Simpan Shabu dan Ekstasi, Bapak dan Anak Disidang

Sidang bapak dan anak asal Muaraenim yang kedapatan menyimpan shabu dan ekstasi.

Palembang, Sumselupdate.com – Bapak dan anak yang berasal dari Kabupaten Muaraenim ini terpaksa harus berhadapan dengan hukum, lantaran diduga menyimpan  Narkotika jenis shabu dan ekstasi seberat 2 kilogram.

Identitas dua terdakwa tersebut yakni Sapudin dan anaknya bernama Asmara, yang tinggal di Desa Berugo, Kecamatan Belimbing, Kabupaten Muaraenim.

Bacaan Lainnya

Keduanya telah ditetapkan sebagai terdakwa oleh Majelis Hakim dan menjalankan sidang perdananya di ruang sidang Pengadilan Negeri Klas 1 A Khusus siang ini  Kamis (21/1/2021).

Sidang yang dipimpin oleh Ketua Majelis Hakim Syahri Adami ini, beragendekan mendengarkan pembacaan dakwaan oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU) Rini Purnamawati, dan mendengarkan keterangan saksi yang dihadirkan oleh JPU.

Pada saat sidang teleconference berlangsung, JPU menghadirkan tiga orang saksi bernama Renra (anggota Polisi yang sedang bertugas di Badan Narkotika Palembang (BNP), Supari dan Erfan (ASN di BNP).

Dihadapan majelis hakim ketiga saksi tersebut  mengakui melakukan penangkapan terhadap kedua terdakwa pada Oktober 2020 lalu.

Kronologi penangkapan pun bermula dari pihak BNN  mendapat laporan dari masyarakat bahwa kedua terdakwa menyimpan shabu di rumah terdakwa Sapuddin.

Mendengar hal tersebut, pihak bnn pun mendatangi rumah Sapuddin di Desa Berugo Kab Muaraenim dan melakukan penggeledahan.

Saat melakukan penggeledahan ditemukan barang bukti  berupa dua bungkus plastik Teh China  yang berisikan Narkotika jenis shabu dengan berat 1,994 gram dan 243 ekstasi.

Namun saat melakukan penangkapan, Sapuddin mengaku bahwa anaknya Asmara sedang mengantarkan shabu ke Palembang.

Dari perkembangan Sapuddin, pihak BNN Palembang pun langsung melakukan penangkapan pada Asmara di Jalan Ki Moragan Kertapati.

“Kami menangkap Asmara dari perkembangan terdakwa Sapuddin saat melakukanb penangkapan dirumahnya pak hakim,” ucap Supari.

Dari pengakuan kedua terdakwa, awal mula barang tersebut ada di pihaknya lantaran temanya terdakwa Asmara yang bernama Nawar (DPO) ingin menitipkan sabu dan ekstasi di rumah orangtua terdakwa Asmara dengan upah Rp1 juta.

“Dari pengakuan terdakwa dia hanya diminta untuk dititipkan barang Narkotika oleh Nawar (DPO) dengan upah Rp1 juta yang akan diberikan Rio (DPO) pak hakim,” kata saksi Renra.

Mengetahui hal tersebut, terdakwa Asmara pun memberitahu sang ayah terdakwa Sapudddin  dan menyetujui penyimpanan tersebut.

Sehingga akibat perbuatannya kedua terdakwa ini terancam pasal 112 ayat 1 UU No 35 Tahun 2009 tentang narkotika dengan ancaman hukuman maksimal 20 Tahun penjara.

Usai mendengarkan keterangan saksi, majelis hakim pun menunda persidangan hingga  minggu depan dengan agenda mendengarkan keterangan saksi.(Ron)

Yuk bagikan berita ini...

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.