Menjaga Kata
jagalah kata
sebab kata adalah mahkota
karena kata
kau bisa dipuja
karena kata
kau pun terhina
rawatlah kata
sebab kata adalah senjata
yang jika salah guna
terlukalah hati sesama
dengan perih tiada tara
yang sembuhnya begitu lama
kata tak ubahnya jimat
terpendam
jangan gunakan kata jika baik
tak bersemayam
bahkan karena itu
lebih baik diam
Palembang, 4 Januari 2017
Jempolmu Harimaumu
ingat pepatah kuno
‘mulutmu harimaumu’
begitulah tutur nenek moyang
yang hanya bisa berbahasa lisan
meski kuno
ia tetap bawa kebenaran
siapa pun terselamatkan bila memeragakan
kini di tengah maju peradaban
pepatah itu masih cocok didengarkan
meski separoh katanya dimodifkan
dari ‘mulutmu harimaumu’
jadi ‘jempolmu harimaumu’
seperti mulut
di jaman keemasannya
jempol pun mesti dijaga
di tengah kelincahannya menari di papan gadget
yang terlambung di era digital dan media sosial
huruf, kata, dan kalimat yang terlahir
dari pencetannya
jangan sampai liar
menyakiti
jangan sampai bohong
menaburi
sebab semua anggota badan tak lepas
pertanggung jawaban
dan jempol pun
tak luput dari perhitungan
Palembang, 8 Januari 2017
Resep Jitu
kala kabar benar-bohong
berseliweran
pertajamlah cernaan
kala parade citra
membahana
janganlah mudah terlena
kala perang kuasa
menghantui
peganglah nurani
kala gundah kelana
berkelibat
tegakkanlah dizikir dan shalat
kala nafsu dunia
merajai
ingatlah mati
itulah resep jitu
dari seorang ayah-ibu
yang mendamba
anaknya selamat selalu
dari kilau dunia
yang menipu
Palembang, 8 Januari 2017
*) Puisi ini dikutip dari buku antologi puisi “Kehilangan Paras” (2017) karya Solehun











