Jakarta, Sumselupdate.com -Dua kasus pembunuhan dengan cara mutilasi baik yang terjadi di Desa Tanjung Kemala, Kecamatan Martapura, OKU Timur yang hingga kini belum terungkap maupun yang menimpa Nur Astiyah (34) atau Nuri, Warga Jalan Haji Malik, Kampung Telaga Sari, RT 12 RW 01, Kecamatan Cikupa, Jakarta, membuat geger jagad Indonesia.
Di Kabupaten OKUT, warga digemparkan dengan penemuan potongan tubuh manusia berupa kaki dan kepala. Potongan kaki dan kepala itu ditemukan tersangkut di ranting maupun sampah di aliran anak sungai Komering tepatnya di bawah jembatan dua desa Tanjung Kemala.
Sementara kasus menimpa Nuri, membuat warga miris lantaran korban termutilasi saat tengah hamil tua. Pelakunya adalah pacarnya Agus alias Kusmayadi alias Petrus (31).
Menanggapi kasus mutilasi ini, Kriminolog dari Universitas Indonesia Adrianus Meilala mengungkap sudah terjadi 50 kasus mutilasi dalam dua dekade terakhir.
Menurut dia, dari seluruh kasus mutilasi itu, terdapat dua motif yang mendasarinya.
Pertama, niat pelaku agar tidak perlu kabur ketika membunuh korban. “Hal kedua, kita bicara gangguan jiwa,” kata Adrianus di Hotel Grand Kemang, Jakarta, seperti dilansir Liputan6.com, belum lama ini.
Dia menjelaskan belum pernah ada kasus mutilasi yang didasari motif gangguan jiwa di Indonesia.
“Kalau kembali pada data, tidak ada kasus di Indonesia yang terjadi karena gangguan jiwa. Jadi yang terjadi dilakukan karena orang dekat dan bernuansa ada fungsi bahwa pelaku tidak usah lari,” papar Komisioner Ombudsman ini.
Dia mengungkap pembunuhan yang disertai mutilasi tersadis di Indonesia terjadi pada 1976. Dia pun bercerita soal kasus itu.
“Ada jasad seseorang di jembatan Thamrin, cacahan uncountable (tak terhitung). Kalau sekarang (mutilasi Nuri) potongan, dipotong 5-7. Sekarang kurang sadis dibanding yang terjadi dulu pada 1976,” ujar Adrianus. (hyd)











