Canberra, Sumselupdate.com – Gelombang panas laut atau marine heatwaves kini tidak hanya mengancam ekosistem laut dan hasil tangkapan nelayan. Fenomena yang semakin sering terjadi akibat pemanasan iklim tersebut juga mulai dipandang sebagai ancaman serius terhadap kesehatan manusia.
Peringatan itu disampaikan dalam penelitian terbaru yang melibatkan peneliti dari Universitas Adelaide, Australia, dan Universitas Hong Kong, China. Para peneliti menyerukan agar gelombang panas laut mulai diperlakukan sebagai persoalan kesehatan masyarakat yang serius.
Dalam pernyataan Universitas Adelaide pada Selasa (11/8/2026), tim peneliti menyebut dampak gelombang panas laut terhadap manusia selama ini relatif kurang mendapat perhatian. Padahal, bukti ilmiah menunjukkan fenomena tersebut dapat menimbulkan konsekuensi yang jauh lebih luas.
Studi yang diterbitkan dalam jurnal Nature Sustainability itu menjelaskan, periode berkepanjangan dengan suhu laut yang sangat tinggi dapat memicu rangkaian dampak terhadap kehidupan manusia.
Dampak tersebut antara lain memperparah cuaca ekstrem, mengganggu pasokan makanan laut hingga meningkatkan tekanan terhadap kesehatan mental masyarakat yang tinggal di kawasan pesisir.
Para peneliti mencatat gelombang panas laut semakin sering terjadi, berlangsung lebih lama dan memiliki intensitas yang semakin tinggi seiring dengan perubahan iklim.
Fenomena tersebut sebelumnya telah dikaitkan dengan kematian massal biota laut, pemutihan terumbu karang, ledakan pertumbuhan alga berbahaya hingga terganggunya sektor perikanan dan akuakultur.
Penulis utama studi, Laura Falkenberg dari Universitas Adelaide, mengatakan perhatian terhadap dampak gelombang panas laut selama ini lebih banyak tertuju pada kerusakan lingkungan dibandingkan konsekuensinya terhadap manusia.
“Secara umum, dampak gelombang panas laut terhadap manusia mendapat perhatian yang jauh lebih sedikit dibandingkan dampaknya terhadap lingkungan,” kata Falkenberg.
Menurut penelitian tersebut, suhu laut yang ekstrem dapat berkontribusi terhadap terbentuknya sistem cuaca yang lebih intens. Kondisi itu berpotensi meningkatkan risiko yang ditimbulkan badai dan banjir terhadap masyarakat.
Ancaman lainnya datang dari pertumbuhan alga berbahaya yang dapat mencemari makanan laut. Jika masuk ke rantai makanan, kontaminasi tersebut berpotensi menimbulkan risiko kesehatan serius bagi manusia.
Di sisi lain, berkurangnya stok ikan dan produksi makanan laut juga dapat berdampak langsung terhadap ketahanan pangan. Kondisi ini menjadi perhatian khusus mengingat miliaran orang di berbagai belahan dunia bergantung pada sumber daya laut sebagai bagian dari kebutuhan pangan dan mata pencaharian.
Dampak gelombang panas laut tidak berhenti pada aspek fisik dan ekonomi. Penelitian tersebut juga menyoroti konsekuensi psikologis yang dapat dialami masyarakat pesisir.
Kecemasan, kesedihan dan berbagai persoalan kesehatan mental lainnya berpotensi meningkat pada komunitas yang kehidupannya sangat bergantung pada laut.
Bagi masyarakat pesisir, laut bukan sekadar sumber penghasilan, tetapi juga berkaitan erat dengan identitas budaya dan kehidupan sosial. Ketika perubahan kondisi laut mengancam mata pencaharian serta lingkungan tempat mereka hidup, tekanan psikologis pun dapat semakin besar.
Para peneliti menilai meningkatnya frekuensi dan intensitas gelombang panas laut menjadi alasan kuat bagi pemerintah dan pemangku kepentingan untuk memasukkan fenomena tersebut ke dalam agenda kesehatan masyarakat.
Dengan perubahan iklim yang terus berlangsung, gelombang panas laut diperkirakan menjadi persoalan yang semakin penting, bukan hanya bagi kelestarian ekosistem laut, tetapi juga bagi kesehatan, ketahanan pangan dan kesejahteraan masyarakat di wilayah pesisir.
(**)











