Pezeshkian Tegaskan Iran Tak Akan Menyerah kepada AS: Negosiasi Bukan Tanda Kekalahan

Writer: - Jumat, 21 Agustus 2026
Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyampaikan pidato dalam peringatan 47 tahun Revolusi Islam 1979 di Teheran, Iran, pada 11 Februari 2026. (Xinhua/Shadati)

Teheran, Sumselupdate.com – Presiden Iran Masoud Pezeshkian menegaskan bahwa langkah Teheran untuk bernegosiasi dengan Amerika Serikat (AS) tidak dapat diartikan sebagai bentuk penyerahan diri.

Pezeshkian mengatakan Iran tetap akan mempertahankan integritas teritorial dan kepentingan nasionalnya di tengah meningkatnya ketegangan dengan Washington.

Read More

Pernyataan itu disampaikan Pezeshkian dalam sebuah konferensi di Teheran, Rabu (19/8/2026). Pernyataan tersebut kemudian dipublikasikan melalui situs resmi Kantor Kepresidenan Iran.

Menurut Pezeshkian, Iran akan menjalankan proses negosiasi secara bertahap dengan tetap mengedepankan kekuatan, kebijaksanaan, martabat, dan kepentingan nasional.

“Dalam proses negosiasi, kami bergerak maju selangkah demi selangkah dengan kekuatan penuh sembari mempertahankan kebijaksanaan, martabat dan kemaslahatan,” kata Pezeshkian.

Ia menegaskan, pembicaraan dengan AS memiliki sejumlah tujuan utama. Iran ingin mengakhiri perang, menghentikan blokade laut yang diberlakukan terhadap negaranya, serta membuka kembali akses terhadap aset-aset negara yang saat ini dibekukan.

Setelah sejumlah persoalan tersebut diselesaikan, Iran baru akan melanjutkan pembahasan mengenai isu nuklir.

“Tujuan kami adalah mengakhiri perang, mencabut blokade (angkatan laut anti-Iran), membebaskan aset negara yang dibekukan, dan kemudian mengadakan pembicaraan nuklir,” ujarnya.

Ketegangan Iran-AS Kembali Meningkat

Pernyataan Pezeshkian muncul ketika hubungan Iran dan AS kembali berada dalam situasi yang tegang.

Presiden AS Donald Trump dilaporkan telah memerintahkan sejumlah utusan senior pemerintahannya untuk menghentikan pembicaraan dengan Iran pada Selasa (18/8).

Informasi tersebut dilaporkan sejumlah media AS dengan mengutip keterangan seorang pejabat pemerintah AS.

Sehari setelah laporan tersebut mencuat, Trump juga mengumumkan apa yang disebutnya sebagai “operasi ekonomi yang menghancurkan” terhadap Iran.

Pernyataan Trump tersebut disampaikan hanya beberapa jam setelah ia mengatakan situasi dengan Iran berada dalam kondisi “sangat baik”.

Perubahan sikap Washington tersebut menambah ketidakpastian mengenai masa depan proses diplomasi antara kedua negara.

Kesepakatan Penghentian Perang

Sebelumnya, Teheran dan Washington menandatangani nota kesepahaman atau Memorandum of Understanding (MoU) pada 18 Juni 2026 yang memuat kesepakatan mengenai penghentian perang di berbagai front.

Dalam kesepakatan tersebut, kedua pihak menjalani periode negosiasi selama 60 hari. Namun, periode tersebut berakhir pada Senin (17/8/2026) tanpa kejelasan mengenai kelanjutan pembicaraan.

Situasi semakin rumit setelah ketegangan antara Iran dan AS kembali meningkat dalam beberapa pekan terakhir.

Di tengah kondisi tersebut, Pezeshkian menegaskan bahwa Iran masih membuka ruang diplomasi, tetapi negosiasi harus dilakukan dengan tetap menjaga kepentingan dan kedaulatan negara.

Sikap tersebut menunjukkan bahwa Teheran berupaya mempertahankan jalur diplomasi sekaligus menolak anggapan bahwa dialog dengan Washington merupakan tanda Iran berada dalam posisi menyerah.

(**)

Bantu Kami untuk Berkembang

Mari kita tumbuh bersama! Donasi Anda membantu kami menghadirkan konten yang lebih baik dan berkelanjutan. Scan QRIS untuk berdonasi sekarang!


Related posts