Simpan Shabu 500 Gram, Tiga Terdakwa Bantah Jika Itu  Garam dan Gula Batu

Penasehat hukum terdakwa, Azriyanti SH dan Eka Sulastri, SH.

Palembang, Sumselupdate.com – Tiga terdakwa perkara narkotika jenis shabu mengungkapkan fakta sebenarnya di hadapan majelis hakim dalam sidang dengan agenda pemeriksaan terdakwa di Pengadilan negeri (PN) Palembang Kelas IA, Rabu (7/10/2020).

Umar Basri salah satu terdakwa membantah dakwaan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejati Sumsel, Imam Murtadlo SH, melalui Jaksa pengganti Neny Karmila, SH bahwa barang bukti narkotika seberat 500 gram itu adalah shabu.

Bacaan Lainnya

“Itu bukan shabu pak hakim, tapi itu murni garam dan gula batu Pak,” ungkap Umar di hadapan majelis hakim PN Palembang diketuai Erma Siharti, SHm MH.

Umar menjelaskan, pada mulanya dia ditelepon oleh Robin (diketahui berada di dalam Lapas –red) yang menyuruhnya untuk mencarikan shabu dikarenakan ada yang mau beli sebanyak empat ons.

“Namun saat itu saya katakan barangnya tidak ada, lalu diperintahkan Robin untuk cari garam dan gula batu saja untuk mengelabui pembeli,” kata Umar dalam video virtual.

Dia menambahkan, bahwa dirinya diperintahkan Robin setelah membeli garam dan gula batu itu lalu dibentuk sedemikian rupa menyerupai shabu, kemudian menemui pembeli dan ambil uangnya saja sebanyak Rp350 juta.

“Saat bertemu pembeli yang ternyata adalah polisi yang menyamar dengan barang bukti itu, saya dibawa dan dipaksa untuk mengakui bahwa itu sabu,” ungkapnya kepada majelis hakim.

Hal yang sama juga diungkapkan oleh dua terdakwa lainnya bernama Yulianto Saputra dan M Dinurrahman.

Di hadapan hakim bersikukuh mengaku bahwa itu bukan shabu melainkan garam dan gula batu yang dibuat untuk menipu pembeli.

Ditemui usai sidang, Azriyanti SH dan Eka Sulastri, SH penasihat hukum para terdakwa, mengaku merasa sangat berkeberatan dengan dakwaan yang mengatakan bahwa barang bukti itu adalah shabu.

“Jelas ya, kalau menurut kami itu Jaksa keliru dalam menerapkan pasal terhadap klien kami, kalau menurut kami itu masuk ke dalam pidana penipuan karena barang bukti sebagaimana di dalam dakwaan jaksa bukanlah shabu tapi garam dan gula batu,” kata Azriyanti.

Selain itu, saat ditangkap berdasarkan pengakuan para terdakwa juga dipaksa oleh petugas kepolisian untuk mengakui bahwa itu shabu.

“Terbukti, para terdakwa saat sidang melalui virtual tadi termasuk berani mengatakan fakta itu, padahal mereka lagi bersidang dari Lapas Polda yang menangkap mereka,” harap sembari berharap agar majelis hakim dapat mempertimbangkan fakta-fakta itu. (ron)

Yuk bagikan berita ini...

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.