara massal berada di pinggir pinggir kali Kemudian pula kita belum mengetahui apa penyebab dan seperti apa dampaknya bagi masyarakat,” jelas Wayan Tulus.

Sementara itu, Plt Camat Buana Pemaca Rudi wahono, SPsi, MM saat dimintai keterangan di kediaman pribadi miliknya berkomentar sama dan membenarkan perihal fenomena misterius tersebut.

“Sejauh ini kita memang sudah mendengar informasi dari beberapa Kepala Desa yang ada di Buana Pemaca terkait fenomena matinya babi secara massal yang membuat masyarakat heboh tersebut,” beber Rudi.

Rudi juga menjelaskan untuk kasus kematian babi secara massal ini banyak terdapat di Kecamatan Buana Pemaca yang mana di antaranya meliputi Desa Damarpura, Tanjung Beringin, Tekana, serta Desa Bandar.

“Namun untuk secara klinis jujur kita belum mengetahui apa yang melatarbelakangi penyebab kematian babi secara massal tersebut apakah virus ataukah diracun,” ungkapnya.

“Dalam waktu dekat kita akan meminta bantuan dengan menggandeng Dinas terkait seperti Dinas Peternakan, Pertanian serta Dinas terkait lainnya untuk melakukan investigasi penyebab di balik fenomena tersebut,” ujarnya.

“Kita tidak akan anggap enteng masalah ini, jelas kita akan semaksimal mungkin untuk melakukan investigasi dalam artian bisa saja kita akan cek labor sampai hasilnya benar-benar kita dapatkan. Takutnya toh kalau benar itu disebabkan oleh virus maka akan menjadi dampak bagi masyarakat,” jelasnya.

Terpisah, Kepala Dinas Perikanan Dan peternakan OKU Selatan drh. Syukri, MSi didampingi Kabid Peternakan dan Kesehatan Hewan Julaeka Agustin, STP, MTA saat disambangi di kantornya kepada media ini mengaku sudah mendapatkan informasi terkait kasus tersebut.

“Fenomena mati secara massalnya babi hutan ini sebenarnya bukan hal yang baru umumnya untuk wilayah Sumatera Selatan, sebelumnya pada bulan Januari lalu beberapa Kabupaten di Sumsel yakni Kabupaten Banyuasin sama kasusnya dan setelah dilakukan investigasi sesuai dengan hasil cek laboratorium yang dikeluarkan oleh Balai Veteriner Lampung fenomena ini disebabkan oleh Virus African Swine Fever (ASF),” ungkap Syukri.

“Memang kita pertama mendapat informasi matinya secara massal babi ini pada April bulan lalu di Kecamatan Buana Pemaca, dan setelah kita turunkan Tim kelapangan untuk mengambil sample untuk kita bawa guna cek laboratorium babi tersebut sudah membusuk, sehingga belum bisa kita bawa,” ujar Syukri.

“Ke depan jika memang masyarakat menemukan fenomena seperti ini lagi agar cepat menginformasikan kepada kami sehingga kami bisa langsung turun kelapangan untuk mengambil sample guna keperluan cek laboratorium untuk segera diketahui apa yang menjadi penyebab matinya babi secara massal tersebut,” ungkapnya.

Yang jelas sampai saat ini apa yang menjadi penyebab matinya babi secara massal di wilayah OKU Selatan belum bisa disimpulkan, karena masih terkendala sampee yang belum mereka dapatkan.

“Sekali lagi kami mengharapkan kerjasamanya kepada masyarakat yang menemukan fenomena ini untuk sesegera mungkin menghubungi kami di Layanan Telphone 0821-2226-0080 sehingga kami bisa langsung turun ke lapangan,” harapnya.

“Kami mengimbau kepada masyarakat guna mencegah penyebaran dan mengurangi resiko dengan tidak berburu dan tidak mengonsumsi hewan tersebut terlebih dahulu untuk mengetahui penyebab matinya babi tersebut sampai hasil dari cek laboratorium dikeluarkan,” jelas drh Syukri, MSi. (**)

Yuk bagikan berita ini...

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.