Sinopsis Buku “Analisis Wacana, Karakteristik Pojok Koran”

Analisis wacana merupakan bidang ilmu pengetahuan yang baru mendapat perhatian linguis pada 1950-an. Pelopornya adalah Haris, linguis struktural Amerika Serikat yang terkenal melalui hasil kajiannya tentang distribusi elemen-elemen dalam teks dan hubungan antara teks dan situasi sosialnya. Dalam perkembangannya, analisis wacana baru menemukan bentuk dan arahnya secara lebih sempurna pada 1970-an. Sementara di Indonesia, kajian wacana baru menarik perhatian linguis pada 1980-an.

Fakta bahwa analisis wacana merupakan disiplin baru dalam linguistik membuat literatur tentang disiplin ilmu ini pun tidak sebanyak literatur dalam disiplin ilmu lain. Hal ini lebih dirasakan kebenarannya manakala dikaitkan dengan kondisi nyata studi wacana bahasa Indonesia, baik yang berwujud kajian teoritis maupun empiris. Meskipun demikian, kondisi ini seharusnya tidak menjadi penghambat bagi upaya pengembangan kajian wacana bahasa Indonesia dengan berbagai ragam kajiannya.

Read More

Surat kabar, sebagai salah satu wujud kegiatan jurnalistik, tentunya mempunyai ragam bahasa yang khas. Hal ini seperti terlihat dalam teks berita, reportase, cerita pendek, tajuk, pojok, karangan ilmiah populer, dan iklan yang masing-masing memiliki ciri tersendiri. Dengan demikian, terkait dengan pojok, bahasa Indonesia yang digunakannya pun tentu memiliki kekhususan, yang menjadi ciri-ciri kebahasaannya.

Sejauh ini belum banyak kajian yang utuh terkait wacana pojok koran. Untuk itu, kehadiran buku “Analisis Wacana, Karakteristik Pojok Koran” karya Solehun, M. Pd. yang diterbitkan oleh Karya Mandiri Bersama (2021) ini setidaknya dapat memperkaya kajian itu. Karenanya, setelah memabaca hasil analisis wacana terhadap ketiga pojok koran nasional yakni “Mang Usil” (Kompas), “Ole’-Ole’ Si Kabayan” (Pikiran Rakyat), dan “Rehat” (Republika), pembaca pun diharapkan dapat memahami bagaimana karakteristik wacana pojok koran terutama ditinjau dari struktur wacana, ciri kepaduan wacana, dan tindak tuturnya.

Dalam menemukan karakteristik wacana pojok koran penulis bukan hanya mendasarkan diri pada teori analisis wacana, tetapi juga memperkayanya dengan memperhatikan pandangan redaktur koran tentang pojok di medianya. Semua dipaparkan secara ringkas dan jelas dalam enam bab yang terdapat dalam buku ini.

Pada Bab I, penulis membahas pengertian dan jenis wacana. Pengertian wacana dihadirkan dengan berdasarkan pada pengertian leksikal dan pendapat para linguis. Sementara penjenisan wacana dilihat dari enam aspek, yakni berdasarkan realitasnya,  salurannya, sifatnya, langsung atau tidaknya pengungkapan, jenis pemakaiannya, dan cara pemaparannya.

Teori analisis wacana dapat ditemukan pada Bab II buku ini. Pembahasannya mulai dari perkembangan analisis wacana, pengertian analisis wacana, hingga ruang lingkup analisis wacana. Adapun ruang lingkup analisis wacana itu meliputi struktur wacana (struktur tubuh wacana dan mekanisme pergantian dalam wacana), ciri kepaduan wacana (referensi, elipsis, presuposisi, implikatur), dan tindak tutur.

Pada bab selanjutnya, Bab III, penulis membahas tentang wacana dalam pengajaran bahasa. Di sini ditegaskan bahwa wacana mendapat kedudukan penting dalam pengajaran bahasa. Bahkan hakikat interaksi dan kaidah-kaidah wacana merupakan salah satu sumber penting bagi tercapainya kompetensi komunikatif pembelajar bahasa. Selain itu, dijelaskan bahwa dalam pendidikan modern, bahan ajar bukanlah merupakan tujuan, melainkan merupakan alat dan media yang memberi siswa peluang untuk beroleh pengalaman belajar. Bahan ajar tersebut hendaknya diangkat dari sumber beragam, lalu diintegrasikan menjadi kesatuan bahan ajar yang sesuai dengan kebutuhan siswa.

Topik seputar ragam bahasa jurnalistik ditemukan dalam Bab IV. Pembahasannya dimulai dengan menghadirkan pengertian ragam bahasa yang terdiri atas idiolek, sosiolek, dialek, lisan dan tulisan, baku dan nonbaku, dan ragam bahasa bidang tertentu. Selanjutnya, dibahas seputar bahasa jurnalistik, yang memiliki ciri-ciri diantaranya singkat, padat, sederhana, lancar, jelas, logis, cendekia, menarik, dan harus tetap disandarkan pada bahasa baku.

