Gelombang Panas Ekstrem Kembali Landa Eropa, Kebakaran Hutan Meluas hingga Sungai Rhine Surut

Writer: - Sabtu, 25 Juli 2026
Sebuah helikopter mengangkut air untuk memadamkan kebakaran hutan di Sentmenat, Barcelona, Spanyol, pada 7 Juli 2026. (Xinhua/Joan Gosa)

Berlin, Sumselupdate.com – Gelombang panas ekstrem kembali melanda sebagian besar wilayah Eropa. Suhu udara yang terus meningkat tidak hanya memecahkan rekor di sejumlah negara, tetapi juga memicu kebakaran hutan, badai dahsyat, hingga penurunan drastis permukaan sungai yang mengganggu aktivitas pelayaran, industri, dan pertanian.

Kondisi cuaca panas berkepanjangan yang disertai minimnya curah hujan selama beberapa pekan membuat para ahli meteorologi memperingatkan kemungkinan datangnya gelombang panas susulan pada akhir Juli hingga awal Agustus.

Read More

Fenomena panas ekstrem kali ini meluas hingga kawasan Eropa Utara. Norwegia, yang umumnya beriklim sejuk, mengalami suhu tinggi sejak pertengahan Juli. Sebanyak 40 stasiun cuaca di negara itu telah memenuhi kriteria resmi gelombang panas, sementara 10 stasiun lainnya mencatat rekor suhu tertinggi.

Bahkan, suhu di atas 30 derajat Celsius untuk pertama kalinya tercatat di wilayah dengan ketinggian lebih dari 800 meter di atas permukaan laut.

Di Eropa Selatan, kondisi cuaca jauh lebih ekstrem. Yunani mencatat suhu lebih dari 43 derajat Celsius, sementara hasil pencitraan termal di Athena menunjukkan suhu permukaan mencapai hampir 60 derajat Celsius di sejumlah lokasi dan bahkan menyentuh 75 derajat Celsius di Stadion Panathenaic.

Seorang perempuan menggunakan kipas angin portabel untuk menyejukkan diri di Roma, Italia, pada 19 Juli 2026. (Xinhua/Li Jing)

Siprus memperkirakan suhu maksimum mencapai 44 derajat Celsius, sedangkan Spanyol memasuki gelombang panas ketiga sepanjang musim panas tahun ini dengan suhu mencapai 42 derajat Celsius di beberapa wilayah.

Para pakar meteorologi memperkirakan sistem tekanan tinggi yang menyebabkan cuaca panas tersebut akan meluas ke Jerman bagian barat, sehingga suhu berpotensi mencapai 35 derajat Celsius atau lebih dan meningkatkan kemungkinan terjadinya “malam tropis”, yakni kondisi ketika suhu malam hari tetap berada di atas 20 derajat Celsius.

Model prakiraan cuaca juga menunjukkan gelombang panas ekstrem berikutnya berpotensi terjadi pada akhir Juli hingga awal Agustus dengan suhu mendekati 40 derajat Celsius di sebagian kawasan Eropa Tengah.

Kebakaran Hutan dan Badai Meningkat

Cuaca panas yang berkepanjangan memperbesar risiko kebakaran hutan di berbagai negara.

Di Spanyol, kebakaran hutan La Mierla di Guadalajara telah menghanguskan lebih dari 35.000 hektare lahan dan menjadi kebakaran terbesar kedua di negara tersebut pada abad ini. Kebakaran lain di Toledo, Madrid, Leon, dan Huelva juga memaksa ratusan warga mengungsi.

Data sistem pemantauan kebakaran Uni Eropa, Copernicus, mencatat lebih dari 123.000 hektare lahan di Spanyol terbakar sepanjang tahun ini, atau sekitar empat kali lebih luas dibandingkan periode yang sama pada 2025.

Portugal masih berada dalam status siaga tinggi akibat ancaman kebakaran hutan, sementara Yunani melaporkan sedikitnya 51 kebakaran lahan dan hutan dalam kurun waktu 24 jam.

Sementara itu, suhu tinggi juga memperburuk kondisi di Pegunungan Alpen. Klub Alpin Swiss memperingatkan mencairnya salju dan lapisan tanah beku permanen meningkatkan risiko longsoran batu, terbukanya celah-celah es, serta membuat jalur pendakian menjadi lebih berbahaya.

Di Bosnia dan Herzegovina, gelombang panas diikuti badai supercell yang dipicu pertemuan massa udara panas dan dingin. Badai tersebut membawa angin kencang, hujan es berukuran besar, serta hujan lebat yang merusak lahan pertanian dan infrastruktur.

Sungai Surut, Pelayaran dan Industri Terganggu

Dampak gelombang panas juga terlihat pada sungai-sungai utama di Eropa.

Permukaan Sungai Danube dan Sungai Drava di Kroasia turun hingga titik terendah dalam sejarah pencatatan. Kondisi itu bahkan menyingkap bangkai kapal dan peninggalan perang yang selama puluhan tahun berada di dasar sungai.

Di Jerman, rendahnya permukaan Sungai Rhine menghambat aktivitas transportasi barang. Pada titik ukur Kaub, kapal-kapal kargo hanya dapat beroperasi dengan sekitar sepertiga kapasitas normal sehingga biaya pengangkutan meningkat dan berpotensi berdampak pada harga barang.

Belanda juga menaikkan status krisis air menjadi “kelangkaan air aktual”. Pemerintah setempat memperingatkan bahwa berkurangnya debit sungai mulai memengaruhi transportasi perairan, aktivitas industri, dan sektor pertanian.

Selain itu, rendahnya permukaan air memperburuk kualitas air, mempercepat proses salinisasi, memicu kematian ikan di sejumlah wilayah, serta meningkatkan pertumbuhan alga.

Para ahli cuaca mengingatkan bahwa jika kondisi panas dan kekeringan terus berlanjut, risiko kebakaran hutan, gangguan pasokan air, serta dampak terhadap aktivitas ekonomi di berbagai negara Eropa diperkirakan akan semakin besar.

(**)

Bantu Kami untuk Berkembang

Mari kita tumbuh bersama! Donasi Anda membantu kami menghadirkan konten yang lebih baik dan berkelanjutan. Scan QRIS untuk berdonasi sekarang!


Related posts