Cegah Hoaks, Polda Sumsel Gandeng Sejumlah Instansi

Foto bersama.

Laporan: Diaz Erlangga

Palembang, Sumselupdate.com – Jelang pesta demokrasi yang tinggal menyisakan dua setengah tahun lagi, direktorat Intelkam Polda Sumsel gelas Focus Grup Diskusi bertajuk ‘Mencegah hoax, Isu Sara, dan Hate Speech’ yang diselenggarakan di Ballroom Hotel Swarna Dwipa Palembang, Kamis pagi (28/07).

Read More

Dengan menghadirkan narasumber perwakilan KPU Prov. Sumsel, Bawaslu Prov. Sumsel, pengurus PWI, dan serta penegakan hukum dalam hal ini dari Subdit V Siber Ditreskrimsus Polda Sumsel.

Melibatkan  wartawan baik dari media cetak, elektronik dan media online, penggiat media sosial, dan para milenial Sumatera Selatan baik pelajar dan mahasiswa, serta para profesional sebagai peserta dalam FGD yang diselenggarakan.

“Perlunya kesadaran bersama dari seluruh elemen masyarakat yang harus bijak dalam bermedia sosial. Karena berita hoax, isu SARA dan Hate Speech itu disebar melalui media sosial,” sebut Direktur Ditintelkam Polda Sumsel, Kombes Pol Drs Iskandar Fitriana Sutrisna saat membuka FGD di Musim Cafe, kemarin (28/7)).

Menurut Iskandar, upaya pencegahan baik preventif maupun preemtif merupakan tugas dari Ditintelkam. sementara untuk tindakan represif terkait pelanggaran hukum diserahkan kepada Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Ditreskrimsus).

“Sesuai arahan Pak Kapolri tidak semua pelanggaran langsung ke ranah pidana. Tapi perlu dilakukan pendekatan yang soft, salah satunya karena melihat kondisi lapas kita yang over capasity,” sebutnya.

Hendri Almawijaya yang mewakili komisioner KPU Provinsi Sumsel, menjelaskan, pada Pemilu 2019 intensitas penyebaran berita hoax, isu SARA dan Hate Speech akan meningkat, kian menjelang pesta demokrasi.

Ia memprediksi bila dibandingkan pemilu 2019, pada pemilu yang akan datang di tahun 2024 tentu intensitas pemberitaan hoax ini akan lebih jauh meningkat kembali.

“Terjadi upaya eksploitasi berita-berita politik terutama yang terkait pemilu yang cendrung menghujat pihak tertentu,” sebut Hendri.

Hal senada disampaikan  juga  Syamsul Alwi, perwakilan komisioner Bawaslu yang menyebut dalam penyenggaraan pemilu ada tiga racun demokrasi diantaranya hate speech (ujaran kebencian) dan money politic (politik uang).

“Yang masih menjadi ganjalan yakni adanya paradigma di masyarakat terkait isu SARA dan berita hoax yang merupakan isu sensitif. Di tengah kondisi masyarakat kita yang majemuk, hal semacam ini perlu menjadi perhatian kita bersama dan Bawaslu tidak dapat bekerja sendiri tapi butuh dukungan dari seluruh elemen masyarakat,” ajaknya.

Sementara itu, Ketua PWI Sumsel, Firdaus Komar, pers selaku wadah kontrol sosial sesuai amanat Undang-Undang Nomor 40 tahun 1999 harus ikut berperan dalam menangkal setiap berita hoax, isu SARA dan Hate Speech.

“Berita-berita yang dimuat haruslah terverifikasi kebenaran dan akurasinya. Bukan berita bohong, terlebih berita tendensius yang cenderung mendeskriditkan pihak tertentu,” imbuhnya. (**)

Yuk bagikan berita ini...

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.