Terdakwa Perampokan dan Pembunuhan Sidik di Mariana Terancam Hukuman Mati

Suasana sidang perdana dengan terdakwa Muslimin, Jumat (4/12/2020).

Palembang, Sumselupdate.com – Terdakwa Muslimin hanya bisa pasrah di hadapan majelis hakim PN Palembang saat saksi mengatakan bahwa dirinya adalah pelaku pembunuhan yang tergolong sadis.

Muslimin merupakan satu dari lima pelaku kasus perampokan disertai pembunuhan  terhadap korban bernama Sidik Purnomo (61), warga Mariana Banyuasin pada tahun 2013 silam.

Bacaan Lainnya

Dirinya dihadirkan oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejati Sumsel Rini Purnamawati, SH, MH dalam gelar sidang perdana, Jumat (4/12/2020) melalui sidang online dengan agenda pembacaan dakwaan sekaligus menghadirkan saksi dari keluarga korban.

Dalam sidang, terdakwa mengakui turut serta melakukan tindak pidana perampokan dan pembunuhan atas perintah pasangan suami istri Yuliana alias Lebek dan Novriansyah alias Novri dengan upah Rp1 juta.

“Saya diupah oleh Yuliana Rp1 juta untuk menguburkan mayat korban yang sebelumnya dibunuh terlebih dahulu lalu dimasukkan ke dalam karung oleh dua pelaku lainnya Pak,” ungkap Muslimin melalui monitor di hadapan hakim ketua Abu Hanifah, SH, MH.

Diketahui aksi perampokan disertai pembunuhan sadis ini dilakukan oleh lima pelaku termasuk terdakwa Muslimin yang sempat buron selama tujuh tahun sebelum akhirnya ditangkap oleh Ditreskrimum Polda Sumsel di kawasan OKI pada bulan September 2020 lalu.

Sementara pelaku lainnya yaitu Novriansyah alias Novi (adik ipar Muslimin) dan Hendra (keponakan Muslimin) yang keduanya sudah lebih dulu ditangkap, kini harus mendekam di Lapas Nusa Kambangan usai divonis hukuman mati.

Selanjutnya untuk pelaku lainnya yakni Yuliana alias Lebek (adik Muslimin) usai melakukan aksi perampokan disertai pembunuhan ini kabur ke Riau lalu meninggal dunia tahun 2013.

Yuliana bunuh diri di ruang penyidik Polres Pelalawan Riau usai tertangkap kasus narkoba dan curas. Satu pelaku lagi, yakni Amin (adik dari Mulimin) saat ini masih DPO.

Ditemui usai sidang, penasihat hukum terdakwa Muslimin yakni Supendi, SH, MH dari Posbakum PN Palembang membantah bahwa kliennya melakukan pembunuhan sebagaimana dakwaan JPU.

“Menurut kami dakwaan yang ditujukan kepada klien kami kurang pas pembunuhan berencana, sebab klien kami bukan otak pelaku melainkan hanya disuruh oleh pelaku lainnya yakni Yuliana alias Lebek dengan upah Rp1 juta,” katanya

Untuk itu dirinya juga masih melihat dan mempelajari fakta yang terungkap dalam persidangan selanjutnya untuk mengajukan pembelaan (pledoi) dari terdakwa.

“Karena pada sidang selanjutnya masih mengagendakan mendengarkan saksi yang dihadirkan oleh pihak JPU, kali ini rencananya dihadirkan saksi yang menangkap pelaku,” tandasnya.

Di dalam dakwaan terungkap modus yang dilakukan para pelaku ini yakni berpura-pura menyewa mobil korban untuk pindahan rumah.

Setelah korban tiba di rumah pelaku, saat itulah korban dieksekusi. Dalam melancarkan aksi pembunuhan korban awalnya pelaku Yuliana alias Lebek memancing korban dengan pura-pura mau mencanter mobil untuk pindah rumah.

Korban dibunuh dengan cara memasukkan tubuhnya ke dalam bak berisi air hingga lemas oleh pelaku Novri, Hendra dan Amin. Setelah itu korban yang telah tewas dimasukkan ke dalam karung.

Lalu para pelaku yang masih ada hubungan keluarga satu sama lain ini menguburkan mayat korban tidak jauh dari rumah pelaku Yuliana di dekat RS Kundur Mariana. Sementara mobil milik korban berhasil dijual seharga Rp8.5 juta.

Terdakwa Muslimin sendiri oleh JPU dijerat melanggar pasal 340 KUHP Jo. Pasal 56 ke-1 KUHP dengan ancaman pidana maksimal hukuman mati. (ron)

Yuk bagikan berita ini...

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.