Pembahasan secara khusus tentang wacana pojok koran dapat ditemukan pada Bab V. Pada bab ini diulas secara gamblang pengertian pojok koran, bagaimana pojok koran ditinjau dari segi jenis wacana, pojok koran dalam pandangan redaktur, karakteristik wacana pojok koran, dan wacana pojok koran sebagai bahan ajar.

Khusus terkait karakteristik wacana pojok koran, ini dapat diketahui setelah penulis menemukan bagaimana struktur wacana, ciri kepaduan wacana, dan tindak tutur yang terdapat di dalam pojok koran.

Struktur wacana pojok dapat ditinjau dari segi struktur tubuh dan mekanisme pergantian tuturannya. Pojok merupakan wacana ringkas karena struktur tubuhnya hanya terdiri atas margin inti (100%) atau hanya mengutamakan isi. Sementara mekanisme pergantian tuturan dalam pojok hanya menggunakan dua pola, yaitu pernyataan-sahutan (93,3%) dan pernyataan-pertanyaan (6,7%). Secara rinci, pola pernyataan-sahutan itu terdiri atas pernyataan-sahutan komentar (83,3%), pernyataan-sahutan pembenaran (8,3%), dan pernyataan-sahutan penolakan (1,7%).

Pojok koran termasuk termasuk sebuah wacana yang memiliki ciri kepaduan (referensi, elipsis, presuposisi, implikatur). Referensi dalam wacana pojok ikut mencirikan kepaduan wacananya. Berdasarkan arahnya, penggunaan referensi endofora mencapai 40,7% (endofora yang anafora 27,5% dan endofora yang katafora 13,2%), sedangkan referensi eksofora 35,9%. Selanjutnya berdasarkan sifatnya, terdapat referensi personal (2,1%), demonstratif (14,5%), dan komparatif (6,9%).

Elipsis yang paling banyak ditemukan dalam wacana pojok adalah elipsis kata (48%), disusul elipsis frase (38,7%), elipsis klausa (10,7%), dan elipsis kalimat (2,7%).

Presuposisi wacana pojok lebih cenderung bersifat semantis (98,3%) daripada pragmatis (1,7%). Melalui analisis presuposisi ini tergambar juga tema atau masalah yang diangkat dalam pojok, yakni politik (28,3%), ekonomi (16,7%), hukum (16,7%), sosial budaya (25%), dan pendidikan (13,3%).

Implikatur dalam wacana pojok dapat dikenali dengan penggunaan maksim-maksim dalam prinsip kerjasama partisipannya. Semua jenis maksim itu ditemukan dalam wacana ini, yakni maksim kualitas (43%), kuantitas (15%), relasi (13,3%), dan cara (28,3%).

Beragam tindak tutur juga terdapat dalam wacana pojok koran. Berdasarkan jenisnya, tindak tutur itu adalah representatif (45%), direktif (31,7%), ekspresif (11,7%), deklaratif (8,3%), dan komisif (3,3%). Sementara jika ditinjau dari sifat hubungannya, wacana ini hanya menggunakan tindak tutur lokusi (100%), tanpa ada tindak tutur ilokusi dan perlokusi. Selanjutnya, berdasarkan hakikat pemakaiannya, wacana ini memuat tindak tutur penghormatan (11,7%), sopan-santun (38,3%), dan tidak menghiraukan (50%). Tindak tutur tidak menghiraukan ini terdiri atas tindak tutur tidak menghiraukan secara sengaja (5%) dan secara tidak sengaja (45%).

Pada Bab VI, penulis menampilkan kesimpulan bahwa wacana pojok koran memiliki karakteristik tersendiri baik ditinjau dari struktur wacana, kepaduan wacana, ataupun tindak tuturnya. Hasil kajian wacana pojok koran ini diharapkan dapat digunakan pada pengajaran Tata Wacana Bahasa Indonesia sebagai bahan pengayaan, dan dapat dimanfaatkan oleh mahasiswa, pembina atau pengembang bahasa, dan para redaktur media massa terutama koran.

Mahasiswa, terutama yang mengambil jurusan pendidikan bahasa ataupun jurusan komunikasi, dapat memanfaatkan hasil kajian ini sebagai referensi dalam rangka meningkatkan kemampuan mereka dalam mengkaji wacana. Sementara bagi pembina dan pengembang bahasa, hasil kajian ini dapat dijadikan bahan pertimbangan dalam upaya pengayaan karakteristik wacana bahasa Indonesia. Terakhir, bagi redaktur koran, hasil kajian ini dapat dimanfaatkan setidaknya sebagai sarana pembantu dalam mensosialisasikan bagaimana eksistensi rubrik pojok di sebuah koran, sekaligus untuk mengatasi kesulitan pembaca dalam memahami isi wacana rubrik koran. (shn)

Yuk bagikan berita ini...

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.