Teheran, Sumselupdate.com — Panglima Tertinggi Angkatan Darat Iran Amir Hatami mengatakan perang yang dilancarkan Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Iran belum berakhir.
Hatami memperingatkan bahwa angkatan bersenjata Iran masih siap memberikan respons militer berikutnya terhadap pihak yang disebutnya sebagai musuh.
“Perang belum berakhir. Meskipun musuh yang agresif telah mengalami pukulan berat, mereka harus tetap siap menerima pukulan dahsyat berikutnya dari angkatan bersenjata Iran,” kata Hatami dalam sebuah festival nasional di Teheran pada Minggu (27/9), seperti dikutip kantor berita semiresmi Iran, Tasnim.
Dalam kesempatan tersebut, Hatami juga meminta negara-negara di kawasan untuk menyadari bahwa kerja sama dengan AS tidak menjamin keamanan mereka.
Menurut dia, keamanan kawasan seharusnya dibangun dan dijaga oleh negara-negara di kawasan itu sendiri.
Di sisi lain, Otoritas Selat Teluk Persia (Persian Gulf Strait Authority/PGSA), lembaga Iran yang menangani lalu lintas maritim di Selat Hormuz, mengeluarkan peringatan kepada para pemilik kapal terkait penggunaan rute pelayaran di jalur strategis tersebut.
Dalam unggahan melalui akun resminya di platform X pada Minggu pagi waktu setempat, PGSA menyebut telah menerima laporan mengenai sejumlah penyewa kapal yang diduga memaksa kapal menggunakan rute yang disebutnya ilegal.
PGSA memperingatkan tindakan tersebut dapat menimbulkan risiko finansial maupun keselamatan bagi kapal, pemilik, nakhoda, dan awak kapal, serta berpotensi membatasi aktivitas pelayaran kapal di Selat Hormuz pada masa mendatang.
“Para pemilik kapal harus waspada terhadap tindakan ilegal semacam itu yang dilakukan oleh beberapa penyewa,” kata PGSA.
PGSA juga menyatakan bahwa apabila pelanggaran tersebut terbukti, pihak penyewa dapat dimasukkan ke dalam Daftar Ketidakpatuhan dan seluruh pelayaran kapal yang mereka operasikan melalui Selat Hormuz dapat dikenai pembatasan.
Sebelumnya, pada 28 Februari, Israel dan AS melancarkan serangan gabungan terhadap Teheran dan sejumlah kota lain di Iran. Iran kemudian merespons dengan serangkaian serangan rudal dan drone yang menyasar Israel serta pangkalan dan aset Israel dan AS di kawasan tersebut.
Ketegangan juga berdampak pada aktivitas pelayaran di Selat Hormuz, salah satu jalur strategis bagi lalu lintas energi dunia.
Pada 18 Juni, AS dan Iran menandatangani nota kesepahaman (MoU) mengenai pengakhiran perang di kawasan tersebut. Berdasarkan MoU itu, kedua negara dijadwalkan menggelar perundingan selama 60 hari untuk mencapai kesepakatan akhir.
Namun, batas waktu tersebut berakhir pada 17 Agustus tanpa kejelasan mengenai kelanjutan perundingan, sementara ketegangan antara kedua negara kembali meningkat.
(**)







