Cerpen: Lelaki Pengayuh Becak

Karya: Rusmin Toboali

Matahari baru saja menampakkan sinar terangnya. Seorang lelaki setengah baya, sudah bersiap untuk berangkat mengayuh becaknya. Tak lupa dia memakai topi yang sudah agak kumal pemberian dari penumpangnya beberapa tahun lalu.

Read More

Soal tarif becak, lelaki itu memang tak pernah memasang tarif untuk ongkos becaknya. Dia menerima dengan sukarela berapa pun ongkos yang diberikan penumpangnya.

Namun ada juga penumpang yang memberikannya tarif yang sangat besar yang bisa membuatnya bisa mengajak istrinya ke pasar membeli baju di pedagang kaki lima di trotoar jalan masuk ke pasar.

Belum lagi zaman sekarang becak kalah bersaing dengan angkutan umum. Lelaki itu tak bisa berbuat banyak, karena hanya becak yang dia miliki sebagai bekal hidup di kota yang ganas ini. Dan hanya ngebecak yang menjadi keahlian semenjak dirinya merantau ke kota Ini.

Setiap hari, lelaki itu berkeliling mengayuh becaknya dan berhenti ketika hari sudah menjelang senja. Arakan senja mengiringinya pulang ke rumahnya. Sebuah rumah kecil yang dia tempati bersama istri. Sementara anak satu-satunya dititipkan di rumah neneknya di kampung. Dan setiap dia pulang mengayuhkan becaknya, istrinya selalu menyambutnya dengan hangat.

“Kita makan dulu ya Pak. Aku sudah menyiapkan makanan untukmu,” ajak istrinya.

Saat istrinya sedang membereskan piring-piring kotor bekas makan mereka, terdengar pintu diketuk dari luar. Lelaki itu membuka pintu dan mempersilakan masuk. Seorang tetangga sebelah rumahnya membawa sebuah keresek hitam dan sepiring makanan.

“Assalamualaikum, Pak. Ini ada sedikit makanan. Tadi sore kami memetik dari kebun belakang kami,” ujar tetangganya.

“Waalaikumsalam. Terimakasih Pak. Alhamdulillah. Semoga Bapak dan keluarga selalu diberikan rezeki yang berlimpah oleh Allah,” kata lelaki itu.

“Amiin…” jawab tetangganya dan langsung berpamitan.

Hari yang terus berganti. Zaman terus berubah. Para pemimpin negara pun telah berubah. Lelaki setengah baya itu masih setia dengan becaknya yang telah menemaninya selama puluhan tahun. Dia masih sangat setia dengan profesinya sebagai tukang becak.

“Kapan ya kita nih berganti profesi,” keluh seorang temannya sesama pembecak.

Lelaki setengah baya itu tertawa sambil memandangi langit yang biru.

“Kalau tidak ngebecak, kita nggak makan Bro,” jawabnya.

Senja itu, usai membecak, lelaki setengah baya itu termenung di depan rumahnya. Memandangi jalanan di depan rumahnya yang belum teraspal hotmix. Jalanan menuju rumahnya masih dipenuh kerikil tajam. Hari-hari teramat berat telah dijalaninya. Senja itu dia tidak punya satupun bahan makanan. Dia dan istrinya jadi gelisah. Terpaksa dan dengan berat hati, mereka kembali berutang lagi pada Mpok Yati pemilik warung sebelah untuk sekilo beras.Utangnya sudah banyak sebagaimana yang diucapkan Mpok Yati.

Lelaki setengah baya itu tak pernah marah atau menyesali keadaan ini. Mungkin batinnya penuh luka dan derita, namun dia tetap tegar menghadapinya.

“Pak. Bagaimana kalau becak bapak kita jual. Uangnya buat modal kita pulang ke kampung,” usul istrinya.

“Aku kerja apa di kampung,” tanya lelaki setengah baya itu.

“Kan dari sisa penjualan becak, bisa kita beliin kebun. Kita hidup di kampung saja,” jawab istrinya.

Lelaki setengah baya itu terdiam. Ada kesedihan dalam jiwanya mendengar usulan istrinya. Lelaki setengah baya itu realistis. Dipandanginya becak yang selama ini selalu bersamanya. Tak terasa airmatanya menetes. Seolah-olah menyiratkan sebuah kepedihan yang terpancar dari dua bola matanya. (*)

Toboali, 15 Januari 2021

Yuk bagikan berita ini...

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.