Di OKU Hamil Pra Nikah Kebanyakan Usia 14-16 Tahun

Kamis, 4 Februari 2016
Suasana seminar dengan tema hamil pra nikah yang dimotori Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Baturaja, di Auditorium Unbara, Kamis (4/2).

Baturaja, Sumselupdate.com

Pergaulan bebas di Kabupaten OKU terbilang cukup memrihatikan. Banyaknya kasus hamil pra nikah yang dialami sebagian generasi muda menjadi warning tersendiri terhadap masa depan generasi muda di kota ini.

Bacaan Lainnya

Persoalan terungkap saat perwakilan Dinas Kesehatan (Dinkes), Kemenag, dan P2TP2A OKU, menjadi pemateri pada acara seminar pra nikah yang dimotori Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Baturaja, di Auditorium Unbara, Kamis (4/2).

Dalam kegiatan tersebut juga terungkap saat ini khususnya di Kabupaten OKU banyak generasi muda masih di bawah umur terlibat pergaulan bebas yang berimbas pada hamil pra nikah.

“Parahnya usia 14 sampai 16 tahun sudah banyak mengalami hamil pra nikah,” ucap Emilia Fitri dari pihak Dinkes (OKU) saat menyampaikan materi di acara tersebut.

Dan juga terkadang para orang tua sendiri kurang memahami pergaulan anaknya dan berimbas terhadap masa depan anak tersebut. Apalagi saat anak tersebut mengalami hamil pra nikah pun orang tua sering salah langkah menganggap anak tersebut sudah mampu berumah tangga dan menikahkan, bukan malah mengantisipasi sedari dini.

“Memang orang tuanya cukup mampu mengatasinya menikah usia dini, tapi secara psikolog belum mampu anak dan keluarga” terangnya..

Emilia menambahkan hal tersebut yang menyebabkan sering terjadinya kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) bahkan sampai perceraian lantaran mereka belum mampu secara psikolog menghadapi persoalan rumah tangga mulai dari aspek ekonomi, finansial, dan agama. “Jangan sampai menjadi jus (janda usia sekolah),” ucapnya.

Senada disampaikan Abbdul Rahmi, Sag, Msi ,perwakilan Kemenag OKU. Dirinya menjelaskan, survei menyebutkan yang pihaknya ketahui tentang hubungan seksual, 4.500 responnden se-Indonesia, 97 persen siswa SMP dan SMA sudah melakukan akses pornografi dan pornoaksi. Dari 4.500 yang melakukan aktifitas 92,7 persen mengarah ke hubungan seksual.

Dikatakannya, pernikahan dini sendiri diakibatkan berbagai faktor di antaranya terabtasnya pemahaman agama, budaya, ekonomi serta sosial. “Budaya rakyat desa lebih cepat nikah dibanding warga kota. Sementara faktor keluarga yakni karna anak banyak, sehingga salah satu solusinya menikahkan,” katanya. (yan).

Bantu Kami untuk Berkembang

Mari kita tumbuh bersama! Donasi Anda membantu kami menghadirkan konten yang lebih baik dan berkelanjutan. Scan QRIS untuk berdonasi sekarang!


Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.