Sanaa, Sumselupdate.com — Serangkaian ledakan keras mengguncang ibu kota Yaman, Sanaa, yang dikuasai kelompok Houthi, pada Sabtu (3/10) malam waktu setempat.
Ledakan tersebut terjadi setelah stasiun televisi Al-Masirah yang dikelola Houthi melaporkan adanya serangan udara baru Arab Saudi terhadap sejumlah wilayah di Sanaa.
Seorang warga Sanaa yang berbicara kepada Xinhua dengan syarat anonim mengatakan suara pesawat tempur terdengar sebelum ledakan menggema di sejumlah penjuru ibu kota.
Menurutnya, kekuatan ledakan membuat kaca jendela rumah bergetar dan bangunan ikut berguncang.
“Ledakan-ledakan itu sangat dahsyat hingga tanah di bawah kami terasa bergetar. Rasanya seperti gempa bumi. Kaca jendela kami bergetar dan anak-anak terbangun dalam ketakutan,” kata warga tersebut.
Warga setempat menduga serangan udara itu menyasar posisi kelompok Houthi. Namun, belum ada laporan awal mengenai korban jiwa maupun tingkat kerusakan akibat ledakan tersebut.
Sebelumnya pada Sabtu, kelompok Houthi mengklaim telah meluncurkan rudal balistik dan drone ke fasilitas perusahaan energi Aramco di Riyadh, Arab Saudi.
Houthi menyebut serangan tersebut sebagai aksi balasan terhadap peningkatan serangan udara Arab Saudi di wilayah Yaman.
Juru bicara militer Houthi, Yahya Sarea, mengatakan sekitar 60 serangan udara dan rudal telah menghantam Yaman dalam 24 jam terakhir.
Ketegangan antara Houthi dan Arab Saudi meningkat sejak kelompok tersebut mengumumkan embargo maritim terhadap Arab Saudi pada 20 Juli.
Setelah pengumuman tersebut, konflik berkembang dengan meningkatnya serangan rudal lintas perbatasan, serangan drone, serta serangan udara.
Situasi semakin memanas pada September ketika pertempuran antara Houthi dan pasukan pemerintah Yaman meningkat. Pasukan pemerintah Yaman sebagian besar mendapat dukungan dari Arab Saudi.
Kelompok Houthi kemudian mengklaim berhasil merebut kota pelabuhan Mocha di Laut Merah pada 10 September. Sehari kemudian, kelompok tersebut juga dilaporkan merebut Pulau Mayyun yang memiliki posisi strategis di kawasan tersebut.
Konflik Yaman telah berlangsung selama lebih dari satu dekade. Krisis bermula pada akhir 2014 ketika Houthi merebut Sanaa dan sebagian besar wilayah Yaman utara.
Perkembangan tersebut kemudian mendorong intervensi koalisi militer yang dipimpin Arab Saudi pada Maret 2015 untuk mendukung pemerintahan Yaman yang diakui secara internasional.
Eskalasi terbaru kembali meningkatkan kekhawatiran terhadap kondisi keamanan Yaman serta stabilitas kawasan Laut Merah dan jalur pelayaran strategis di sekitarnya.
(**)







