Harga Jual Gabah Kering Panen Turun Drastis, Petani di Sumsel Merana  

Wakil Gubernur Sumsel H Mawardi Yahya.

Palembang, Sumselupdate.com – Panen raya padi dari beberapa kabupaten di Sumatera Selatan (Sumsel), membuat penyerapan gabah kering panen (GKP) oleh PU Bulog Sumsel Babel mengalami kenaikan.

Penyerapan yang tinggi membuat Bulog Sumsel Babel berada di urutan ke-3 setelah Jawa Timur (Jatim) dan Jawa Tengah (Jateng).

Bacaan Lainnya

Kondisi ini cukup menggembirakan, di tengah gencarnya isu impor beras ke Indonesia.

Namun saat Sumsel mengalami surplus beras, malah membuat para petani padi di Sumsel merana. Pasalnya, harga jual GKP di Sumsel menurun drastis dari Harga Pembelian Pemerintah (HPP).

Kondisi ini akhirnya menjadi pembahasan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sumsel, dalam acara Kunjungan Kerja Badan Legislatif DPR RI dalam rangka pemantauan dan peninjauan terhadap UU No 18 tahun 2012 tentang Pangan di Sumsel, di Graha Bina Praja Pemprov Sumsel.

Pelaksana tugas (Plt) Kepala Dinas Pertanian, Tanaman Pangan dan Hortikultural Sumsel Rusuan Bambang Pramono mengatakan, produksi beras per tahun 2020 sebesar 2,8 juta ton.

Sedangkan konsumsi beras di Sumsel tahun 2020 hanya sekitar 810.000 ton beras.

“Kita di tahun 2020 saja, ada surplus beras sebesar 2,07 juta ton beras. Tapi bulan Maret 2021 ini, terjadi gonjang-ganjing serapan harga rendah di bawah HPP. Maret ini saja ada surplus 300 ribuan ton beras, sehingga Sumsel tidak perlu impor beras,” katanya.

Dia mengatakan, untuk serapan gabah padi dari petani Sumsel, Bulog Sumsel Babel sudah bekerja cukup optimal, tapi tidak cukup hanya Bulog Sumsel Babel saja yang bekerja.

“Diharapkan pemerintah pusat juga harus menyerap sebanyak mungkin panen raya di Sumsel. Saat ini, GKP di petani padi Sumsel sebesar Rp3.500–Rp3.900 per kilogram. Diharapkan harga sesuai HPP sebesar Rp4.200 per Kg,” ucapnya.

Menurutnya, Gubernur Sumsel Herman Deru juga mendorong percepatan serapan dari pusat.

Diharapkan minggu depan, ada pejabat dari dua kementerian yang menggelar panen di Sumsel.

Hal tersebut sebagai percepatan serapan gabah dan stabilisasi harga setelah panen di Sumsel.

Dia mengatakan, percepatan serapan juga tidak hanya menyasar ke pemerintah pusat saja. Tapi di beberapa provinsi terdekat di Sumsel, seperti Bangka Belitung yang bisa menyerap pangan Sumsel.

“Tidak hanya di Sumsel saja, tapi di Lampung dan Jambi juga panen raya. Permasalahan sekarang, rendahnya harga gabah panen di musim panen ini. Harga tidak tertampung di bulog, harus ada terobosan,” ujarnya.

Kendati bersaing ketat dengan beberapa provinsi yang panen raya, namun Bambang meyakinkan, produktivitas, kualitas dan kuantitas gabah Sumsel cukup baik. Bahkan termasuk daerah unggulan beras berkualitas secara nasional.

Apalagi Sumsel juga dikembangkan berdasarkan spesifikasi lokasi. Dari 17 kabupaten/kota di Sumsel, ada tujuh kabupaten penghasil beras, 5 kabupaten penghasil sayur-mayur dan 4 kabupaten penghasil kedelai dan palawija. (ron)

 

 

Yuk bagikan berita ini...

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.